
Malam mulai larut, Mentari masuk lewat pintu samping untuk sampai ke kamarnya, ia segera masuk untuk membersihkan tubuhnya yang basah karena kehujanan.
Mentari membuang napas dengan perlahan, ia harus melakukan apa agar Vina tidak marah padanya. Hatinya terbagi dua antara Vina sahabatnya ataupun Reyhan yang selalu menolongnya tanpa menghiraukan keadaannya.
Setelah selesai membersihkan diri, Mentari merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang begitu nyaman. Malam semakin larut membuat ia tidak bisa memejamkan kedua matanya, bayangan Vina yang marah padanya dan Reyhan selalu ada didalam hatinya. Berguling kesana dan kemari untuk mencari tidur yang nyaman.
Setelah beberapa saat, ia pun mulai terpejam dengan tubuh yang lelah.
.
.
.
Pagi...
Mentari bangun agak kesiangan, segera beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak membutuhkan waktu lama ia segera keluar dari kamar mandi untuk memakai pakaian yang cocok untuk pergi ke kampus, selesai berdandan Mentari turun ke bawah untuk menemui ibunya di dapur.
"Ibu.." panggil Mentari mencari sang Ibu, tapi nihil, ia tidak menemukan sosok wanita paruh baya yang mengurusnya jingga dua puluh empat jam.
"Cari apa, Neng?" tanya Mbak Marni.
"Ibu, Mbak. Kemana ya?" tanya Mentari mengedarkan pandangannya.
"Ibu si neng lagi pergi belanja bersama Mang Dadang," jawab Mbak Marni.
Mentari menganggukkan kepalanya, ia duduk di kursi yang tak jauh dari dapur.
"Masak apa, mbak?" tanya Mentari yang lapar.
"Cuma nasi goreng sama roti bakar?" sahut Mbak Marni.
"Aku lapar banget, Mbak. Pengen makan," rengek Mentari yang mengambil piring untuk mengambil nasi goreng.
"Ya makan atuh, Neng. Mbak tinggal dulu ya? Mau nyiram tanamannya Nyonya," ucap Mbak Marni yang berlalu meninggalkan Mentari yang mulai sarapan.
__ADS_1
Mentari mengangguk dan melanjutkan sarapannya, rasa laparnya dari semalam tidak makan malam, ia langsung tidur tanpa mengingat makan malamnya.
Selesai sarapan, ia akan membersihkan meja makan dan mencuci piring bekas dirinya, tapi dicegah oleh Mbak Marni.
"Ada apa, Mbak?" tanya Mentari.
"Biar Mbak saja yang mencucinya, ini sudah siang, nanti kesiangan," cegah Mbak Marni yang meneruskan yang dilakukan oleh Mentari.
Mentari tersenyum, ia bahagia saat seperti ini, segera ia mencuci tangannya dan mengucapkan terimakasih.
Di depan halaman, Mentari yang ingin menyalakan motor tapi di suara Vina yang mengagetkan. Segera menoleh dan berbalik badan.
"Pagi, Vin." ucap Mentari dengan senyuman yang khas.
Vina tidak menjawab, ia menghampiri Mentari dengan muka kesalnya.
"Jangan pernah kamu deketin Reyhan, paham." ancam Vina yang berlalu begitu saja, saat mengatakan kata-kata itu.
Hati Mentari terhenyak, ia tidak menyangka dengan kelakuan sahabatnya barusan, ia tidak mengenal Vina sekarang, Vina tidak pernah kayak gini padanya walaupun soal pria.
Ia memandang punggung sahabatnya yang semakin menjauh, ada rasa kehilangan sosok satu-satunya yang selalu ada untuknya. Bercanda, tertawa, membagi cerita sampai larut malam. Tapi apa, sahabatnya meninggalkannya karena satu pria yang menjadi persahabatan menjadi renggang.
Tidak terasa ia mengendarai motor sampai di kampus, ia langsung memarkirkan motornya dan turun dari kendaraannya. Ia yang akan masuk tiba-tiba tarik oleh Reyhan.
"Mau kemana, Rey? Lepaskan," protes Mentari yang melepaskan tangannya dari cengkeraman dari Reyhan.
"Aku mau berbicara," ucap Reyhan yang masih menarik tangan Mentari.
Sesampainya dihalaman belakang kampus yang disulap menjadi taman bunga yang indah, siapa saja akan senang dan suka saat melihatnya.
Mentari terdiam, ia memandang sekeliling halaman ini yang begitu berbeda. warna warni bunga menghiasi halaman kampus ini. Siapa yang membuatnya? Dan untuk siapa?
"Apa maksudnya, Rey?" tanya Mentari yang heran.
"Ini untuk kamu, Tar." ucap Reyhan yang tersenyum, ia senang melihat wanita pujaannya begitu bahagia saat surprise yang ia bikin berhasil.
__ADS_1
"Buat," tanya Mentari lagi.
Reyhan pun langsung berlutut dan mengeluarkan bunga mawar yang ia sembunyikan dibelakang badannya. Mentari yang syok dengan kelakuan pria yang ada dihadapannya.
Tiba-tiba, orang-orang berdatangan untuk menyaksikan ungkapan perasaan Reyhan pada Mentari, ini adalah rencananya untuk mengungkapkan perasaannya pada sosok wanita yang ia cintai.
Mentari melihat sekeliling banyak orang yang berdatangan dan mengerumuninya wajah yang berbinar.
"Mentari.. Maukah kamu menjadi kekasihku dan menemaniku di hari-hariku, dan menjadi mentari yang selalu menyinari hatiku." ucap Reyhan yang menatap wajah Mentari yang menanti jawaban.
"Terima.. terima... terima..," sorak para mahasiswa dan mahasiswi yang ada disekelilingnya.
Mentari yang begitu gugup dengan ungkapan perasaan Reyhan padanya, ini bagaikan sebuah mimpi yang tidak ingin terbangun dari tidurnya.
Mentari melamun, ia ingin rasanya menerima dan menjadi kekasihnya. Tapi, ia berpikir, apakah ia pantas menjadi kekasihnya, ia hanya seorang anak pembantu dan menumpang di kediaman Vina, tapi pria dihadapannya seorang anak yang berada jauh bagai langit dan bumi dengannya.
"Mentari," panggil Reyhan yang membuyarkan lamunannya.
Para mahasiswi selalu bersorak untuk menerima ungkapan Reyhan padanya. membuat ia jadi serba salah.
"Gimana, Tar. Apakah kamu mau menjadi kekasihku," ucap Reyhan yang bertanya sekali lagi.
"Rey..," panggil Mentari yang menatap kesungguhan pria yang ada dihadapannya.
"Aku ma---," ucap Mentari yang ingin mengucapkan tapi terhalang oleh teriakan wanita yang baru datang.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Kamu itu tidak pantas, Mentari...