
Setelah selesai membersihkan ruang tamu, Mentari mendatangi ibunya yang sedang memasak makanan untuk makan malam, Tari ingin membantu ibunya.
"Sini, Bu. Biar Tari gantiin, ibu istrihat saja, dari pagi ibu pasti belum istirahat."
"Tidak apa-apa, Nak. Ini udah tanggung jawab ibu, kamu hanya fokus belajar dan belajar, buktikan pada ibu, dan bikin ibu bangga terhadapmu, jangan pernah bikin ibu kecewa ya Nak." pesan ibunya selalu mengingatkan sang anak.
"Tari akan melakukan apapun demi ibu, hanya ibu yang Tari punya saat ini," ucap Mentari yang memeluknya dengan erat.
Setelah menghidangkan beberapa makanan di atas meja, Mentari memanggil Papa dan Mama angkatnya untuk makan malam yang sebentar waktunya.
Langkahnya menuju kamar orang yang berjasa dalam hidupnya, menerima ia dan ibunya dengan tangan terbuka tanpa melihat keadaan sang ibu waktu itu, ibunya pernah bercerita tentang masa-masa Pak Ibrahim menolongnya di saat ibunya terpuruk dengan keadaan sedang mengandungnya.
Tok... Tok...
"Pah, Mah." panggil Mentari.
Pintu itu terbuka dan keluarlah Pak Ibrahim yang tersenyum.
"Ada apa, Tar?" tanya Pak Ibrahim.
"Makan dulu, Pah. Sudah Tari siapkan." jawab Mentari.
"Baiklah, Papa mau panggil Mama dulu."
Mentari mengangguk dan berlalu meninggalkan kamar yang tadi ia datangkan.
Sesudah memanggil majikannya sekaligus orang tua angkatnya, Tari menghampiri sang ibu yang sedang menyiapkan makan untuk dirinya dan sang anak.
Pak Ibrahim pernah menawarkan ia dan ibu untuk makan di meja yang sama, tapi ibu menolaknya, karena tidak enak dan tidak sopan seorang pembantu memakan di meja yang sama dengan majikannya, walau pun Pak Ibrahim tidak mempermasalahkan status perbedaan antara dirinya dan Mentari, karena Pak Ibrahim telah menganggap Mentari adalah sebagai anaknya sendiri.
Tapi ibu dan Mentari tidak ingin banyak menuntut dari keluarga ini, menampung dan memberi kehidupan yang tenang dan nyaman pun Mentari dan ibunya bersyukur dan banyak berterima kasih pada Pak Ibrahim.
"Sini, Nak. Kita makan, mumpung masih hangat." ucap Ibu Mentari.
"Iya, Bu. Pasti enak banget nih, masakan ibu mah the best banget." ucap Mentari yang mengacungkan jempolnya.
"Cepetan, jangan aneh-aneh, keburu dingin."
__ADS_1
"Makan enak nih," ucap Mbak Marni yang tiba-tiba datang. Bikin keduanya kaget dengan kedatangannya.
"Mbak ih, bikin jantung Tari mau copot saja." ucap Tari yang kesal.
"Maaf-maaf, Tar. Mbak sudah laper banget."
"Laper sih laper, tapi jangan bikin orang jantungan juga."
Ibu hanya memandang perdebatan keduanya, membuat geleng-geleng kepala.
"Sudah-sudah, jangan berdebat di depan makanan, pamali. Ayo makan."
Ketiganya makan dengan lahap, sesekali candaan yang menemani makan malam saat ini.
Selesai makan, Tari dan mbak Marni membersihkan meja makan dan mencuci piring.
Waktu menunjukan pukul sembilan malam, Mentari masuk ke
kamar yang begitu ia rindukan, untuk merebahkan tubuhnya yang merasa lelah.
Melangkah dan beranjak ke kasur empuknya, tiba-tiba bunyi suara ponselnya mengalihkan pandangannya terhadap benda pipih itu, Tari turun dan mengambilnya.
Mentari membukanya dari nomor yang tadi menghubungi beberapa kali, Tari juga penasaran dengan nomor baru yang selalu menghubungi beberapa kali.
[Hay, cantik. Kenapa tidak menjawab telpon ku.]
Mentari mengernyitkan dahinya, bingung dengan nomor baru, tiba-tiba mengirim pesan dan memanggilnya dengan sebutan cantik.
[Siapa ya,] balas Mentari.
[Penggemar kamu, cantik. Gimana kabarnya?] pesan itu pun datang lagi.
Mentari tidak membalasnya lagi, ia mengabaikan pesan itu, lalu merebahkan tubuhnya yang merasa lelah.
.
.
__ADS_1
.
Pagi harinya, Mentari bangun kesiangan, ia buru-buru mandi dan memakai baju dengan cepat, karena ada kelas pagi.
Ia berlari melewati beberapa orang yang lalang yang sedang mengerjakan aktivitasnya masing-masing.
"Makan dulu, Nak." ucap ibunya yang memanggil sang anak.
"Gak keburu, Bu. Udah terlambat." teriak Mentari yang berlari ke parkiran motornya, karena Vina sudah jalan lebih dulu.
Perjalanan ibu kota yang begitu padat dengan orang-orang yang ingin pergi berkerja dan beraktivitas masing-masing.
Sesampainya di kampus, Mentari berlari untuk masuk ke kelasnya, masih ada waktu lima menit lagi untuk ia sampai di kelas, tiba-tiba seseorang menabraknya dari depan, bukan orang itu yang menabraknya tapi ia yang menabraknya karena
buru-buru.
"Eh, mata gak," ucap Mentari.
Seorang Pria itu pun menyerhitkan dahinya, ia yang bingung dengan seseorang yang menabraknya malah ia yang di marahi.
"Siapa yang menabrak?" tanya Reyhan yang mencekal pergelangan tangan Mentari.
"Lepaskan, aku udah telat, bentar lagi mau masuk."
"Gak bisa, minta maaf dulu, baru aku lepaskan." ucap Reyhan.
"Maunya kamu apa sih, selalu menggangguku." ucap Mentari yang mulai kesal.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hanya satu, mau kah menjadi pacarku?