
Satu minggu berlalu, alleta benar-benar tidak mendengar kabar dari aditya setelah kejadian itu, sampai saat nya. ia mendapatkan sebuah pesan singkat.
"MAS ADITYA"
"Alleta, aku udah renungin semua kata-kata kamu ke aku, aku juga mulai mengerti kenapa sangat sulit buat kamu bisa balik ke aku, jujur saat kamu ilang, aku udah kaya orang yang hampir kehilangan akal. tapi setelah aku cerna semua isi hati kamu ke aku, aku mulai berfikir, aku ngga bisa ketemu kamu terus, aku mutusin buat urus perusahaan papa di Australia. Aku juga bakal gunain waktu kepergian ku ini juga buat instrospeksi diri aku sendiri supaya aku bisa jadi pribadi yang lebih baik versi ku sendiri. Aku udah ada di pesawat, aku harap kamu bahagia dengan pilihan hidup kamu, begitu pula dengan pilihan hidup aku. selamat tinggal. salam sayang aditya.
Alleta terdiam lemas, "Bukan ini maksud aku mas." gumam alleta yang sudah duduk lemas. air matanya menetes. galau, dan marah. itu perasaannya,
Alleta mencoba menghubunginya, namun no nya sudah tidak aktif. Alleta mencoba menelfon hazzel, namun handphone hazzel pun sama tidak aktif. ia hanya bisa menangis.
2 bulan sudah, aditya benar-benar tidak ada kabar. Alleta sedikit kacau namun ia kembali berfikir "Kenapa aku harus bersikap seperti ini? sebenarnya apa yang kau inginkan alleta?" batinnya.
Seiring berjalannya waktu alleta semakin di sibuk kan dengan banyak nya pekerjaan yang ia kerjakan bersama sendy dan teamnya.. Sendy banyak memberikan link baru untuk alleta. ia pun semakin mencintai pekerjaannya yang menurutnya sangat menyenangkan.
Bulan ketiga, alleta mendapatkan sebuah inventaris sebuah mobil dari kantor nya.
"Bagaimana? kau senang?" tanya sendy sembari memberikan sebuah kunci mobil untuk alleta.
"Mobil?' tanya nya dengan wajah bingung.
"Hmmm, ini untuk mu, kantor memberikannya untuk mu, karena berkat mu perusahaan ini menjadi sangat berkembang."
"Tapi pak, bukan nya menolak, tapi aku .... "
"Kenapa?"
"Aku tidak membutuhkannya." ucap alleta
Sendy mengerutkan dahinya.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak bisa menyetir." jawabnya dengan nada kesal.
"Hahahahah, itu masalah mudah, biar nanti aku ajarkan." ucap sendy
"Serius?" tanya alleta dengan mata berbinar."Huaaaa terimakasihh." ucapnya sambil memeluk kunci mobilnya.
Sendy tersenyum melihat alleta merasa gembira. "Sudah lama aku tidak melihat kau tertawa." batinnya.
Sendy mulai mengajarkan alleta menyetir. Hari-hari mereka terlihat semakin menyenangkan dan mereka pun menjadi semakin dekat.
Alleta pulang ke apartementnya, ia merebahkan tubuhnya di ranjangnya, Tiba-tiba ia teringat semua kebaikan dan dukungan sendy selama ini untuknya, alleta pun tersenyum.
Hari minggu, alleta tengah libur, ia menggunakan waktu liburnya untuk rebahan karena sudah beberapa bulan ini ia cukup sibuk dengan pekerjaannya. sampai sore hari. "Aku sangat bosan, hmmm apa aku coba jalan-jalan dan coba nyetir sendiri yah?" gumamnya. "Yes, aku akan menyetir sendiri" ucap nya bersemangat.
Ting tong ....
Terdengar suara bel dari rumah mario.
"Ah buat apa kesini?, kenapa harus datang di hari minggu?" kalimat pertama yang mario ucapkan begitu melihat sendy yang sudah tersenyum bodoh di hadapannya.
"Gue bosen," ucap sendy yang langsung menerobos masuk.
"Tidur sana dirumah lo, ganggu aja."
Sendy seolah masa bodo dan langsung duduk di sofa mario sambil menyalakan televisi.
"Ah elo" ucap mario dengan wajah frustasi.
"Cuma lo yang bisa gue ganggu, damar lagi anter metta belanja. cuma lo yang bisa gue ganggu, jadi berbaik hatilah" ucapnya dengan nada cuek.
"Cari cewek deh kaya dulu, mereka pasti seneng kalo lo ajak jalan."
"Sembarangan, gue sudah berubah" ucap sendy sambil melempar bantal ke wajah mario.
"Hhahhaha lo masih semangat ngejar alleta?" tanya mario sambil tertawa.
Sendy membuang nafas kasar. "Hufft mario, apa gue udah ga menarik? kenapa susah banget dapetin hati alleta? apa gue udah ga ganteng? atau gue kurang kaya? apa gue harus bilang semua aset yang gue punya sama alleta?" tanya sendy bodoh
"Hahahha lo lagi apa sen? hahhaha lo bilang alleta bukan wanita yang silau harta kan?, udah nyerah aja kalau gak sanggup, cari cewek lain."
"Kalau aja bisa, gue juga heran, kenapa gue bisa kaya gini yah sama cewek?"
"Semuanya tergantung elo, maximalin lagi usaha lo bro, dan jangan ganggu gue, gue masih ngantuk" ucap mario.
Sendy masih diam dan tidak mengubris kata-kata mario.
"Dia lagi apa yah?" batin sendy.
Pucuk dicinta ulam tiba.
Handphone sendy berdering panggilan dari alleta.
"Alleta?" gumamnya sambil tersenyum lebar melihat notifikasi.
"Hallo alleta" sapanya.
"Hiks.. Hikss" Suara isakan tangis dari seberang.
Sendy terperanjat mmendengar tangisan alleta.
__ADS_1
"Kamu kenapa? kenapa nangis?"
"Hiks.. hiks.. pak sendy tolong aku, aku tadi nabrak. aku takut, aku harus gimana? hiks-hiks"
Sendy langsung terperanjat mendengar alleta kecelakaan. "Kamu dimana? aku kesana?" tanya nya dengan nada panik
"Aku di RS xxx "
"Tunggu yah aku kesana,
Tutt .. tuttt ...* sambungan terputus, sendy langsung bergegas pergi.
Sampai di rumah sakit.
Sendy membuka tirai, terlihat suster sedang memperban luka di bagian lengan alleta.
"Kamu ngga apa-apa?" tanya sendy dengan wajah panik sambil memeriksa seluruh tubuh alleta.
Alleta hanya menggelengkan kepala nya. "Sudah selesai, saya tinggal yah?'' ucap suster.
Alleta tersenyum, "Terimakasih suster" ucapnya.
Sendy dengan sigap duduk disamping alleta dan kembali memeriksa luka alleta. "Apalagi yang sakit?" tanya nya cemas. Alleta menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah" ucap sendy lalu memeluk alleta dengan penuh rasa syukur.
Alleta tersenyum saat sendy memeluknya.
"Maaf pak aku ganggu waktu bapak, metta dan kak damar ga angkat telepon ku"
"Tidak usah minta maaf, aku sangat bersyukur kau menelfonku."
"Permisi dengan nona alleta chevionita?" ucap seorang polisi.
"Iya saya," jawab alleta dengan nada bergetar sambil meremas pinggang baju sendy. Sendy tersenyum lalu menepuk lembut tangan alleta yang menggenggam bajunya.
"Saya walinya, gimana pak, kita bicara di luar ?" ucap sendy. Mereka pun pergi keluar.
Setelah beberapa saat sendy kembali.
"Bagaimana pak? apa aku akan masuk penjara?" tanya alleta dengan wajah panik
"Hahahah kamu lucu banget sih, lagian kamu juga nabrak nya mobil yang lagi parkir, ngomong-ngomong aku bingung, mobil itu ngalangin kamu yah ampe kamu tabrak? hahhaha apa perlu aku kosongin jalan kalau kamu mau lewat?" canda sendy.
Alleta memanyunkan bibirnya "Aku serius. apa aku akan masuk penjara?"tanya alleta.
"Tentu aja ngga, aku udah urus semua, perusahaan asuransi bakal nanggung semua kerusakan, jadi kamu tenang aja." ucap sendy lembut sambil mengacak lembut rambut alleta.
"Hmmm? kenapa ?"
"Untuk mobilnya, aku sangat minta maaf, aku bakal ganti semua kerusakannya,"
"Gausah mikirin itu, itu ngga penting sama sekali, yang penting itu kamunya. bukan mobilnya, nanati aku belikan lagi mobil baru untukmu."
"Tidak, aku tidak membutuhkannya. sekali lagi aku minta maaf pak."
"Iya, ngga usah di fikirin, sebentar yah, aku mau tebus obat kamu dulu, kamu tiduran dulu aja." ucapnya lembut.
Alleta pun mengangguk tanda setuju. Sendy pun pergi.
Obat sudah di tebus, sendy mengantarkan alleta pulang. Ini kali kedua sendy datang ketempat alleta.
"Kamu duduk dulu yah, aku ambilin kamu minum dulu" ucap sendy sambil memapah alleta yan kakinya ikut terluka.
"Ngga usah pak, aku bisa sendiri."
"Liat, kaki dan tangamu di penuhi perban, kamu yakin bisa sendiri yakin bisa sendiri?, dasar mumi" ucap nya sambil tersenyum
Alleta pun balik tersenyum."Hahahah," alleta mala tertawa.
"Kenapa? ko ketawa?" tanya sendy bingung
"Abis bapak lucu, kayanya bapak udah lama kesel sama aku, tapi baru sekarang bapak baru bisa marah." hahhaah
"Dasar, aku kira apa." ucap sendy.
Sendy kembali dengan segelas air. ia dengan telaten mengeluarkan obat yang harus alleta minum. Alleta menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ini minum, kata dokter kamu mungkin akan demam, karena syok dan memar bekas benturan tadi."
Alleta mengangguk, lalu meminum obatnya.
"Alleta, lain kali telfon aku kalau kamu bosen, jangan pergi sendiri. aku khawatir"ucap sendy lembut.
Alleta hanya mengangguk ragu, mulutya seperti terkunci untuk menolak ucapan sendy.
Sendy pun tersenyum sambil mengelus lembut rambut alleta, "sini, aku bantu rebahin badan kamu,kamu harus banyak istirahat."
"Pak, gak apa-apa, bapak pulang aja, aku bisa kok sendiri, tadi juga aku udah minta metta buat dateng."
"Ya udah kamu tidur aja dulu, nanti kalau metta dateng aku pulang."
__ADS_1
Alleta pun berbaring sampai tertidur.Sendy memandanginya lalu tersenyum.
Sudah hampir 3 jam alleta tertidur, sudah pukul 22.00 wib malam. Alleta bangun, wajahnya masih sangat mengatuk, ia melihat sendy masih ada di apartementnya.
"Kamu udah bangun?" tanya sendy
"Iya, bapak belum pulang ? sudah jam 22.00 wib, metta belum datang?"
"Tadi aku telfon damar, tapi katanya metta masih ada urusan."
"Oh gt, bapak lagi apa?"
"Hehe aku bikin bubur, siapa tau kamu laper"
"Hahahah bapak bisa masak ?" padahal jangan repot-repot aku bisa makan apa aja." ucap alleta mencoba bangun.
Sendy langsung menhampirinya, "Eh kamu mau ngapain? duduk aja udah."
"Aku mau bantu" jawabnnya.
"Jangan udah duduk aja" jawab sendy.
"Aku mau bantu padahal, kalau gitu boleh ga bawa aku ke meja makan?" tanya alleta sedikit memohon.
Sendy tersenyum, "kamu bener-bener keras kepala nona" ucapnya
"Hehehe" alleta hanya nyengir mendengar kata-kata sendy.
Ahirnya sendy menuntun pelan alleta. Alleta hampir terjatuh ia memeluk sendy.
Mereka saling bertatapan, namun sendy malah tersenyum "Hati-hati, jangan buat aku khawatir terus, kalau kamu mau meluk aku ngomong aja, jangan kaya gini." ucapnya lembut lalu membetulkan posisi duduk alleta.
"Cihhhh ... Maaf" ucap alleta pelan.
"Ga usah minta maaf, sakit ga?"
Alleta menggelengkan kepalanya.
Sendy kembali tersenyum, "Makan dulu, mumpung masih anget" ucap sendy lembut.
"Iya, bapak ngga makan?" tanya alleta.
"Makan dong, ini .". ucapnya sambil menunjukan mangkuk di sampingnya.
"Hehehe" mereka pun tertawa. sambil menikmati bubur buatan sendy.
"Bubur nya agak asin" bisik alleta sambil tertawa.
"Hahaha iya,udah, pura-pura gatau aja" ucap sendy setengah malu.
"Hahaha baiklah"
"Makan mu berantakan sekali," ucap sendy sambil mengelap bubur di samping bibir alleta.
"Hehehe, senang nya di manjain" ucapnya asal
Sendy tersenyum, "Makanya kamu terima aku, nanti aku masakin kamu terus. au manjain terus" ucap sendy.
Alleta menatap sendy sambil tersenyum jahil, "Aku secantik itu yah sampe bapak terus minta aku jadi pacar bapak?" tanya nya jahil
"Wah, kamu udah besar kepala yah sekarang? hahahah " ucap sendy salting. "Hahahha, udah-udah makan, makan sendiri aku mau nonton tv aja." ucap sendy sambil mengambil mangkuk nya.
"Hahaha pemarah sekali, aku mau ikut." ucapnya mencoba berdiri."Aduhhhhh". rintih alleta.
Sendy yang tadinya pura-pura cuek akhirnya kembali menghampiri alleta. ia menyimpan mangkuk yang ia pegang dengan cepat. lalu dengan sigap membantu alleta.
"Aku kan udah bilang, hati-hati kan?" ucap nya tegas namun terdengar sangat tulus. alleta pun duduk, sendy berjongkok memeriksa kaki alleta,
"Kenapa bapak menyukai ku? dari kapan bapak menyukai ku?" tanya nya dengan nada pelan membuat sendy berhenti memeriksa kakinya lalu menanggah menatap kearah alleta.
Sendy tersenyum, "Kalau kamu tanya kenapa aku suka sama kamu, aku punya banyak sekali alasan, salah satunya nya aku ngerasa kalau kita bisa sama-sama, kamu bukan hanya sekedar pasangan, tapi kamu bisa jadi pathner ku dimasa depan, udah gitu kamu galak, aku ngga akan khawatir kedepannya kalau kamu mau diambil orang. tapi kalau kamu tanya kapan aku tertarik sama kamu, aku masih sangat inget. Di bar setahun lalu, pas kamu berantem belain metta. hahha tubuh sekecil ini bisa ribut dengan banyak orang" jawabnya sambil tersenyum mengingat kejadian pertama kali mereka bertemu.
"Bagaimana dengan mas adit? 4 bulan lalu aku yakin pasti kamu liat apa yang terjadi sama aku dan mas adit, kamu masih yakin apa kamu merasa aman kalau suatu hari aku ketemu lagi sama mas adit?" tanya alleta ragu.
"Hmmmm ...Berat sih buat aku kalau inget itu, aku liat perempuan yang aku sayang ciuman sama orang lain, bohong ngga sih kalau aku bilang aku ngga apa-apa?, tapi setelah aku fikir lagi, aku emang ga bisa apa-apa, aku ga punya hak apa-apa, aku cuma bisa cemburu, hehe, kamu bukan pacar aku, dan aku juga tau perasaan kamu sama dia masih sangat besar, aku ga bisa apa-apa, jadi aku cuma ngerasa diem dan pura-pura ngga tau adalah pilihan terbaik. itu sih... " jawab sendy.
Alleta di buat diam dengan jawaban sendy.
"Jangan bingung, aku masih sabar kok nunggu kamu bisa move on dari aditya, tapi ya al, coba deh kamu liat, aku ngga kalah tampan loh sama dia." ucapnya sambil setengah tersenyum untuk mencairkan suasana yang mulai canggung.
"Cihhh, dasar, bisa-bisa nya kamu masih bercanda di situasi ini." ucap alleta.
"Tapi kata-kata aku yang masih mau nunggu kamu dengan sabar aku ga bercanda, kalau kamu udah siap lupain aditya aku bakal terima kamu dengan tangan terbuka, nih selebar ini." ucap sendy sambil merengangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar.
Alleta menatap sendy dengan tatapan yang sulit diartikan, , entah dorongan dari mana, alleta langsung memeluk sendy.
Sendy membeku dengan respon alleta yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan,perlahan ia menurunkan tangannya, ia memeluk alleta dengan ragu. "Al, apa maksud pelukan ini?" tanya nya dengan nada bingung.
"Terimakasih kamu mau bersabar dan nunggu aku, kalau kamu izinin aku, aku mau coba mulai semua nya sama kamu" ucap alleta yang kali ini benar-benar membuat sendy kehilangan kesadarannya beberapa detik.
Sendy tiba-tiba tersenyum, senang, rasanya ia melompat saking merasa bahagianya. namun tertahan, ia lebih memilih untuk memeluk wanitanya, alleta chevionita putri.
__ADS_1