
Vina maupun Mentari sama-sama terkejut dengan situasi seperti ini. Pertemuannya yang sudah lama kini dipertemukan dengan tak sengaja, Mentari menatap mantan sahabatnya itu seperti aneh. Bukan sosok Vina yang dulu dengan steel cara pakaiannya berbeda dari dulu dan sekarang. Ada perbedaan Vina saat ini.
Ingin rasanya Mentari menghampiri dan bertanya, tapi itu tidak mungkin karena persahabatannya kini tak seperti dulu lagi, mencurahkan segala sesuatu diantara keduanya dan saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Vina juga merasa malu dan tak percaya diri dengan keadaannya seperti ini, tidak seperti dulu lagi yang selalu merawat dan menjaga tubuhnya dengan sendiri. Ia malu melihat Mentari jauh berbeda dari dulu dan sekarang.
Lebih dewasa dan anggun, cara berpakaiannya pun berbeda yang Vina lihat, seperti seorang wanita karir.
Saat Vina ingin kembalikan tubuhnya, ia di kagetkan dengan suara yang ia kenal.
"Maaf, menunggu," ucap Reyhan yang menarik kursi di hadapan Mentari, ini pertemuannya yang pertama dengan wanita yang dulu pernah mengisi hatinya hingga sekarang.
rekan kerjanya yang diperintahkan oleh atasannya untuk menemui klien yang penting ternyata adalah Reyhan, Mentari awalnya tak tahu dan tidak membaca proposal yang di berikan oleh asistennya .
Dan, berapa kagetnya ia harus di pertemuan dengan pria yang pernah di menetap di hatinya. Apa pertemuannya kali Mentari bahagia?
Tentu tidak.
__ADS_1
Mentari sedih dan merasa bersalah karena dirinya yang telah meninggal pria yang mati-matian mempertahankan hubungannya dengannya. Reyhan selalu meyakinkan dirinya jika ia pantas bersanding dengannya. Sempat tak di restui oleh Papahnya, dari insiden kecelakaan itu seiringnya waktu Papah Bagas pun luluh dan mau menerima Mentari jadi bagian keluarganya.
Tapi, hati kecilnya Mentari selalu menolak dan merasakan ada sesuatu yang belum ia selesaikan yaitu mewujudkan impian mendiang ibunya yang telah tiada beberapa tahun lalu.
Keduanya terdiam, tak ada yang dulu membuka percakapan antara Mentari maupun Reyhan. Kali ini Mentari merasa gugup dan tak konsen saat memulai pekerjaannya.
Reyhan hanya menatap wanita yang dulu pernah ada dan menjadi pelangi di hatinya, Mentari adalah sosok yang Reyhan cari selama ini. Ia mati-matian mempertahankan hubungannya demi wanita yang ada di hadapannya. Dan impian pun terkabulkan karena Papahnya telah merestui dan menerima Mentari sebagai calon mantunya.
Tapi, lagi dan lagi Reyhan harus di patahkan lagi hatinya karena hilangnya Mentari tanpa jejak sedikit pun. Sempat menuduh Papah yang berbuat lagi, tapi sang Papah meyakinkan jika dirinya tak menyembunyikan Mentari.
frustasi tentu saja, Reyhan yang sudah di pertemuan dengan Mentari yang sedang menjalani pengobatan jalan sampai sembuh, setelah sembuh Mentari hilang lagi seperti di tekan bumi.
Mentari terdiam, ia belum siap untuk bertemu dengan Reyhan. Ingin rasanya pergi dari hadapan pria ini. Tapi itu tidak mungkin karena sudah di pertemuan tak sengaja.
Apa ini saatnya ia harus bertemu dengannya dan meminta maaf karena telah meninggalkan dan menyakiti Reyhan yang telah baik padanya. Ia telah membalas kebaikan Reyhan dengan cara meninggalkannya demi impian mendiang ibunya.
"Sekarang kamu berbeda ya? Apa mungkin cinta mu juga sudah berbeda?" tanya Reyhan yang menusuk hatinya, ia menyadarkan masa lalunya yang telah hancur karena Mentari hilang ditelan bumi.
__ADS_1
"Maafkan, Rey," lirih Mentari, ia tidak sanggup untuk menatap wajah pria ini. Rasa malu dan bersalah karena telah meninggalkan tanpa kabar sedikit pun.
"Kenapa? Apa kamu berbuat salah?" ucap Reyhan lagi, Reyhan yang sudah cape kadang ingin menyerah dan menghilangkan nama Mentari dalam hatinya. Nyatanya itu tak gampang seperti membalikkan telapak tangannya. Cintanya begitu besar dan tulus mencintai sosok wanita yang sederhana ini.
Mentari tak kuat lagi menahan air matanya, ia tumpahkan demi rasa bersalah semakin mendalam saat Reyhan berkata seperti itu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Aku tak pantas, Rey. Aku hanya wanita pembawa sial di kehidupan mu... Yang selalu menyakitimu..