Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Kabar duka...


__ADS_3

"Hay, Tar. Gimana dengan keadaan ibu?" tanya Vina yang menimpali ucapan Reyhan yang ingin bertanya keadaan ibu dari kekasihnya.


Mentari yang kaget saat kedatangan Reyhan bersama sahabatnya Vina, Mentari melihat kearah tangan Reyhan yang masih di pegang oleh Vina begitu manjanya. Reyhan melihat kearah pandangan mata Mentari pun langsung melepaskan tangan Vina yang masih di bergelanjut di lengannya. Ia merutuki kebodohannya saat masuk tidak menyadari hal tersebut.


Reyhan menghampiri dan menanyakan keadaan ibu Mentari yang sedang tidur nyenyak pengaruh dari obat yang di berikan oleh pihak rumah sakit, agar pasien butuh istirahat cukup dan teratur keseimbangan agar lebih baik lagi.


Obrolan pun berlanjut saat Reyhan menanyakan dan menawarkan sesuatu pada Mentari agar segera di operasi penyakit yang tersarang dari tubuh ibu Tiara. Mentari yang kekeh tidak ingin merepotkan siapapun termasuk Pak Ibrahim yang pernah menawarkan tentang biaya yang lumayan besar. Ia ingin segera lulus dan mencari pekerjaan tetap walaupun ia beberapa hari kerja di tempat butik Mama Reyhan, tapi gajinya yang tidak cukup untuk biaya operasi, ia hanya bekerja paruh waktu untuk membagi waktu ia harus belajar dan berkerja.


Sudah banyak yang di lakukan oleh pak Ibrahim untuk membantunya, ia menolak saat pak Ibrahim menawarkan biaya agar segera di lakukan operasi pada sang ibu, ia tidak ingin merepotkan lagi sudah cukup ia dan ibunya hidup hidup membebani keluarga pak Ibrahim, menampungnya saja sudah Alhamdulillah dan berterima kasih.


Jam dua belas siang, Reyhan dapat telpon dari Mamanya untuk menemuinya, Reyhan pun pamit pada sang kekasihnya. Ia juga menjanjikan akan ke sini lagi setelah urusannya selesai.


Reyhan sempat menawarkan makan siang untuk Mentari, tapi Mentari menolaknya dan memberi alasan ia belum lapar. Reyhan pun pasrah dan bergegas untuk pulang menemui Mamanya yang sedang menunggunya. Vina yang mengikuti langkah Reyhan yang entah akan kemana, Vina tidak akan melewati kesempatan untuk mendekati Reyhan agar menjadi miliknya.


Sesampainya di parkiran, Reyhan pun menoleh ke belakang dan membalikkan badannya untuk menghadap pada Vina, ia yang heran saat Vina terus mengikuti langkah sampai sekarang.


"Kamu ngapain masih mengikuti aku," tanya Reyhan yang begitu malas untuk berdebat dengan wanita yang ada di hadapannya.


"Aku ingin ikut boleh?" tanya Vina yang tidak pernah malu saat mengucapkan itu.


"Aku ada urusan penting, ini masalah tentang keluarga ku, jadi jangan pernah mengikuti aku lagi," pinta Reyhan yang ingin segera pergi.


"Tapi, Rey. Aku ingin main ke rumah mu dan bertemu dengan Tante Sarah," sahut Vina agar keinginannya terpenuhi oleh Reyhan.


"Gak bisa, Mama aku akan pergi," ucap Reyhan yang memberi alasan agar Vina tidak mengikutinya.


Reyhan masuk ke dalam mobilnya tanpa menghiraukan rengekan Vina yang ingin ikut dengannya, ia melaju dengan kecepatan sedang karena ini masih di area rumah sakit.


Vina yang menghentakkan kakinya tanda ia marah telah di abaikan oleh pria tersebut, sedangkan pada sahabatnya Mentari begitu perhatian dan mencemaskan dirinya saat butuh sesuatu. Vina yang berpikir setelah ini ia harus kemana? Mengingat ia juga tidak masuk kuliah, bolos. Ia yang bingung harus kemana, pulang pun rasanya tidak mungkin karena sang Papahnya akan memarahi saat bolos kuliah.


Ia kembali ke dalam rumah sakit, walaupun ia enggan untuk menemui Mentari dan ibunya yang sedang sakit-sakitan.

__ADS_1


.


.


.


.


Di dalam ruangan tersebut, Mentari mulai merasakan perutnya yang mulai keroncongan, ia sempat di tawari makan siang oleh Reyhan tapi ia enggan untuk menerimanya karena ia tahu Reyhan yang dapat perintah dari Mamanya untuk segera menemuinya.


Mentari pun menggenggam tangan ibunya dan berkata.


"Bu, Tari keluar dulu ya sebentar, Tari ingin mencari makan. Nanti Tari balik lagi ke sini untuk menjaga ibu," pesan Mentari, ia beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan ruangan sang ibu.


Setelah Mentari pergi untuk mencari makan, Vina pun datang di ruangan ibu Tiara, ia yang enggan masuk ke dalam dan melihat wajah kedua wanita yang berbeda usia tersebut ia merasa ingin marah dan kesal akhir-akhir ini.


.


.


.


Mentari masuk dan meletakkan kantong plastik di atas nakas, ia duduk untuk melihat kondisi sang ibu yang belum sadarkan diri dari tidurnya, dokter pun sudah berpesan pada Mentari kalau pasien akan sadar setelah beberapa jam yang telah ia berikan obat.


Mentari yang cemas dengan keadaan sang ibu yang tertidur pulas tanpa gangguan sedikit pun. Mentari meraba wajah tua sang ibu yang kini sedang damai terbuai mimpi.


"Bu," panggil Mentari untuk membangunkan sang ibu, ini adalah waktunya sang ibu untuk meminum obat yang di sarankan oleh dokter.


Tidak ada sahutan ataupun pergerakan dari tubuh sang ibu, Mentari memanggilnya lagi sambil mengguncangkan tubuh dengan pelan.


"Bu, bangun. Waktunya ibu makan dan meminum obat," ucap Mentari lagi untuk membangunkan sang ibu yang masih damai dalam tidurnya.

__ADS_1


Mentari yang mulai cemas dengan keadaan sang ibu yang belum ada pergerakan sedikit pun, ia yang lebih keras mengguncang tubuh ibunya dengan tangisan yang mulai terdengar lirih. Ia takut dengan memikirkannya tentang hal yang tidak sama sekali ia pikirkan.


Mentari keluar dari ruangan sang Ibu untuk meminta pertolongan pada dokter ataupun suster yang tahu dengan kondisi ibunya saat ini. Mentari saat ini mencari keberadaan dokter yang tadi menangani ibunya.


"Dokter tolong ibu saya, dia tidak bisa di bangun kan," ucap Mentari yang memegang tangan Dokter tersebut agar segera di tangani.


Dokter pun mengangguk dan melangkah dengan tergesa untuk melihat kondisi pasien yang di ucapkan oleh keluarga pasien tersebut. Dokter tersebut memeriksa keadaan pasiennya yang terbaring di atas ranjang pasien.


Beberapa menit, dokter itu pun selesai mengecek dan memeriksa kondisi pasien yang bernama Tiara. Ia menghela napas panjang dan membuangnya perlahan, ia harus mengatakan kabar tersebut pada keluarga pasien.


Dokter tersebut keluar dari ruangan yang di tempati oleh ibu Tiara dan menghampiri gadis yang berdiri menunggu kabarnya.


Mentari yang khawatir dan cemas saat dokter tersebut keluar dengan raut wajah sedihnya.


"Gimana, Dok. Dengan keadaan ibu saya, dia baik-baik saja kan?" tanya Mentari yang cemas.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf, pasien yang bernama Ibu Tiara sudah di nyatakan telah meninggal dunia...


__ADS_2