
Pagi ini gio benar benar menjengkelkan.mengaku ngaku sebagai suamiku kepada para medis.Membuat aku jengkel dan jengah.Sebetulnya pagi tadi aku sempat tersentuh dengan kebaikan dan perhatiannya.dia semalaman tidur di kursi sofa samping tempat tidurku.dengan tangan menggenggam tanganku.Aku panik dan mencoba melepas genggaman tangannya.Namun gerakan ku membangunkan tidur nyenyaknya.Dia membantuku menyiapkan baju ganti ku karena dokter bilang siang ini aku sudah boleh pulang.Semua biaya rumah sakit pun telah di selesaikan,semua keperluanku sudah tersedia.Aku seperti di manjakan.Namun aku takut semua hanya sesaat seperti kak Nando dulu,mencintai ku dengan menggebu namun setelah itu dy mencampakanku.Aku tak mau semua terjadi lagi.Rasa sakit dan trauma itu masih terasa.Bahkan aku takut untuk membuka hatiku.Aku saat ini hanya pasrah pada tuhan.Kemana dia akan membawa hatiku berlabuh kelak.
"Semua sudah beres,saya bantu untuk duduk di kursi".gio memberi intrupsi.saat ini aku sudah akan pulang ke rumah.Tiba tiba gio menggendongku dan membiarkan willy asistennya membawa kursi roda dan perlengkapan ku."gio aku naik kursi roda saja,turun".kataku karena malu semua mata melihat ku di gendong oleh gio menuju mobil.Gio diam saja seperti tak mendengar protesku.terus berjalan sambil menggendongku ke lobby rumah sakit.kemudian mendudukkan ku di mobil nya yang sudah menunggu.Willy di bantu seorang bodyguard membawa barang dan kursi roda menyusul di mobil belakang.Mobil pun melaju memecah jalanan yogyakarta yang sedang padat.Tak bersuara.Gio masih tetap meletakkan ku di atas pangkuannya."gio kita sudah di mobil,bisa turunkan aku?".tanyaku malu."Biar seperti ini,jangan banyak bergerak".katanya yang sejenak mengejutkanku dan membuat aku berhenti bergerak."Makanya biar aku duduk sendiri jangan seperti ini".rajuk ku pada nya.Wajah gio tiba tiba turun ke atas wajahku perlahan nafas panasnya menyapu wajahku,aku terkejut ketika bibir merah itu sudah ******* bibirku tanpa permisi.Aku berusaha berontak namun sia sia.Ciumannya yang dalam dan hangat membuai ku untuk mengikuti dan menikmatinya.Kesadaranku hilang bersama saliva kami yang saling bertukar.Ciuman hangat yang tak menuntut.Gio melepaskan ciuman ketika aku hampir kehabisan oksigen.Aku menunduk dan tersadar malu telah menolak gio tapi tubuhku meresponnya.Benar benar malu di buatnya."manis".katanya singkat.Wajah ku memerah ketika bertemu pandang dengannya."Semakin kamu berontak maka kamu akan menerima hukuman".katanya sambil tersenyum."Gio aku tau kamu mungkin terbiasa di luar,tapi kita saat ini d indonesia,ada adat dan batasan".jelas ku mencoba membuat mengerti gio."maka dari itu biar ku hapus batasan antara kita.ijinkan aku menjagamu hingga kita tutup usia".gombalnya."kamu tuch apa an sich".aku menunduk malu."aku serius nye,aku ingin menikahi dan menghalal kan mu" .lirihnya d telingaku.Aku sedikit terkejut,namun aku juga ragu."jangan takut melangkah,yakinlah pada ketentuan tuhan.kita jalani dan berserah".katanya yang sepertinya tahu kekhawatiran ku."asal Revalno bersedia".jawab ku akhirnya."Benarkah?".godanya yang ku jawab dengan anggukan.dikecupnya keningku hangat"terimakasih memberiku kesempatan".katanya.Kami pun tersenyum.Tak terasa mobil sudah berhenti di depan rumah ku.Gio menggendongku turun.Willy dan satu bodyguard sudah berdiri dengan kursi roda dan perlengkapanku.Dari dalam rumah Tania Revalno dan mama sudah menunggu.Semua memandang gio yang menggendongku turun dari mobil dan menurunkan ku perlahan di kursi roda."Bunda".revalno lalu menghampiriku dan salim padaku dan Gio."gimana kakinya bun?".tanya nya memandang kakiku yang masih di gips."Kata dokter sudah tidak apa apa,hanya tinggal keseleo nya jadi hrs di gips agar tak semakin parah".jawabku dengan senyum.Gio mendorongku masuk ke dalam rumah dengan tersenyum."ngapain senyum senyum".tegur ku lirih sambil mendongak kepadanya."Asslmkm ma".sapa nya sambil salim pada mama.Tania melirikku sambil tersenyum menggoda."terimakasih ya nak gio,sudah menjaga anyelir dengan baik".kata mama sambil melangkah masuk bersama.Kami masuk sampai ruang keluarga.kak gio duduk di ujung kursi bersebelahan dengan kursi rodaku.Aku melihat Revalno terus memandang aku dan gio bergantian.Ada pandangan penuh tanya pada kami.Aku diam dan menunduk belum berani menjawab tatapan mata putraku.Tiba tiba gio berdiri dan merangkul Revalno"kamu tak usah khawatir bunda kamu sudah membaik,om janji akan menjaga dengan baik juga".katanya seperti memberi klu.Revalno mengangguk enggan banyak bertanya hanya menatapku.Biarlah nanti ku jelaskan perlahan padanya."sementara kamar kamu mama pindah di kamar tamu bawah ya nye,biar gak riweh naik turun selama kakimu masih sakit".jelas mama.Aku mengangguk."ma anye ke kamar,mau istirahat".kataku hendak menggerakkan kursi rodaku sendiri.Namun Gio mengambil alih dan hendak mendorong."kita makan dulu nduk,baru istirahat".ajak mama dan kami angguki.Kami semua pun berkumpul di meja makan untuk makan bersama.Setelah makan dan mengantarkan ku ke kamar Gio pun pamit pulang.Meninggalkan tanya besar Revalno dan keluargaku.