
Aku lelah dengan tuduhan semua orang.Aku yang korban sekarang malah menjadi tersangka.Dulu aku di jebak kak Nando dan menikah jadi istri ke 2.Namun gelar pelakor masih saja terus menghantuiku walau aku sudah tak menjadi istrinya.Difa mengelus punggungku mencoba menenangkanku."maaf kak difa tadi gak tau kalau kakak di maki maki,difa tau ketika wanita itu langsung di seret Tuan gio".Difa merasa bersalah karena membiarkan kakaknya di bully orang.Namun semua belum berakhir,aku yang sedang menenangkan diriku sekaligus malu."dasar wanita pengganggu rumah tangga orang,sudah merusak satu sekarang cari mangsa lagi".cibir sinta istri kak Handoko yang berbicara dengan wanita paruh baya sepantaran mamaku."iya sin,kamu harus hati hati sama pelakor,apalagi keluarga suamimu dekat dengan pelakor ini.pakaiannya aja berhijab tapi kelakuannya abnormal.lepas aja to hijab mu biar ga malu maluin agama!".celetuk wanita itu.Aku diam saja dan ta mengomentari ucapan mereka,bagiku cukup orang orang terdekatku saja yang tau dan Tuhan juga maha tahu.Aku kuat kuatkan hatiku hingga acara berakhir banyak mata memandangku menghina.Aku diam dan menunduk.'Ya tuhan kenapa selalu wanita ke 2 yang di salahkan'.rintih ku dalam hati.Difa terus mendampingiku."kakak yang sabar ya kak".bisiknya di telingaku."makasih dek,mungkin ini cobaan dari allah".ujar ku.Selesai acara dan tamu undur diri aku melangkah ke ruang keluarga ingin duduk sejenak melepas lelah.Tiba tiba ada yang mengguyur tubuhku dengan air,dan kebaya yang ku pakai pun basah."wanita pelakor,saya benci lihat wanita sok alim tapi hati busuk!".ujarnya lalu berlalu meninggalkan ku dengan senyum kemenangan.Tanpa ku sadari air mataku mengalir begitu saja.Sosok tangan kekar membalut tubuhku yang basah dengan jas mahalnya.Ku lihat siapa dia."Gio".kataku lirih."tolong jangan dekat dekat denganku,jangan menambah masalah lagi gio,cukup aku sudah lelah".kataku dengan air mata yang terus mengalir.aku melangkah meninggalkannya dan berjalan menuju kamarku.semua keluarga saat ini masih ada di depan pagar jadi tak ada yang tau kejadian ini."maaf kan aku anyelir,andai hilda tak memulai semua tak akan se kacau ini.aku harus mengurus hilda!".ucap gio sambil melihat punggung anyelir yang berjalan menjauhinya.
Aku menumpahkan kesedihanku di bawah sawer kamar mandi.kunyalakan air hangat dengan deras,aku berdiri dengan pakaian yang masih lengkap.Air mengguyur tubuhku dengan air mata yang terus mengalir.aku terduduk menangisi nasibku.Aku memang sukses dalam karir,tapi aku gagal menjadi muslimah yang baik.lingkunganku mencibirku dan menghujat ku."tok......tok......anyelir".suara Kak Nando mengetuk pintu kamarku.Aku tak menyahut karena malas bibir ini berucap."tok......tok.......kak anyelir".kali ini suara tania adik bungsuku."masuk dek gak kakak kunci".seruku dari dalam kamar mandi.Ku dengar langkah hills masuk ke kamar ku."kak".panggilnya.Namun tak lama gagang pintu kamar mandi seperti di buka."kak!".Tania berlari memeluk tubuhku yang basah.menangis ."maafin tania gak bisa jaga kakak tadi!".isak nya sambil memeluk tubuhku."kakak gapapa dek,kamu basah juga lho".kataku.Tania meraih kran air dan mematikan."Kakak jangan putus asa begini,tania ada untuk kakak".tangisnya kian jadi saat melihat aku ternyata menangis dari tadi bi bawah guyuran air kran."Biar orang bicara apa pun,tapi kita keluarga kakak tau sebenarnya dan kita akan selalu sayang dan jaga kakak".tania memelukku."ayo kakak keluar,nanti kakak masuk angin".katanya sambil membimbingku keluar kamar mandi."ya dek kamu ganti juga dulu sana,kakak mau mandi sekalian".jawabku mengusir tania untuk pergi."tapi kak".protesnya."sssstttt ini hari bahagia kamu,nanti kalau di lihat keluarga mario gimana kamu basah basahan".candaku mencoba membuat tania mengerti.Diapun mengangguk dan hendak pergi meninggalkanku di kamar mandi."beneran kakak gapapa tania tinggal ganti baju dulu?".tanya nya khawatir."kakak gapapa,ganti gih kakak mau mau mandi dulu".usirku.Tania pun pergi berlalu keluar kamar mandi.Aku melepas semua pakaian kebayaku dan menggantinya dengan batrobe yang ada di kamar mandi.Lalu melangkah mengambil ganti dan kembali ke kamar mandi untuk mandi.Selesai mandi aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.Berusaha mengusir lelahnya pikiranku.Namun mata ini tak juga terpejam,semua kata kata hinaan itu seperti terngiang di pikiranku.Aku pun menangis kembali.Air mata ini seperti tiada habis habisnya mengalir.Aku tak ingin membela atau menyalahkan.Setidaknya orang lain pandanglah mereka dari sisi aku.Ketika aku harus terpaksa menjadi istri ke 2,ketika semua tak seindah rumah tangga sesungguhnya.Ke 2 bukan seperti penilaian orang.Wanita gatal yang merampas segalanya.Aku bukan bagian dari itu.waktu pun aku tak pernah merebut,harta pun aku tak pernah menuntut.Tapi aku selalu di salahkan.Jangan mengecam orang hanya karena sebagian orang ke 2 berlaku seperti itu lantas semua orang ke 2 di anggap sama.Kami di kucil kan seolah sampah masyarakat.Aku menenggelamkan kepalaku di bawah bantal berusaha untuk dapan terlelap dan melupakan kejadian tadi.Namun mata ini masih belum mau berkompromi.Hingga ku dengar sayup sayup suara merdu bacaan al quran jelang subuh.Aku pun bangun dan bergegas ke kamar mandi.'Mungkin dengan sholat dan mengaji hati ini akan lebih baik'.kataku dalam hati menyemangati.'hanya pada allah aku bisa mengeluarkan isi hatiku,berkeluh kesah dan mengadu'.Setelah sholat ku ambil al quran dan mulai ku lantunkan ayat ayat suci nya.Aku mengaji hingga matahari melirikku dari kisi kisi gorden yang tersingkap.Rupanya hari telah pagi.Ku akhiri bacaan al quran dan kemudian berjalan keluar kamar menuju dapur."non anye,kok sudah bangun".sapa bik minah yang sudah berkutat di dapur."ya bik,habis subuh tadi tak tidur".bohongku."sudah non kembali saja ke kamar,ini sudah tugas bibik".kata bik minah mengusirku dari dapur.ketika aku membantu mencuci sayuran."gapapa bik,lama saya gak berkutat di dapur,rindu bik".kataku sambil tersenyum."hari ini mau masak apa bik?".tanyaku."sayur asem,penyet tempe sama kotokan daging non".jelas bik minah."wah enak itu bik".jawabku karena itu masakan kesukaanku.Walau sederhana tapi segar dan nikmat."untuk bekal revalno biar saya yang siapkan bik".terangku."den valno kan semalam langsung ikut ayahnya non.kan masih libur 1 mnggu lagi.dia mengetuk pintu kamar non tapi sama non difa di larang katanya non sudah tidur".jelas bik minah panjang lebar."oooo ya bik saya habis acara langsung tidur".bohongku lagi.Kami pun kembali berkutat dengan bahan bahan makanan.