
"Kamu, kenapa ada di sini? Kamu ngikutin aku ya," ucap Mentari di hadapan Pria itu. Reyhan, ia Pria itu adalah Reyhan yang ada di butik ini.
Reyhan pun mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti dengan tuduhan wanita yang ada di hadapannya. Seolah-olah ia yang salah, tapi ia begitu senang bertemu dengan wanita jutek pujaannya.
"Kita jodoh kali ya, selalu bertemu tanpa di rencanakan." ucap Reyhan memandang wajah Mentari.
"Ih, apaan sih, gak jelas banget, minggir gak? Aku mau masuk," ucap Mentari yang kesal.
"Jangan marah-marah terus, nanti cantiknya hilang." ucap Reyhan yang menggoda Mentari.
"Apaan sih, garing banget gombalannya." ucap Mentari yang ketus.
Tiba-tiba datang seorang wanita paruh baya yang masih cantik dan anggun, ia menghampiri kedua orang yang sedang ribut di depan butiknya.
"Ada apa ini?" tanya wanita paruh baya itu.
"Maaf Tante, Tari ingin mengambil pesanan Mama Lita."
Bukannya menjawab, wanita tua itu melihat ke arah anaknya yang sedang bersama dengan wanita cantik di hadapannya.
"Kamu lagi ngapain, Rey?" tanya Mamanya.
"Ini Rey mau pulang, Mom." ucap Reyhan pada mommy nya.
"Terus ngapain ribut-ribut sama wanita ini?" tanya Mamanya.
"Siapa yang ribut sih, Mom. cewek ini aja yang aneh, tiba-tiba marah-marah sama Rey."
__ADS_1
"Eh, enak saja. Kamu yang selalu ngikutin aku."
"Siapa yang ngikutin sih, orang aku--." ucap Reyhan yang terputus dengan omongan Mamanya.
"Sudah-sudah, ngapain sih, pada ribut. Terus kamu siapa?" tanya Mama Reyhan.
"Saya Mentari, Tante. Saya ke sini di suruh sama Mama Lita untuk mengambil pesanannya." jelas Mentari.
"Oh, jeng Lita. Ayok masuk, pesanan sudah Tante siapkan." ucap Mama Reyhan yang mengajak Mentari untuk masuk ke dalam butiknya.
Mentari yang begitu takjub dengan berbagai pakaian yang tergantung dan berbaris rapi yang begitu mewah dan bagus, ia berpikir pasti baju ini begitu mahal.
Melihat sekeliling ruangan ini, yang begitu nyaman dan bersih, Mentari yang membayangkan kemewahan di dalam butik ini. Ingin rasanya memiliki dan berbisnis seperti Tante ini, apakah ia bisa? Itu hanya halusinasinya saja.
Tante itu menepuk pundak Mentari, ia begitu kaget dan menoleh ke arah Tante itu, merasa malu sudah memperhatikan ruangan ini.
Mentari mengangguk, ia mengikuti langkah kaki wanita baya yang ada di hadapannya. Setelah ada di ruangan ini yang begitu besar dan rapih.
Mentari duduk di sofa yang ada di ruangan ini, Tante itu mengambil pesanan temannya itu. Dan memberikan pada wanita di hadapannya yang sedang duduk.
"Ini pesanan jeng Lita, tadi kamu siapa namanya?"
"Mentari Tante," ucap Tari yang sopan.
"Nama yang cantik, secantik orangnya." puji Mama Reyhan.
"Kamu siapanya jeng Lita? Kalau Tante boleh tahu?" tanya Mama Reyhan.
__ADS_1
"Saya hanya anak pembantu dari rumahnya Mama Lita," ucap Mentari yang begitu jujur, ia tidak ingin orang menganggapnya hanya menumpang untuk hidup mewah, ia juga tahu dengan keadaannya yang hanya seorang anak pembantu di rumah Mama Lita, walau pun Keluarga Papa Ibrahim selalu menganggapnya anak sendiri.
"Oh, kirain Tante anaknya."
Mentari menggelengkan kepalanya, dan tersenyum.
"Kamu kenal dengan anak Tante?" tanya Mama Reyhan yang penasaran.
"Yang mana Tante?" tanya Mentari.
"Yang tadi ribut dengan kamu."
Mentari yang begitu syok mendengar omongan wanita baya di hadapannya, apa benar kalau cowok rese itu adalah anak dari wanita baya ini yang masih cantik dan anggun. Rasanya jauh berbeda sekali sikap dan sifatnya.
.
.
.
.
.
.
Itu beneran anak Tante?
__ADS_1