
Selesai pertemuannya dengan Reyhan, Mentari yang dianterin pulang oleh Reyhan sampai di kediaman pak Ibrahim, Mama Lita yang melihatnya langsung menghampiri keduanya yang baru turun dari mobil Reyhan.
"Assalamualaikum, Tan," sapa Reyhan yang mengalami tangan paruh baya tersebut.
"Waalaikumsalam, Nak Reyhan. Sudah dari mana?" tanya Mama Lita yang basa basi.
"Keluar bersama dengan Mentari Tante," jawab Reyhan dengan jujur, ia tidak akan menyembunyikan hubungannya lagi pada orang tuanya Vina, karena ia sangat mencintainya dan tidak mau kehilangan Mentari.
Mama Lita mengangguk, ia menatap kearah Mentari dengan tatapan yang tidak suka, apa ini ada hubungannya anaknya pulang menangis gara-gara Mentari pergi sama Reyhan. Kalau benar ia akan menghukum Mentari.
"Saya permisi dulu, Tante." pamit Reyhan pada Mama Lita.
Mama Lita mengangguk dan menyodorkan tangannya untuk segera Reyhan menciumnya dengan takzim. Ia ingin segera bertanya dan memberi pelajaran pada Mentari yang sudah mengecewakannya dan tidak patuh terhadapnya.
Setelah Reyhan berlalu, Mentari ingin masuk tapi di cegah oleh Mama Lita yang ingin berbicara dengannya.
"Mama sudah peringatkan sama kamu Mentari, jauhi Reyhan. Apa yang saya bicarakan sama kamu tidak paham, hah. Harus pakai cara apa lagi untuk kamu bisa mengerti dan memahami ucapan saya, kamu tidak selevel sama keluarga Reyhan, dia itu keluarga terkaya di kota ini, sedangkan kamu hanya anak pembantu yang tidak tahu diri dan tidak tahu terimakasih pada keluarga saya yang sudah menampung dan membesarkan kamu, kurang apa suami saya memperlakukan kamu layaknya anak sendiri, ini balasan kamu," ucap Mama Lita dengan lantangnya. Ia sudah muak dengan kelakuan Mentari yang membantahnya.
Mentari hanya tertunduk dan diam, ia juga sudah menjelaskan tentang ini pada Reyhan, tapi Reyhan justru mempertahankannya tidak mau mengakhiri hubungan ini. Jadi bukan salahnya juga walau ia masih ada di posisi ini.
"Tapi, Mah." sahut Mentari yang ingin membela diri.
"Tidak usah panggil aku Mama lagi, kecuali kamu menuruti kemauan saya," protes Mama Lita dengan sorot mata yang tajam.
Deg...
Panggilan yang sudah melekat pada diri Mentari harus berakhir hanya karena masalah ini, ia tidak menyangka bahwa Mama Lita akan berbuat sejauh ini untuk memisahkan dirinya dengan Reyhan. Apa salahnya kalau ia juga ingin mempertahankan cintanya pada Reyhan.
__ADS_1
"Jangan kayak gini, Mah. Tari mohon." ucap Mentari yang tertunduk dan bersimpuh di kaki Mama Lita, agar Mama Lita memahami perasaannya yang juga ingin mempertahankannya.
Keributan di depan rumah pun di dengar oleh orang-orang termasuk ibu kandung Mentari yang menghampiri ingin tahu di depan sana.
"Marni ada apa ya, kok berisik banget," tanya ibu Tiara.
"Gak tau, Mbak. Saya juga ingin melihatnya," jawab Mbak Marni yang juga penasaran.
Keduanya berjalan beriringan menuju teras depan, ingin tahu tentang keributan yang menggangu istirahatnya yang mulai larut malam.
Sampai di teras, ibu Tiara melihat sang anak yang bersimpuh di hadapan majikannya. Ia yang heran hanya memandang lalu mendekati anak dan majikannya.
"Ada apa ini Nyonya?" tanya ibu Tiara yang heran melihat sang anak.
Mentari yang melihat ibunya ada di sini langsung beranjak dan menghapus air matanya. Ia tidak boleh ketahuan sama ibunya kalau ia sedang ada masalah sama majikannya.
"Gak ada apa-apa, Bu." jawab langsung Mentari agar Mama Lita tidak memperkeruh suasana yang semakin kacau. Ia takut dengan kondisi ibunya yang sudah sakit-sakitan karena penyakitnya yang belum sembuh total.
"Maksud, Nyonya. Apa? Saya tidak mengerti." sahut ibu Tiara yang tidak paham dengan apa yang di ucapkan oleh majikannya.
Mentari menggelengkan kepalanya pada Mama Lita agar tidak melanjutkan ucapannya tentang masalah p menyelesaikannya dan mencari jalan keluarnya.
Mama Lita pun melihat kearah Mentari dan ibu Tiara, setelah itu ia berlalu meninggalkan mereka yang begitu kebingungan melihat reaksi Mama Lita yang tidak meneruskan ucapannya.
Mentari menarik napasnya dan membuang perlahan, ia melihat kearah ibunya dengan tatapan ingin meminta penjelasan yang terjadi malam ini. Mentari tahu dengan tatapan sang ibu, ia harus bagaimana untuk menjelaskan dan menceritakan tentang masalah ini pada ibunya. Rasa tidak tega dan khawatir pun menyelinap di hatinya, Mentari takut terjadi sesuatu pada sang ibu setelah mengetahui masalah ini.
"Tari, apa yang terjadi? Tolong, Nak. Jangan sembunyikan sesuatu pada ibu," mohon ibunya pada sang anak.
__ADS_1
"Kita masuk dulu ya, Bu. Ini sudah malam, kita bicarakan di kamar Tari saja," titah Mentari yang merangkul bahu ibunya.
Semua orang pun yang melihat keributan tadi pun membubarkan diri masing-masing, karena ini sudah larut malam dan tidak enak walau ada yang lihat ada keributan di tengah malam tersebut.
Sesampainya di kamar Mentari, keduanya duduk bersampingan di pinggir ranjang dengan wajah sama-sama berbeda. Mentari yang ragu untuk menceritakannya dan sang ibu yang ingin mengetahui masalah ini.
"Ceritakan semua, jangan ada yang di sembunyikan lagi dari ibu," sahut ibu Tiara yang dingin.
Dalam keheningan sesaat, Mentari melihat kearah ibunya dan menarik napas dan membuangnya perlahan. Ia juga tidak mungkin menyembunyikan lebih lama lagi, hari ini atau pun esok pun ibunya pasti akan mengetahui masalah ini. Mentari takut ibunya mengetahui masalah bukan dari mulutnya melainkan dari orang lain, semakin kecewanya ibunya terhadap dirinya.
Satu jam, akhirnya Mentari menceritakan semua pada sang ibu, dan benar saja ibunya langsung menangis setelah mengetahui ini.
"Maafkan Tari, Bu. Ini juga bukan kemauan Tari, tapi Reyhan juga tidak mau hubungan ini berakhir, Tari juga paham dengan kondisi ini, apakah Tari harus mengalah lagi demi Vina, Bu. Tari juga ingin bahagia seperti yang dirasakan olehnya," lirih Mentari yang sudah berderai air mata.
"Iya, ibu mengerti dengan perasaan kamu, Nak. Tapi masalahnya kalian mencintai satu pria yang sama, ibu juga harus berbuat apa Mentari, kita hanya orang rendahan dan tidak pantas untuk mereka," ucap ibu Tiara yang juga tidak tega melihat keadaan putrinya.
"Jadi ibu mohon sama kamu, jauhi Reyhan demi ibu, Tari. Jangan keras kepala dan bikin ibu kecewa sama kamu, hanya kamu satu-satunya orang yang ibu miliki di dunia ini." pinta ibunya yang memohon agar sang anak menjauhinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tari mohon, Bu. Kali ini saja Tari ingin mempertahankan apa yang sudah menjadi milik Tari...
.