
Mentari yang begitu kaget dengan omongan Reyhan barusan, ia melihat sekeliling, semoga tidak ada orang yang mendengarnya, ungkapan perasaan yang begitu aneh menurut Mentari.
"Kamu gila ya, baru kenal udah nembak cewek." ucap Mentari yang kesal.
"Iya, aku tergila-gila sama kamu," jawabnya dengan santai.
"Lepasin gak?" ucap Mentari.
"Gak! Sebelum kamu kasih jawaban." Reyhan yang menatap wajah Mentari.
Mentari yang meronta ingin dilepaskan oleh Reyhan, tapi Reyhan tetap tak melepaskannya, sampai-sampai ada yang memanggil Mentari dari arah keluar dari kampus.
"Tari...," panggil Vina yang menghampiri sahabatnya.
Mentari menoleh ke arah sumber suara itu, ia tersenyum dan segera melepaskan tangan yang tadi di pegang oleh Reyhan.
"Iya, Vin." jawab Mentari.
"Kalian lagi ngapain berduaan di parkiran, bukannya masuk, bentar lagi mau di mulai." ucap Vina.
"Ini juga mau masuk kok, aku baru saja sampai," ucap Mentari yang berlari meninggalkan Vina dan Reyhan.
"Kamu juga baru datang, Rey?"
"Iya, yuk masuk, bentar lagi mau di mulai." ucap Rey yang mengajak Vina.
Vina pun mengangguk dan tersenyum, ia begitu bahagia dekat dengan Reyhan. Vina jatuh cinta pada pandangan pertama, melihat Reyhan yang begitu tampan.
Sesampainya di dalam kelas, Mentari sudah duduk di kursinya, Mentari melihat Pria yang baru datang bersama Vina sahabatnya, keduanya saling menatap sesaat, lalu Mentari mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Radit melangkah ke kursi di belakang Mentari, seorang dosen masuk dan pelajaran pun di mulai.
.
.
__ADS_1
.
Pada jam istirahat, Mentari menuju kantin, ia benar-benar sangat lapar tadi pagi ia buru-buru pergi dan tak sempat untuk sarapan.
Vina meninggalnya, untuk bertemu dengan sang pacar yang bernama Rio.
Mentari duduk di pojokan dekat jendela, tiba-tiba di kagetkan oleh Pria yang selalu mengganggunya setiap hari.
"Ngapain duduk di sini?" ucap Mentari yang ketus.
"Ini tempat umum ya, jadi gak ada larangannya. Cantik." jawab Reyhan yang menduduki kursinya.
"Di sana kan ada tempat kosong, ngapain di sini sih, bikin mood ku hancur saja. Jadi gak laper deh."
"Sini biar aku suapin?" menggoda Mentari.
"Jangan macam-macam kamu ya!"
"Bercanda, kalau mau juga gak masalah, malah aku senang banget."
"Lepas gak? Demen banget sih, pegang-pegang tangan aku."
"Orangnya juga demen. Duduk," ucap Reyhan dengan tegas.
Mentari menurut, ia hanya pasrah dengan ucapan Pria ini. Kenapa ia begitu nyaman di dekat Pria ini, kenapa dengan hatinya.
Makan siang yang begitu terasa berbeda, Mentari melirik ke samping pria di sebelahnya. Reyhan hanya fokus pada makanannya.
"Iya aku ganteng, jangan segitunya juga lihatnya."
Buru-buru Mentari mengalihkan pandangannya ke samping lain, ia begitu malu telah ketahuan memperhatikan Pria di sebelahnya.
"Jangan ge'er, siapa juga yang melihanya,"
"Itu barusan,"
__ADS_1
"Udah ah, bicara sama kamu tuh bikin laper aku hilang seketika."
"Duduk, dan habiskan makanannya, mubazir. Jangan pernah membuang-buang makanan."
Reyhan menarik tangan Mentari lagi, mentari hanya pasrah dan duduk kembali.
Setelah selesai makan, Mentari ingin membayarnya, tapi di cegah oleh Reyhan.
"Biar aku saja yang membayarnya."
"Eh, gak usah, aku ada kok."
Reyhan tidak menghiraukan ucapan Mentari, setelah membayar dan memakan makan siangnya, Mentari ingin ke perpus, lagi dan lagi Reyhan selalu mengikuti langkahnya.
"Ngapain lagi sih, mau nagih yang tadi?" tanya Mentari yang mulai kesal dengan Pria ini.
"Kamu mau ke perpus kan? Ya sekalian, aku juga mau ke perpus."
"Emang gak ada kerjaan apa? Selain mengikuti ku."
"Ada..," ucap Reyhan dengan santai.
"Apa?"
.
.
.
.
.
Mengejar hatimu, agar menerima cintaku...
__ADS_1