
Alleta masih terdiam di pelukan aditya, bibirnya serasa kelu, tubuhnya sama sekali tidak bisa ia gerakan, ia malah memejam kan matanya, mencoba mencerna situasi ini.
"Apa ini mimpi? kalau ini mimpi, aku gak mau bangun sekarang." batinnya.
Namun, semuanya semakin nyata, setelah aditya melepaskan pelukannya dan mencium kening alleta.
/Cupp/ sebuah kecupan mendarah di kening alleta.
"Adit kangen" ucapnya lembut
Alleta meneteskan air mata, lalu mendorong aditya dengan dorongan lemah. Ia menutup pintunya kembali, lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu.
"Al, buka. adit minta maaf. Buka al" seru aditya sambil mengetuk pintu alleta.
Perasaan alleta tidak karuan, tangan nya seperti bergerak dengan sendirinya. ia membuka pintunya kembali. Terlihat aditya tersenyum, "Aku kangen," ucap aditya sambil memegang kedua pipi alleta, lalu memcium bibir alleta,mereka berciuman seperti dua orang kekasih yang sedang saling melepas rindu. Pintu tertutup, mereka masih berciuman, aditya mendorong tubuh alleta sampai keduanya terjatuh di atas sofa dan masih melanjutkan ciuman nya. entah apa yang ada di fikiran alleta saat itu, ia seolah lupa kalau ia telah menjalin hubungan lain dengan sendy. Semuanya seolah menghilang, cuma ada satu orang yang ada dikepalanya. yaitu aditya.
Selang beberapa lama bel berbunyi yang membuat mereka berdua tersadar dengan apa yang mereka lakukan.
Wajah alleta terlihat kaget sambil memandang kearah pintu, ia lalu menatap aditya, di situasi itu lah fikiran alleta mulai normal. Ia mendorong tubuh aditya yang saat itu berada di atas tubuhnya, "Apa yang sedang aku lakukan?" gumamnya dengan wajah bingung, ia segera bangun, merapikan rambutnya.fikirannya kosong, lalu berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu nya."Surprise" ucap sendy sambil mengangkat tangan nya dengan sekantong makanan. Alleta lagi-lagi membeku, fikirannya kembali kosong.
"Sayang?" ucap sendy dengan nada lembutnya.
"Siapa al?" seru seseorang di dalam.
Sendy langsung mengarah ke sumber suara. "Aditya?" ucapnya dengan wajah syok.
__ADS_1
Alleta masih mematung, ia bingung sendiri dengan situasi di dalam apartement nya pagi ini.
"Sendy?" ucap aditya.
"Al?" ucap sendy sambil menatap alleta dengan wajah yang menyimpan 1000 pertanyaan dikepalanya.
Sendy memegang tangan alleta, begitu pula aditya. alleta pun tersadar, ia menatap sendy dengan tatapan bersalah.
Sendy mulai mencerna situasi ini, ia tersenyum dengan tatapan yang sulit di artikan. Perlahan ia menaruh sekantong makanan yang ia bawa. "Aku pergi, jangan lupa dimakan sarapannya." ucap sendy sambil meninggalkan alleta dan aditya dengan perasaan yang cukup hancur.
"Al, kenapa dia datang? kenapa dia panggil kamu sayang? "tanya aditya.
Alleta masih mematung, air matanya menetes. "Sebaiknya kamu pergi mas." ucap alleta sambil membuka lebar-lebar pintunya dengan mata yang sudah berlinang.
"Apa maksudnya?" tanya aditya dengan nada tidak kalah bingung
"Hei, aku ga ngerti, coba kamu jelasin" ucap aditya sambil menyentuh sebelah pipi alleta. Alleta melepaskan pegangan aditya lalu mendorong tubuh aditya keluar.
"Tolong pergi, kasih waktu buat aku berfikir" ucap alleta.
Aditya terdiam, aditya sedikit faham dengan situasi kali ini, ia memutuskan untuk menuruti perintah alleta, dan meng iya kan untuk pergi.
Alleta kembali menyandar dan duduk dengan sambil menangis, ia menatap makanan yang sendy bawa untuknya, ia semakin tersedu-sedu mengingat betapa jahatnya dia terhadap sendy.
Sendy menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia pulang kerumahnya dengan keadaan marah. ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan kembali mencerna situasi tadi pagi.
__ADS_1
"Apa yang mereka berdua lakukan ?" gumamnya marah, ia kembali bangun lalu melihat handphonenya, tidak ada satupun panggilan atau pesan dari alleta. ia terlihat sangat frustasi, ia kembali mengambil kunci mobilnya dan memutuskan untuk kembali ke apartement alleta.
Kali ini sendy memutuskan untuk masuk, karena pintu alleta tidak tertutup dengan rapat. Ia masuk dengan perasaan marah, namun ia terhenti setelah melihat alleta sedang duduk dengan pakaian yang sama sambil menangis. Alleta melihat kearah sendy dengan mata yang sudah cukup membengkak, air matanya masih terus mengalir karena rasa bersalahnya.
"Alleta?" ucap sendy yang kini melemah.
Alleta menatap sendy lalu kembali menangis. Ia bangun dari duduk nya "Maaf." ucapnya menunduk sabil menagis tersedu-sedu. Sendy merasa sangat hancur melihat alleta yang sedang menangis, ia pun melemah, ia menghampiri alleta, jauh dari bayangan alleta, ia sudah membayangkan sendy akan marah besar bahkan menamparnya, namun semua ternyata hanya bayangan rasa bersalah alleta, sendy mengampiri alleta perlahan lalu memeluknya. Alleta semakin menangis tersedu-sedu. dan sendy semakin memeluknya dengan erat.
Alleta sudah mulai membaik, ia sudah tidak menangis, sendy duduk disampingnya tanpa bicara sepatah katapun. Ia bangun membawakan segelas air untuk alleta. "Minum, dan berhentilah menangis." ucap sendy.
"Mas, maafin aku" ucap alleta dengan nada lemah.
Sendy tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Jangan minta maaf, aku kesini bukan buat itu. aku sangat marah sekarang, sampai aku benci diri aku sendiri, aku melihat hal yang tidak aku inginkan, tapi faktanya aku sangat mencintai kamu sampai nalar ku pun jadi tidak masuk akal. Aku udah putusin buat lupain kejadian pagi ini, aku bakal pura-pura ga liat pria itu ada disini, apa aku bodoh kalau aku minta kamu buat gak goyah dan gak tinggalin aku? hahhaha maaf aku banyak sekali bicara," ucap sendy dengan nada mengawang.
"Mas..."
"Jangan jawab aku apa-apa, aku ga mau denger penjelasan kamu sekarang," ucap Sendy. ia berjongkok di hadapan alleta sambil menggenggam tangan alleta "Aku bakal lupain kejadian hari ini, aku cuma punya satu permintaan, Berjanjilah, ini kali terakhir kalian ketemu. bisa kamu janji itu sama aku?" ucap sendy dengan nada penuh harapan.
Bukannya menjawab alleta malah semakin menangis, "Maafin aku mas" ucapnya dengan nada sengau.
Sendy memeluk alleta tanpa bicara,
"Kenapa ada pria sebaik ini, aku sangat jahat, aku benar-benar wanita jahat." batin alleta di pelukan sendy.
__ADS_1
Mereka berdua terbaring di sofa, sendy memeluk alleta, hatinya hancur, namun ia tidak tega melihat tangis alleta. ia mengusap lembut kepala alleta, alleta yang kelelahan menangis sampai tertidur di pelukan sendy. sendy masih memeluk alleta, ia melamun tapi tangan nya masi terus mengelus alleta, ia sadar harga dirinya sebagai pria telah hilang di hadapan wanita yang sedang ia peluk saat ini.