Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Ancam Ibunya...


__ADS_3

"Tapi, Mah. Boleh kah Tari hari ini egois, dan memilih apa yang Tari inginkan tanpa mengalah," pinta Mentari yang begitu lirih dengan airnya menetes.


Mama Lita membuang napasnya dengan perlahan, ia harus bagaimana dan mencari jalan keluar untuk masalah anak dan anak pembantu yang ia besarkan selama ia menampung ibunya yang sedang hamil tua.


"Mama mohon sama kamu, Tari. Kamu tahu kan kalau Vina orangnya nekad dan keras kepala," ucap Mama Lita yang memohon pada Mentari agar mengalah demi sang anak.


"Ini masalah perasaan, Mah. Tari juga tidak bisa memaksakan diri dan meminta Reyhan untuk berpindah ke lain hati." sahut Mentari.


Obrolan itu selesai tanpa ada solusinya, Mentari tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan hubungannya dengan Reyhan, ia juga tidak boleh egois hanya untuk mementingkan sang anaknya saja, Mentari selalu mengalah di setiap Vina menginginkannya dari segi barang maupun soal pria yang menyukai Mentari.


.


.


.


Makan malam pun tiba, ibunya Mentari menyiapkan menu makanan yang spesial untuk keluarga Tuan Ibrahim. Mentari yang membantu menyiapkan nya merasa senang dan bahagia. Menata makanan lezat yang menggugah selera.


Pak Ibrahim dan Mama Lita datang dan duduk di kursi meja makan, Mama Lita melayani suaminya dengan baik. Makan malam pun hanya berdua, Vina yang ngambek dan tidak mau makan sebelum keinginannnya terpenuhi oleh kedua orang tuanya. Agar membujuk Mentari untuk melepaskan Reyhan untuknya.


Keduanya mengobrol dengan ringan membahas tentang keseharian sampai ke masalah Vina dan Mentari.


"Tadi Mama sudah meminta Mentari untuk mengalah untuk Vina, Pah? ucap Mama Lita di sela-sela makannya.


"Terus," jawab Papa Ibrahim.


"Dia tidak mau mengalah, Pah. Mentari tetap pada pendiriannya, ingin mempertahankan apa yang ia punya," balas Mama Lita yang melihat apa reaksi suaminya tentang masalah ini.


"Mama juga sih, selalu memanjakan Vina sampai sekarang, jadi Vina kayak gini," sahut Papa Ibrahim.


"Kok, Papa. Jadi nyalahin Mama sih," protes Mama Lita.


"Bukan menyalahkan Mama, tapi ini kenyataannya, Mah. Vina sedikit-sedikit kayak gini, kalau permintaan tidak di kabulkan ujung-ujungnya pasti ngambek," oceh Papa Ibrahim yang tak suka dengan sikap dan kelakuan sang anak yang terlalu berlebihan.


"Lihat sama Mama, Mentari selalu mengalah pada Vina dari kecil sampai sekarang, ya wajar lah kalau sekarang Mentari mempertahankan apa yang ia punya sekarang, harusnya Vina banyak belajar dari Mentari, sifatnya selalu kekanak-kanakan," ucapnya lagi yang beranjak dari duduknya karena ia sudah selesai makan.


"Pah, Pah. Gak bisa kayak gitu, ya wajar lah Mama memanjakan Vina, dia kan anak kita satu-satunya yang kita miliki," oceh Mama Lita yang terpancing emosi melihat suaminya yang membela putri dari pembantunya dan menyalahkan anaknya sendiri.


Mama Lita pun beranjak dan menyusul suaminya, ia tidak terima dengan pendapat suaminya tentang masalah ini.


.


.


.

__ADS_1


Di dapur, ibu Mentari mendengar semua ucapan majikannya tentang masalah sang anak dan anak majikannya. Ia mengernyitkan dahinya tanda tidak tahu dengan masalah yang dihadapi oleh anaknya. Mentari tidak pernah cerita soal ini padanya, membuat ia kaget mendengarnya.


Segera ibunya mencari sang anak untuk menanyakan masalah ini, ia tidak mau terjadi sesuatu pada anaknya.


"Marni," panggil Ibu mentari.


"Ya, Mbak. Ada apa?" tanya Marni.


"Lihat, Mentari?" tanya ibu Mentari.


"Ada di belakang, Mbak. Kenapa?" tanya Marni yang penasaran.


"Terimakasih, Mar." ucap ibu Mentari yang berlalu untuk menemui sang anak.


Sampai di halaman belakang ia melihat anaknya yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya. Ia langsung duduk di samping anaknya yang sedang fokus bet chat sambil tersenyum.


"Tar..." panggil ibunya yang membuyarkan fokusnya.


"Eh, iya ibu." sahut Mentari yang menyimpan ponselnya di meja.


"Ibu ingin bertanya kepada kamu, Tar." ucap ibunya.


"Bertanya apa, Bu." jawab Mentari.


Deg...


Dari mana ibunya tahu tentang masalah ini, ia tidak pernah menceritakan atau pun memberitahukan kepada siapa pun, hanya Mama Lita yang tahu masalah ini itu juga dari Vina bukan dirinya.


"Ibu tahu dari siapa?" tanya Mentari.


"Itu tidak penting, Mentari. Ibu mohon sama kamu jangan mengecewakan ibu dan Tuan Ibrahim yang berjasa dalam hidup kita, dia yang menolong kita dari penderitaan yang tak pernah ibu bayangkan dan ibu tidak mau mengingat itu semua, jadi mengalah lah demi ibu.." pinta ibunya, agar Mentari tahu di posisi dan tidak mengecewakannya.


"Bu..," lirih Mentari yang meminta bantuan dari sorot matanya, agar ibunya bisa memahami perasaannya yang ingin mempertahankan cintanya pada seorang pria.


Ibunya membuang mukanya, ia tidak ingin melihat wajah anaknya yang memelas, ia tahu apa yang dirasakan oleh Mentari, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk masa depannya, ia tidak mau hal terjadi pada sang anaknya juga, cukup ia rasakan seorang diri.


Mentari memegang tangan wanita paruh baya yang meminta agar tidak meneruskan permintaan untuk melepas pria yang sudah bersemayam di dalam hatinya. Hari ini ia ingin egois dan memilih apa kata hatinya.


.


.


.


.

__ADS_1


Didalam kamar Pak Ibrahim dan Mama Lita terus berdebat soal anaknya dan anak pembantunya, pak Ibrahim tetap dengan keputusannya ia tidak mau ikut campur dengan masalah ini, ia biarkan anaknya yang menyelesaikan masalah ini bersama Mentari.


Tiba-tiba ponsel Mama Lita berbunyi membuyarkan perdebatan kedua pasangan paruh baya, segera Mama Lita mengangkatnya.


"Asalamualaikum, jeng." ucap Mama Sarah dari sebrang sana.


"Waalaikumsalam, jeng Sarah, tumben telpon malam-malam." sahut Mama Lita.


Percakapan pun terus dibahas sampai Mama Sarah mengundang keluarga pak Ibrahim untuk makan malam di kediamannya. Mama Lita pun menyambut ajakan dengan baik, ia menghampiri suaminya untuk menyampaikan ajakan teman dekatnya.


"Pah, kita di undang makan malam besok malam, Papa bisa kan?" tanya Mama Lita pada suaminya.


"Lihat besok aja, Mah. Papa lihat jadwal dulu," sahut Papa Ibrahim.


"Papa harus pokoknya, Mama sudah berjanji pada jeng Sarah, dan menyetujuinya," rengek Mama Lita.


"Ya udah, Papa akan kosongkan jadwal Papa dan pulang lebih awal," jawab Papa Ibrahim.


"Terimakasih, Pah. Mama makin sayang sama papa," sahut Mama Lita yang antusiasi dan bahagia.


Papah Ibrahim menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan dan tingkah istrinya yang berbeda, tadi ia marah-marah dan sekarang ia bahagia saat sudah menerima telepon dari temannya.


.


.


.


"Tapi, Bu. Tari saling mencintai, jadi Tari mohon sama ibu jangan buat Tari untuk mengalah untuk kesekian kalinya," lirih Mentari yang meneteskan air matanya.


"Tapi, Tari. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, syukur Alhamdulillah kita sudah ditolong sama pak Ibrahim yang begitu baik pada kita, tanpa beliau kita gak akan seperti ini," jelas ibunya yang tidak enak dengan keluarga pak Ibrahim yang begitu baik.


.


.


.


.


.


.


Ibu tidak mau tahu, kamu harus mengalah demi ibu...

__ADS_1


__ADS_2