
Sudah hampir satu tahun Kak Nando tak pernah datang pada kami,hanya uang belanja yang selalu dia transfer setiap bulannya.Itupun ku tahu dari aku mengecek m bankingku.Rekening kerja dan rekening belanja dari suamiku memang ku sendirikan.Walo uang belanja yang di kirim suamiku lebih besar dari sebelumnya,namun itu tak membuat ku bahagia.Hanya chat chat pertengkaran yang membuat aku kian malas komunikasi dengan nya.Karena ujung ujungnya hanya penghinaan yang aku dapat.Aku tetap mencoba tegar dan pasrah pada kehendak Tuhan.Semangatku untuk terus maju hanya karena jagoan kecilku."Aku harus bisa sukses dan bangkit untuk Revalno".semangatku pada diriku sendiri.Rumah lebih rame karena ma2 atau difa n tania terkadang menginap untuk menghiburku.Awalnya aku tak mau bercerita tentang masalah rumah tanggaku,namun insting seorang ibu yang membuat aku akhirnya jujur pada ma2.Karena ma2 yang mendesak dan bertanya terus.
__ADS_1
Hari ini Revalno libur panjang sekolah sebelum kenaikan tingkat.Aku berencana untuk mengajaknya pulang ke pulau seberang karena aku harus mengecek toko toko disana."Valno liburan ini kamu ikut bunda ndak?".tanyaku ketika kami sedang duduk duduk santai sambil nonton tv sore hari.Di sini ada Weni yang tengah hamil besar,sedang main ke rumah."memangnya kita mau kemana bunda?".tanyanya."Bunda mau pulang ke pulau seberang karena ada pekerjaan".ungkapku yang langsung mendapat wajah cemberut putraku."Tqpi Revalno tidak mau menetap di sana bunda,Valno mau di sini sama ayah!".rajuknya."Bunda ke sana cuma ada kerjaan sayang,bukan kita kembali ke sana".jawabku yang membuat wajah Revalno tidak murung lagi."janji kan bunda kita cuma liburan ke sana?".tanyanya seakan takut aku membohonginya.Hatiku hancur dan ternyuh,walau selama hampir satu tahun ini ayahnya tak jua menemuinya,tapi putraku tetap setia menunggu ayahnya.Ku belai rambutnya dengan mataku yang berkaca kaca.'Anak sekecil ini kenapa harus kau kecewakan kak,mengapa tak cukup hanya aku saja yang kau sakiti?'monologku pada hatiku sendiri.
__ADS_1
Rasa lelah membuatku langsung tertidur ketika kami sampai di rumah kami.Perjalanan jauh yang melelahkan.Badan terasa capek dan lelah.Aku terlelap dan bangun bangun ketika matahari menyilaukan mataku di balik tirai tirai di kamar ku."tok......tok....tok,kak anye". suara ketukan di pintu."Ya dek masuk,ndak mbak kunci".teriakku dari dalam kamar.Tania masuk dengan wajah dan tampilan yang sudah fresh dan rapi."kakak belum mandi?".tanyanya."badan kakak kayak cuapek dek,hari ini kita memanjakan diri dulu dek sama sekalian menghibur Valno".ajakan ku yang di angguki Tania adik bungsuku."Ya kak tania kasihan sama Valno,kenapa kak Nando seperti ini kak,apa dia tak mikir gimana valno,apa dia ga kangen sama anak kandungnya dan darah dagingnya!".ujar Tania mengungkapkan kekesalannya pada kak Nando."ma2 sering kulihat menangis kak,katanya kasihan sama valno".ucapnya dengan air mata menetes di pipinya.Aku berusaha untuk tegar."dek,kakak juga nggak mau semua membuat Valno terluka,Untuk itu mbak ajak dia ke sini bertemu dengan teman temannya di sini,walau kakak tau itu tetap tak akan membuat rasa rindunya berkurang.Tapi setidaknya dia tak bertanya tanya tetang ayahnya yang satu kota dengannya tapi tak pernah ada untuknya".ujarku panjang lebar."udah kamu jangan nangis pagi pagi,kakak mau mandi dulu.trus kita bersiap jalan jalan.ajak Valno dan suster berni juga".aku berkata sambil bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.Tania juga berlalu keluar kamar.Di dalam kamar mandi aku tumpahkan tangisanku,aku tak mau tania kian sedih jika aku menangis di depannya.
__ADS_1