
Sepulang dari kampus, Reyhan masuk kedalam kamarnya tanpa menghiraukan panggilan dari Mamahnya. Ia masih marah dan kecewa atas apa yang dilakukan oleh Papahnya.
Sekarang hidup Reyhan semakin kacau dengan hubungan ia dan Mentari harus berakhir hanya karena ini. Cinta yang begitu kuat dan tulus mencintai Mentari, ia tidak pernah memandang apapun pada diri Mentari hanya ingin di cintai dan mencintai.
Tapi apa yang dilakukan oleh Papahnya selalu mementingkan egonya dan kedudukannya sebagai orang yang penting di kota ini.
"Aaargghh... Semua ini gara-gara Papah, Reyhan cuma minta satu jangan pisahkan Rey sama Mentari, apa tidak bisa..," teriak Reyhan mengeluarkan kekesalan. Momen ini yang paling di takutkan olehnya harus kehilangan orang yang ia cintai karena perbedaan.
Tok.. Tok .. Tok...
"Rey, buka pintunya Sayang, kita bicarakan dengan baik baik," ucap Mamah Sarah yang mendengar kegaduhan didalam kamar putranya.
Reyhan bergeming, ia enggan untuk membuka atau berbicara pada siapapun termasuk Papahnya yang telah memisahkan dirinya dan Mentari.
Mamah Sarah terus saja memanggil sang anak agar membuka pintu tersebut, ia takut terjadi sesuatu pada putranya yang sedang merasakan patah hati karena di tinggalkan oleh wanita yang ia cintai.
Setelah beberapa kali tidak ada sahutan membuat Mamah Sarah membuang napasnya dengan kasar, ia pergi meninggalkan kamar sang putra dan kembali ke kamarnya untuk menelpon sang suami.
.
.
.
"Ayok angkat Tar ku mohon," Reyhan berulang kali menelpon nomor telepon Mentari yang tidak ada jawaban sama sekali, begitu sulit ingin mendengar suaranya saja.
Reyhan yang khawatir dengan keadaan Mentari saat ini langsung bergegas mengambil kunci mobil dan turun untuk menemui Mentari di kos'an seorang diri. Saat ingin membuka pintu mobil Reyhan di kejutkan dengan suara Papahnya.
"Mau kemana kamu, Rey? Ini sudah sore," cegah Papah Bagas yang tahu apa yang akan dilakukan oleh putranya.
"Itu bukan urusan, Papah. Reyhan ada keperluan," sahut Reyhan memberi alasan lain agar sang Papah tidak curiga yang dilakukan olehnya.
"Kalau sampai kamu menemui wanita itu, Papah akan melakukan apa yang seharusnya terjadi, jadi menurut lah," cegah Papah Bagas yang tau putranya akan menemui wanita itu.
"Papah selalu mengancam akan menghabiskan nyawa Mentari, salahnya apa sama Papah? Hingga Papah begitu membencinya," tanya Reyhan.
"Banyak, dan dia anak tidak tahu asal usulnya dan Papah tidak mau merasakan malu saat mempunyai menantu seperti dia," jelas Papah Bagas.
__ADS_1
"Dia juga tidak ingin seperti ini, Pah. Seharusnya Papah ngerti perasaan Reyhan dan Mentari yang saling mencintai," balas Reyhan agar sang Papah bisa luluh.
"Tidak bisa ya tidak bisa, Rey. Perkataan papah tidak bisa di ganggu gugat lagi," ucapnya sambil berlalu meninggalkan putra semata wayangnya yang masih kecewa terhadapnya.
"Papah selalu egois mementingkan keinginannya dan tidak memperdulikan Reyhan dengan perasaan yang Rey rasakan," teriak Reyhan . kesal dengan perkataan Papah yang selalu keras kepala tidak mau di ganggu gugat.
Reyhan yang memaksa pergi ke kos'an Mentari, kali ini ia akan mengambil keputusan untuk hubungan dengan Mentari walaupun Mentari telah memutuskan hubungan secara sepihak. Reyhan masih ingin mempertahankan cintanya pada Mentari.
Jalanan yang begitu ramai di jam sore membuat Reyhan mengumpat kesal karena kemacetan. Ingin Reyhan memarahi kendaraan yang ada di depannya segera menyingkir tapi itu tidak mungkin, Reyhan hanya bisa kesal saat ini. Setibanya di tempat kos'an Mentari, Reyhan memarkirkan mobilnya dengan asal ia ingin segera menemui sang pujaan hatinya.
Sampai di depan kos'an Mentari, Reyhan mengetuk pintunya sampai berulang kali, tapi tidak ada sahutan dari dalam sana membuat Reyhan panik karena khawatir dengan keadaan Mentari.
Reyhan menelpon nomornya tapi nomor tidak nyambung, apakah Mentari memblokirnya pikir Reyhan.
"Aaargghh..," teriak Reyhan mengeluarkan kekesalannya.
Ada seseorang yang lewat melihat kelakuan pria yang lagi frustasi di depan kos'an tersebut.
"Kenapa, Nak?" tanya ibu ibu yang nyamperin Reyhan.
"Ibu lihat penghuni kos'an ini?" tanya Reyhan, mungkin ibu ini tahu sesuatu pada Mentari.
Tanpa berpikir panjang lagi Reyhan langsung bangkit untuk menemui yang punya kos'an tersebut. Ia berlari ingin segera menanyakan tentang keberadaan kekasihnya.
Tok... Tok..
Ketukan pintu terus Reyhan layangkan, ia yang ingin segera tahu dan tidak sabar ingin segera mendapatkan informasi tentangnya.
Ceklek...
"Asalamualaikum," sapa Reyhan, ia juga tidak meninggalkan kesopanan bertamu di rumah orang.
"Waalaikumsalam, siapa ya?" tanya ibu kos tersebut.
"Ibu saya mau bertanya, kalau yang ngekos di ujung sana yang bernama Mentari kemana ya?" tanya Reyhan dengan was was.
Ibu kos itu terdiam, ia menatap kearah pria yang ada di hadapannya sekarang.
__ADS_1
"Tolong, Bu. Kasih tau saya," mohon Reyhan yang sudah frustasi.
"Satu jam tadi dia pamit dan menyerahkan kunci kos'an ini pada saya," jawab Ibu kos'an itu.
Deg...
Pergi. Pergi kemana Mentari? Reyhan mengusap tengkuknya dan memandang ke arah ibu kos'an yang meminta bantuan kemana perginya Mentari.
"Apa ibu tahu Mentari pergi ke mana?" tanya Reyhan lagi.
Ibu kos'an itu menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu dia pergi kemana,"
Reyhan pamit ia meninggalkan tempat itu untuk mencari keberadaan Mentari. Saat ia akan masuk kedalam mobilnya tiba-tiba seorang wanita menghampirinya.
"Tunggu Kak," cegah seorang wanita yang masih sekolah.
"Iya ada apa?"
"Dengan kak Reyhan kan?" tanya wanita itu untuk memastikan.
"Iya,"
"Ini ada surat dari kak Mentari," ucap wanita itu yang menyerahkan surat dari Mentari.
"Terimakasih," ucap Reyhan yang mengambil surat itu. Ia memegang surat ini dan mulai menitikkan air matanya karena yang ia bayangkan terjadi juga.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Apa kamu sudah merencanakan semuanya, Tar. Meninggalkan aku dengan cinta yang masih tertinggal di hatiku...