
"tok tok tok......anye".suara tante marta membangunkan ku."nye kita makan malam dulu".panggil tante marta lagi dari luar kamar."sebentar tante".jawabku kemudian bangun dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Selesai mandi dan ganti baju aku turun menuju meja makan yang sudah terhidang beragam masakan.sudah ada ayah,sandi,tante marta dan gio.Aku sempat tertegun melihat gio yang hanya mengenakan kaos santai dan celana pendek warna krem yang membuat dia terlihat benar benar keren.Aku sempat terpesona namun langsung ku tundukkan pandanganku karena malu."nye ayo makan".ajak ayah.Kami pun semua makan dengan sedikit perbincangan."yah anye habis ni langsung pulang ke hotel ya,besok pagi pagi anye harus mengurus kerjaan juga".pamit ku pada ayah setelah selesai makan."ya nye,kamu pulang bareng saya saja nye".tawar gio."ya nye biar sekalian jalan dan jadi ada yang jaga kamu".jawab ayah.aku pun akhirnya menyetujuinya.Aku dan Gio masuk ke mobil Gio dan melaju meninggalkan rumah ayah.Sepanjang jalan hening aku pun tertidur dengan nyenyak karena pengaruh obat pereda nyeri yang ku minum setelah makan malam tadi."anyelir.....anyelir.....".sosok di sebelahku membangunkan ku."maaf kak gio saya tertidur".ucapku malu malu."ayo,sudah sampai,benar ini kan hotelnya?".tanya gio padaku.Aku pun menjawab dengan anggukan.Kami berjalan bersama masuk ke hotel."selamat malam tuan".sapa resepsionis cantik yang menyapa kami ramah."mbak saya yang reservasi atas nama anyelir"."o ibu anyelir yang pesan 2 kamar 1 presiden swit dan 1 deluxe ya bu?".tanya resepsionis pada kami."tolong yang deluxe di ganti president swit juga ya mbak".potong gio."ini untuk pembayarannya".gio menyerahkan kartu hitam tanpa limit kepada resepsionis."jangan tuan biar saya selesaikan pembayaran saya sendiri".tolak ku."biar saya saja anyelir,ini sebagai permintaan maaf saya dan rasa terimakasih saya sudah kamu ijinkan merasakan kehangatan keluarga kamu".jawabnya sambil menatapku lekat.Aku menunduk karena merasa risih di tatap pria seperti itu."ya sudah kalau gitu,makasih banyak".jawab ku akhirnya karena malas berlama lama bersama gio.Setelah resepsionis memberikan kunci kami masuk lift menuju kamar di lantai 7."anyelir maaf ya kalau jadi buat kamu gak nyaman".ujar gio yang membuat aku jadi merasa bersalah sudah jutek sama dia.Aku pun tersenyum dan mengangguk.""gubrak......".Tiba tiba lift mati di lantai 3,aku yang tak siap terhuyung dan untung tangan kekar itu sigap menangkap ku."jeduk......jeduk.......jeduk!!". jantungku berdebar tak karuan ketika aku berada di pelukannya.'Mengapa ini,rasa apa ini'.ujar hatiku.Kami saling diam dan aku bisa menatap iris mata gio yang coklat dan indah.terasa sejuk dan damai dalam mata nya.Aku menggeleng ketika tersadar dari tadi aku memandangi gio.dengan malu malu aku pun bangkit dan lepas dari pelukan gio."maaf".ujar ku kikuk."tidak apa apa anyelir,saya malah beruntung".jawab nya lirih."mengapa tiba tiba mati?".ujar ku sedikit takut.Rasa cemas terjebak dalam lift seperti ini.gio memencet tombol di dinding lift untuk pemberitahuan keadaan darurat lift mati.Setelah itu dia datang menghampiriku yang panik.Di raihnya tanganku di genggamnya."semua akan baik baik saja,ada saya di sampingmu".ucapnya yang membuat aku terpengarah.Ya kata kata ini yang selalu aku ingin dengar dari suamiku.Tapi tak pernah sekalipun kak Nando bicara seperti itu padaku.Sentuhan tangan gio menghangatkan hatiku membuat aku sedikit lupa bahwa kami terjebak di dalam lift yang mati.Namun tak lama lift sudah beroperasi lagi.Kami pun sampai di lantai 7."mohon maaf atas ketidak nyamanan nya tuan nona".sambut seorang pria muda di depan pintu lift lantai 7.aku pun mengangguk."tolong segera kamu cari teknisi jika perlu segera ganti lift dengan yang baru".perintah gio dengan wajah dinginya.Ternyata secepat itu perubahan wajahnya di hadapan orang."baik tuan,saya minta maaf".jawabnya sambil membungkukkan badannya hormat."sudah lah gio,kasihan dia".ujar yang tanpa sadar mengelus lengan gio untuk meredakan amarahnya.Aku pun segera mencoba merenggangkan tanganku karena malu.Namun gio menarik tangan ku yang satu yang sedari tadi tak kusadari masih ada di genggamannya."Ya sudah kamu kerja lagi".perintahnya.Ketika pria yang ternyata manajer di hotel itu pergi aku buru buru mencoba berontak untuk melepaskan tanganku dalam genggaman gio."maaf gio".kataku sambil mencoba menarik tangan ini.Namun bukan melepas gio malah mengeratkan genggamannya.dengan tangan satunya mengelus punggung tanganku yang ada dalam genggamannya."lepasin gio!".aku mulai emosi dengan sikapnya.Gio tak peduli malah mengajakku melangkah menuju kamar.Aku terus berontak meminta dia melepas tanganku.Hingga kami sampai di depan kamar bertuliskan 738 dia membukakan pintu dan membawaku masuk dengan paksa.Aku terus berontak dan memaki gio.Namun kekuatan wanita tak bisa melawan gio yang notabene nya pria blasteran dengan tinggi 185 dan badan atletis.Aku hampir terjatuh karena melangkah dengan emosi dan terhuyung di pelukan gio.dia menangkap tubuhku dalam pelukannya.Kami lama saling terpaku dan menatap.hingga wajah gio mendekat dan ******* bibirku.Aku sempat kaget dan berontak.namun ciumannya hanyut dan tidak menuntut.membuat aku terhanyut dan menikmatinya.Lama,namun aku tersadar dan ku dorong tubuh gio menjauh.Kami sama sama terengah kehabisan oksigen.Gio mengelus kepalaku yang berhijab warna pasta."selamat malam bidadari ku,semoga mimpi indah".Ujar nya kemudian berjalan menuju pintu dan keluar setelah pintu tertutup aku mengutuk diriku yang terhanyut dalam permainan gio."Mengapa aku murahan gini,dasar gio mesum gio gila gio maniak".teriakku sendiri dalam kamar."kenapa anye?".tanya suara itu yang tiba tiba ada lagi di kamar."kenapa kamu ke sini lagi?".bentak ku karena malu ketahuan memakinya.Dia tersenyum dan mengambil satu kartu lain di sebelah kartu kunci ku."kunci kamarku tertinggal,bersama hatiku di sini".godanya dengan gombalan nya.Aku melengos sambil menghela nafas panjang."kamu makin cantik jika marah begitu".ucapnya sambil mencium keningku membuat aku terperanjat kaget."sholat isya dulu sebelum tidur sayang".ujarnya lalu berlalu meninggalkanku yang masih marah dan terkejut."sayang sayang pala loe peyang.emang aku eyang mu apa".gerutu ku ketika dia sudah pergi.