Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
5 tahun kemudian...


__ADS_3

5 tahun kemudian...


Mentari tidak menempati janjinya untuk menikah dengan Reyhan, ia pergi jauh setelah kakinya sembuh beberapa bulan. Pergi untuk menenangkan diri dan mewujudkan impian mendiang ibunya.


Tekadnya sudah bulat jika ia sudah sukses dan menjadi wanita karir yang telah di impikan oleh ibunya semasa hidupnya, Mentari sekarang menjalankan hidupnya dengan seorang diri tanpa bantuan siapapun termasuk Pak Ibrahim dan Om Bagas.


Sudah cukup baginya, ia akan berdiri di kakinya sendiri. Dan melupakan cinta pertamanya dengan Reyhan. Keegoisannya sendiri membuat Mentari merasakan kesedihan setiap hari selalu di hantui oleh janji yang pernah ia ucapkan.


"Pagi, Bu?" ucap wanita yang bernama Luna. Luna ini adalah asisten pribadinya di perusahaan tempat Mentari berkerja. Ia jalani hidupnya dengan seorang diri. Tanpa gangguan dan tekanan, ia bebas walaupun ada satu hatinya yang belum terselesaikan.


Mentari pergi dari Reyhan karena ia tak pantas bersanding dengan pria sempurna itu, Mentari sekarang sudah menyadarinya dan ia bertekad untuk pergi dari kehidupan putra mahkota perusahaan yang terkenal. Walaupun ia dapat restu dari Om Bagas yang tak pernah memberikan restu hubungannya ketika insiden itu tiba-tiba Om Bagas merestuinya. Apa karena Mentari telah menolongnya dan punya hutang nyawa terhadapnya.


"Pagi juga, Na." jawab Mentari yang sudah rapih untuk pergi berkerja.


"Oh iya, Bu. Kita akan berkerja sama dengan perusahaan lain di kota, Bu." Luna mengingatkan kerja sama antara perusahaan yang di percayai oleh Mentari dengan perusahaan besar yang ada di kota tersebut.


Mentari terdiam, ia mengingat sesuatu yang telah lama ia lupakan. Mengingat sosok pria yang telah mencuri hatinya sampai sekarang. Reyhan pria yang tulus mencintainya dan memberikan perhatian, kesetiaan, dan pengorbanan yang tak main-main. Tapi ia telah mengecewakannya telah meninggalkan tanpa pamit padanya.


"Apa kabar ya sekarang?" gumam Mentari sangat pelan.


"Kenapa, Bu?" tanya Luna yang berjalan beriringan dengan Mentari.


"Tidak ada, ayok," ajak Mentari yang mengalihkan perhatian asistennya.


Luna pun mengangguk dan tersenyum, bukan ia tidak peka selama ia menjabat menjadi asistennya bosnya ini selalu melamun sendiri. Entah ada masalah apa yang membuat bosnya selalu seperti itu. Sempat Luna bertanya tapi jawaban tetap sama dan mengalihkan pertanyaannya.


Sampai di perusahaan yang tak besar itu tapi sudah membuat Mentari bangga dengan kerja kerasnya sampai di titik ini. Ia selalu bersyukur karena Tuhan masih menyayanginya dan memberi kebahagiaan.

__ADS_1


Mentari duduk di kursi kebesarannya dan mengambil alih laptopnya untuk mengecek pekerjaan yang kemarin ia tunda.


Harinya ia sibukkan dengan segudang pekerjaan dan terdiam di rumah. Hanya sesekali ia jalan dan keluar bersama Luna yang menjadi teman di kantornya dan di rumahnya.


Mentari diam sejenak, ia kangen dengan mendiang ibunya yang sudah ia tinggalkan tempat terakhirnya ibunya. Ingin sekali Mentari menengok tempat istirahat terakhir ibunya untuk menyampaikan sesuatu yang telah ia capai demi impian ibunya. Jika sang ibu masih ada dan menemani sampai sekarang Mentari akan bahagia dan berbangga pada ibunya jika ia sudah berhasil walaupun tak seperti orang lain.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk..," ucap Mentari yang memberikan sahutan agar orang diluar cepat masuk.


"Permisi, Bu. Saya hanya mengingatkan sebenar lagi kita akan meeting," ucap Luna, ia mengingat bosnya yang sedang ada di ruangannya.


"Terimakasih, Na. Saya sebentar lagi akan kesana," jawab Mentari yang membereskan beberapa berkas yang akan ia meeting bersama rekan kerjanya.


Luna pun mengangguk dan pergi untuk ia siapkan juga berkas yang di minta oleh Mentari, ia akan memberikan yang terbaik di perusahaan ini sebaik mungkin.


Cek lek..


"Silahkan, Bu." ucap Luna yang mempersilahkan bosnya untuk masuk kedalam mobil.


"Terimakasih, Na." jawab Mentari, Luna adalah teman setianya di kala ia sedang kesepian dan butuh seseorang untuk menemani seorang diri di kota ini. Hanya Luna yang dapat Mentari percaya, ia masih trauma dalam memilih sahabat dekat karena Vina yang telah menghancurkan semua demi seorang pria yang sama-sama ia suka.


Mengingat Vina, ia kangen waktu kecil bersamanya dan melewati hari-hari begitu senang saat tak mengenal namanya cinta dan pria.


"Sudah sampai, Bu." dan dugaan benar, Bu Mentari selalu melamun jika bersamanya. Ada sesuatu yang bosnya pikirkan.


"Ah, iya. Yuk kita masuk," jawab Mentari yang kaget dan menyadari jika ia sudah sampai.

__ADS_1


Luna tersenyum dan turun, ia akan membukakan pintu untuk bosnya dan berjalan beriringan dengannya.


Masuk kedalam kafe dan memesan makanan yang di sukai oleh bosnya, Luna pamit untuk ke kamar mandi.


"Jika ingin sesuatu, Bu. Panggil pelayan saja ya," ucap Luna sambil bangun dari kursinya. Ia sudah tidak tahan ingin segera ke kamar mandi.


Mentari mengangguk, ia melihat menu makanan untuk melihat-lihat jika ia tertarik untuk menambah pesanannya.


"Permisi, Bu. Mau pesan apa?" ucap pelayan itu menghampiri Mentari.


Deg ..


Suara itu, suara yang Mentari kenal dan Mentari pun menengok dan betapa kagetnya ia melihat sosok wanita yang selama ia kecil selalu bersama-sama.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Vina....


__ADS_2