Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Wanita kuat...


__ADS_3

"Tolong bangun, sayang. Jangan bikin aku cemas," ucap Reyhan yang begitu lirih, ia juga merasakan kesedihan yang begitu dalam saat melihat keadaan kekasihnya seperti ini. Ia harus tegar untuk menyemangati kekasihnya yang lagi terpuruk.


Ia genggam tangan Mentari yang belum sadarkan diri, ia tidak akan meninggalkannya sedetik pun.


Pintu pun di buka oleh Pak Ibrahim, ia masuk ingin melihat keadaan Mentari setelah melihat jenazah yang sudah di bersihkan tinggal di bawa untuk di makamkan.


"Gimana keadaannya?" tanya Pak Ibrahim pada Reyhan.


"Dia begitu syok saat mendengar kabar tersebut," jawab Reyhan yang masih fokus pada kekasihnya.


"Om juga sama, begitu syok saat kabar di sampaikan, Om tidak menyangka kepergian Tiara yang begitu cepat, Om pernah menawarkan tentang biaya untuk operasi Tiara , tapi Tiara menolaknya dia tidak ingin merepotkan siapapun dan sudah cukup baginya yang sudah menampung dia dan Mentari," jawab Pak Ibrahim saat ia pernah menawarkan itu pada ibu Tiara.


"Kamu yang mengurus pemakaman ibu Mentari?" tanya Pak Ibrahim.


Reyhan pun mengangguk mengiyakan ucapan Om Ibrahim, ia hanya membantu meringankan beban Mentari yang sebatang kara, memang Mentari masih tanggung jawabnya pak Ibrahim yang masih tinggal di kediamannya.


"Terimakasih ya, Nak Rey. Kamu sudah membantu Mentari," ucap pak Ibrahim yang begitu tulus.


"Sama-sama, Om. Ini juga sudah jadi tanggung jawab saya, setelah ini walau Om mengizinkan saya akan melamar Mentari untuk menjadi pendamping saya," ucap Reyhan yang sudah yakin dengan keputusannya.


Pak Ibrahim terdiam, ia harus menjawab apa tentang lamaran yang di layangkan oleh pemuda tersebut. Soalnya sang putri pun menyukai pemuda yang ada di hadapannya sekarang.


Reyhan memandangnya sesaat, diamnya Pak Ibrahim saat ia melayangkan permintaan untuk meminang Mentari menjadi istrinya. Ia sudah memantapkan hatinya untuk lebih lanjut lagi dengan hubungan ini, ia akan menjaga Mentari dan melindungi Mentari hingga dua puluh empat jam.


"Gimana, Om?" tanya Reyhan yang ingin memastikan kalau keinginan di restui oleh pria baya yang ada di hadapannya. Pak Ibrahim memang bukan Ayah kandungnya tapi Reyhan berhak izin dan meminta restu darinya, karena Mentari tidak punya siapa-siapa selain keluarga pak Ibrahim.


"Om belum bisa memutuskannya sekarang, jadi Om mohon jangan dulu membahas soal ini. Kita fokuskan saja dengan pemakaman mendiang ibu Tiara," sahut Pak Ibrahim, ia juga belum bisa memutuskan keinginannya di dalam masalah seperti ini.


Reyhan mengangguk paham, ia juga tidak memaksa memutuskannya sekarang hanya saja ia ingin mengutarakan perasaannya yang akan serius dengan hubungan ini.


.

__ADS_1


.


.


.


Selesai mengurus pemakamannya, jasad mendiang ibu Tiara pun akan di kuburkan di tempat yang sudah di sediakan. Reyhan yang belum mengantarkan untuk yang terakhir kalinya hanya bisa mendoakan dari sini, ia belum bisa meninggalkan Mentari seorang diri, ia takut kekasihnya saat bangun tidak menemukan satu orang pun. Tapi ia sudah memerintahkan para anak buahnya untuk mengurus pemakaman tersebut sampai selesai.


Orang tua Reyhan juga datang untuk memberikan belasungkawa atas perginya ibu Mentari, Pak Bagas yang belum bisa menerima Mentari menjadi kekasih sang anak hanya menurut saat ajakan sang istri, ia juga tidak enak saat undangan tersebut dari rekan kerjanya yaitu Pak Ibrahim.


Mama Sarah yang sudah mengenal Mentari sudah lama dan pernah menjadi karyawan di butiknya, ia begitu kasihan dengan hidupnya sekarang tanpa seorang ibu di sisinya, ia juga tahu tentang kehidupan Mentari dari sang anak dan temannya jeng Lita. Mentari yang mempunyai sosok seorang ibu saja di kehidupannya sejak ia lahir sampai sekarang. Begitu prihatin dengan kondisinya yang begitu malang.


Semua orang yang kenal dengan sosok mendiang ibu Tiara pun ikut andil dalam mengurus pemakaman tersebut, kecuali Mentari yang masih di rumah sakit saat tidak sadarkan diri.


.


.


.


.


Reyhan tersenyum saat Mentari sudah membuka kedua matanya, ia bahagia dan langsung memeluknya dengan erat.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar," ucap Reyhan yang masih mendekap tubuh Mentari.


"Aku di mana, Rey?" tanya Mentari yang begitu lirih.


"Kamu ada di rumah sakit," jawab Reyhan.


Mentari teringat sekarang, ia pun melepaskan pelukan Reyhan dan beranjak dari ranjang tersebut.

__ADS_1


"Mau kemana, Tar?" tanya Reyhan begitu khawatir.


"Aku mau bertemu ibu, Rey. Pasti dia lagi nungguin aku di ruangannya, ibu sendirian," sahut Mentari melangkah keluar.


Reyhan mengejar Mentari, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada kekasihnya saat ibunya sudah di bawa untuk di makamkan.


Saat di depan pintu ruangan ibunya, Mentari membuka dan masuk ke dalam. Ia mencari sosok ibunya yang tidak ada di ruangan ini, ia membalikkan badannya untuk bertanya pada Reyhan yang ada di ruangan ini juga.


"Kemana ibu, Rey?" tanya Mentari pada Reyhan.


Reyhan terdiam, ia takut salah bicara saat pertanyaan itu dia layang untuk dirinya.


"Kamu kenapa diam, Rey. Kemana ibu?" tanya Mentari lagi.


"Ibu, ibu. Sudah tidak ada," lirih Reyhan yang tertunduk.


Deg...


Seketika hatinya hancur saat ucapan Reyhan barusan, ia pikir tadi ia sedang bermimpi, tapi hal yang tidak ia inginkan pun menjadi kenyataan, Mentari mendekat kearah Reyhan dan bertanya lagi untuk memastikan.


Dan, berulang-ulang kali pun jawabannya tetap sama yang ia dengar, Mentari pun tertunduk dengan deraian air matanya. Ia duduk di hadapan Reyhan yang memandang begitu iba. Hatinya hancur saat jawaban Reyhan yang begitu nyata.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Kamu wanita kuat, aku percaya sama kamu. kamu bisa melewati ini semua...


__ADS_2