
"Kamu dimana, sayang? Jangan bikin aku cemas begini," ucap Reyhan yang lirih.
Ia segera menelpon sang Mama, mungkin Mentari ada ditempat kerjanya di butik sang Mama. Reyhan menekan tombol dan menghubungi Mamanya.
Panggilan pun terhubung, Reyhan dengan raut wajah yang begitu khawatir dengan keadaan Mentari yang tak ada kabar sejak pelajaran kelas kedua.
"Asalamualaikum, mah," ucap Reyhan yang sudah tersambung.
"Waalaikumsalam, Rey. Ada apa telpon Mama?" tanya Mama Sarah.
"Rey mau tanya, Mentari ada di sana?" tanya Reyhan.
"Gak ada, Rey. Memangnya kenapa?" jawab Mama Sarah dengan nada cemas.
"Gak ada apa-apa, Mah. Rey matikan dulu ya," sahut Reyhan yang ingin memastikan sambungan teleponnya.
"Tunggu dulu, Rey. Mama lupa, entar malam ada makan bersama dengan keluarga teman Mama, kamu harus ikut gak ada alasan," cegah Mama Sarah, dan mengancam putranya.
"Tapi, Mah." tolak Reyhan ajakan Mamanya, ia ingin mencari kekasihnya yang entah dimana.
"Gak ada tapi-tapian, Mama tunggu entar malam," sahut Mama Sarah langsung mematikan sambungan teleponnya.
Reyhan membuang napasnya, ia harus bagaimana, melanjutkan mencari Mentari, apa pulang ke rumah untuk makan malam bersama dengan teman Mamanya.
.
.
.
Di kediaman rumah Pak Ibrahim, Mama Lita mempersiapkan diri untuk makan malam bersama dengan keluarga teman dekatnya jeng Sarah, Pak Ibrahim pun sudah mengabarkan akan ikut bersama sang istri untuk menerima undangan tersebut.
Mama Lita menghampiri kamar Vina, anak satu-satunya yang ia miliki. Sampai di depan kamar sang anak, ia mengetuk pintunya agar Vina membukanya.
Ceklek..
..."Ada apa, Mah?" tanya Vina membukakan pintu....
"Sekarang kamu siap-siap gih, sebentar lagi kita akan ke rumahnya teman Mama, untuk makan malam bersama di rumahnya," titah Mama Lita pada anaknya.
Vina mengerutkan keningnya, ia yang baru tahu akan hal ini membuat ia terdiam sesaat.
"Malah bengong, bukannya siap-siap," titahnya lagi pada Vina.
__ADS_1
"Kok, dadakan Mah," protes Vina.
"Iya, Mama lupa, untuk mengabarkan ke kamu kalau malam ini ada acara makan malam bersama," sahut Mama Lita.
Vina mengangguk mengiyakan ajakan sang Mama, ia tidak bisa menolak keinginan Mamanya untuk pergi, ia juga butuh refreshing pikirannya mengingat kejadian kemarin yang membuat ia ingin marah-marah terus.
"Ya udah, Vina. siap-siap dulu," sahut Vina, ia masuk kedalam dan meninggalkan Mamanya.
Setelah mengatakan itu, Mama Lita masuk kedalam kamarnya. Ia juga akan bersiap-siap untuk pergi ke undangan temannya.
.
.
.
Di sebuah danau, Mentari melamun seorang diri, ia pergi dari kampus tidak mengikuti pelajaran yang kedua, hatinya sakit saat ia mengutarakan apa yang ia tidak ingin lakukan, hanya demi seorang ibu dan keberadaan dirumah itu, ia sadar dengan posisinya yang hanya sebagai anak seorang pembantu dan lebih parahnya lagi ia tidak mempunyai seorang Ayah yang kemudian hari akan menjadi wali nikahnya.
Ia malu, saat hubungannya akan di bawa kemana, karena keseriusan Reyhan terhadapnya membuat ia minder dan tidak percaya diri, Reyhan yang begitu sempurna dan orang yang berada sedangkan dirinya hanya seorang anak pembantu. Dan sahabat juga menginginkan Reyhan, apakah ia sanggup untuk menjalankan hari-harinya tanpa kehadiran Reyhan di sisinya sebagai cinta pertamanya.
Berat rasanya, tapi mau gimana lagi semua seakan sulit untuk ia jalani seorang diri, ibunya yang selalu ada untuknya, sekarang melarangnya dan mengikhlaskan seorang yang bukan hak kita. Ingin rasanya ia egois sekali saja dan merasakan gimana indahnya cinta dan merasakan apa itu pacaran. Tapi, itu hanya sebuah mimpi dan bayangan saja, setiap ada seseorang yang mengungkapkan perasaannya Vina selalu ada di antara ia dan dia yang ingin memulai hubungan, dan meminta untuk mengalah dan memberikannya.
Mentari menitikkan air matanya, ia tak sanggup untuk pulang dan bertemu dengan banyak orang dengan wajahnya yang sembab karena seharian menangis.
.
.
.
Jam delapan malam, Mama Sarah sudah menyiapkan makanan untuk hidangan yang begitu lezat dan istimewa. Malam ini ia akan kedatangan tamu spesial dari teman dekatnya jeng Lita. Ia memerintahkan asisten rumah tangganya untuk memasak makanan spesial untuk menyambut kedatangan keluarga dari temannya.
"Sudah semua, Mbok?" tanya Mama Sarah pada pembantunya yang sudah paruh baya.
"Sudah, Nyonya." jawab Mbok dengan menunduk.
"Terimakasih, Mbok." ucap Mama Sarah.
Mbok pun mengangguk dan pamit untuk mengerjakan pekerjaannya yang lain, Mama Sarah duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu teman yang sebentar lagi akan datang.
Tak berapa lama, mobil itu terdengar, Mama Sarah beranjak dan melihat siapa yang datang. Dugaan salah yang datang adalah suaminya dan anaknya.
"Assalamualaikum, Mah." sapa berbarengan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Pah, Rey," sahut Mama Sarah yang mencium tangan suaminya dengan takzim dan menyambut tangan Reyhan.
"Sekarang, Papa dan Rey siap-siap gih, sebentar lagi tamu kita akan datang," titah Mama Sarah pada suaminya dan anaknya.
Papa Bagas mengangguk dan berlalu, tapi Reyhan hanya diam dengan muka yang lelah habis mencari Mentari yang belum Ia temukan, hati dan pikirannya selalu terbayang oleh Mentari, ia khawatir dengan keadaan Mentari yang sampai sekarang belum ia temukan.
Mama Sarah memandang kearah anaknya dengan wajah yang lesu dan kacau. "Kamu kenapa, Rey?" tanya Mama Sarah yang peka dengan keadaan sang anak.
"Rey, tidak apa-apa, Mah." sahut Reyhan yang meninggalkan Mamanya dan berlalu begitu saja.
Yang di tunggu-tunggu pun datang juga, keluarga Vina datang tepat waktu, semua turun dan menghampiri temannya yang menunggu di teras depan.
"Asalamualaikum, jeng," sapa Mama Lita yang memeluk temannya dan mencium pipi kiri dan kanan.
"Waalaikumsalam, selamat datang di rumah ku," ucap Mama Sarah menyambut kedatangan keluarga temannya.
"Rumah kamu bagus juga ya, kalah ini mah sama rumah ku," jawab Mama Lita, ia tidak heran dengan keluarga pak Bagas yang terkenal dengan pebisnis terhandal dan terkenal di seluruh Indonesia. Suami selalu menceritakan tentang keluarga Pak Bagas.
"Biasa saja jeng, jangan berlebihan. Mari masuk," ajak Mama Sarah dan menoleh kearah putri dari temannya.
"Eh, tunggu. Ini anak kamu Lit?" tanya Mama Sarah.
Mama Lita mengangguk dan mengiyakan ucapan temannya, dan memperkenalkan anaknya pada jeng Sarah.
"Iya, jeng. Ini anak aku satu-satunya," jawab Mama Lita.
Mama Sarah mengangguk dan melihat sekeliling untuk mencari sesuatu yang kurang.
"Jeng Sarah cari siapa?" tanya Mama Lita.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Mentari tidak ikut...