
Mentari yang bersikukuh keras ingin melihat terakhir kalinya sang ibu di makamkan, ia memohon pada Reyhan agar mengantarkan dirinya di pemakaman umum yang sedang ramai untuk mendoakan sang ibu untuk terakhir kalinya.
Badannya yang masih lemah butuh penopang untuk memegang tubuhnya yang merasa lemas karena tidak sanggup untuk di tinggalkan oleh ibunya, hanya sang ibu yang ia punya di dunia ini. Setelah ini apa yang harus ia lakukan tanpa sosok seorang ibu yang menjadi panutan dan memberi saran dan kasih sayang. Rasanya ia tidak sanggup lagi untuk bertahan di dunia ini.
Reyhan pun membopong tubuh kekasihnya sampai ke parkiran, ia yang akan mengantarkannya sampai ke pemakaman tersebut, sebenarnya ia mencegah Mentari untuk datang ke sana, tapi Mentari yang kekeh dan terus merengek meminta agar di antarkan ke sana.
Mau tidak mau, Reyhan pun menurutinya dan bergegas menuju pemakaman tersebut.
Reyhan sendiri yang mengemudikannya dengan kecepatan sedang, ia menggenggam tangan Mentari agar lebih tenang, ia melirik kearah Mentari yang masih meneteskan air matanya yang seakan menyiratkan hatinya begitu hancur.
"Sudah dong, Yang. Aku tahu di posisi kamu, ku mohon jangan kayak gini," ucap Reyhan yang meyakinkan Mentari dan menenangkan kekasihnya untuk tidak berlarut dalam kesedihan.
Mentari tidak menjawab, ia hanya melirik dan tertunduk lagi, sang ibu yang meninggalkannya sendirian. Dan dirinya yang belum bisa membahagiakan dan mewujudkan impiannya yang ingin dirinya menjadi orang sukses dan menjadi kebanggaannya.
Tapi, itu semua sia-sia, sebelum ibunya melihat dan merasakan kebahagiaannya, dirinya sudah di tinggalkan untuk selama-lamanya. Ia hanya meminta pada yang maha kuasa agar dirinya lebih lapang dada untuk menerima semuanya ini kalau pun hatinya begitu sakit dan sesak saat mengingat semua ini.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, mobil Reyhan sudah ada di tempat pemakaman tersebut, Mentari turun tanpa menghiraukan ucapan Reyhan yang memanggilnya untuk bareng ke sananya, ia ingin segera melihat jasad sang ibu untuk terakhir kalinya.
Mentari berlari, ia melihat orang-orang yang sudah ramai mendoakan mendiang sang ibu untuk terakhir kalinya.
"Tunggu," teriak Mentari yang mencegah orang yang akan menurunkan jasad sang ibu.
Semua orang menoleh dan melihat Mentari yang berlari ke arah pemakaman itu, Mentari melangkah dengan pelan saat dirinya sudah semakin dekat dengan jasad sang ibu.
Mentari melihat untuk terakhir kalinya dan duduk di atas tanah merah sambil menangis sesenggukan.
Reyhan mendekati dan memeluknya untuk menenangkan kekasihnya yang begitu kacau berantakan, ia sangat prihatin melihat keadaan sang kekasih yang kacau.
Mentari yang menurut perkataan Reyhan ia berdiri sambil memeluk tubuh Reyhan, ia butuh ketenangan dan butuh sandaran untuk menopang dirinya yang hancur ini.
Tidak jauh dari tempat itu, Vina melirik tidak suka dan menggenggam tangannya yang menahan emosinya, ia tidak boleh marah ataupun melakukan apa, karena di sini begitu ramai dan di tempat umum. Ia akan memberikan pelajaran terhadap Mentari di rumahnya.
__ADS_1
Pemakaman tersebut pun berjalan lancar, semua orang mendoakan mendiang ibu Tiara untuk terakhir kalinya, orang tuanya Reyhan pun turut datang dan mendoakannya.
Selepas itu semuanya bubar dan pergi masing-masing, Mentari duduk di atas tanah gundukan makam sang ibu. Ia memeluk nisan yang bertuliskan nama sang ibu.
"Bu, Tari sama siapa? Hanya ibu yang Tari punya," lirih Mentari yang sesenggukan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Gak usah khawatir, aku akan menikahi kamu dan menjaga kamu dan menjadi pengganti sosok ibu mu...