
"Ayok bicara, sekarang mau kamu apa?" tanya Reyhan yang melepaskan tangannya dari genggaman tangan Mentari.
Mentari menunduk, ia yang mengutarakan perasaannya hilang begitu saja saat didepan Reyhan langsung. Apa yang harus ia lakukan.
"Tari...," panggil Mentari sambil mengangkat dagu Mentari agar bisa menatapnya.
Seketika pandangan keduanya bertemu, Reyhan melihat mata Mentari yang penuh damba begitu juga dengan Mentari. Ada rasa cinta diantara keduanya tapi tertahan ketika membayangkan rekaman itu. Reyhan yang tidak sanggup untuk memandang wajah dari wanita yang ia sangat mencintai itu mulai menurunkan tangannya.
Saat itu juga Mentari memberanikan untuk menyentuh tangan Reyhan yang tadi memegang dagunya.
"Rey..," ucap Mentari, membuyarkan keheningan sesaat.
"Apa? Aku yang terlalu berharap padamu, mungkin aku terlalu tidak sabaran untuk mengungkapkan perasaan ini yang bertepuk sebelah tangan." balas Reyhan dengan senyum miringnya tanda ada luka yang harus ia sembunyikan.
"Aku mohon, dengerin dulu penjelasan aku." rengek Mentari yang memohon kepada Reyhan agar mendengar alasannya.
"Untuk apa lagi, Tar. Aku udah dapat jawaban ya kan," balas Reyhan lagi.
"Terimakasih atas luka yang engkau berikan padaku, semoga kamu mendapatkan seorang yang lebih baik lagi dari aku, permisi.." ucap Reyhan yang akan meninggalkan Mentari seorang diri, ia tidak mungkin ada didekatnya setelah apa yang Mentari katakan padanya.
Baru Reyhan melangkah satu langkah teriakan Mentari menghentikan langkahnya.
"Aku juga mencintai kamu, Rey." teriak Mentari dengan suara gemetarnya.
Reyhan terdiam, ia mematung dan mencerna ucapan Mentari barusan, apa ini benar, ia tidak salah dengar, ini nyata, ini bagaikan sebuah sesuatu yang langka menurut Reyhan. Segera Reyhan membalikkan badannya dan menatap Mentari lekat-lekat.
"Apa yang kamu omongin tadi benar, Tari. Kamu gak lagi bercanda kan," tanya Reyhan yang menghampiri Mentari.
Mentari menggelengkan kepalanya, itu memang benar. Ia harus jujur pada dirinya sendiri bahwa ia juga sangat mencintainya, tidak peduli apa yang akan terjadi esok dan seterusnya. Hatinya ingin mengatakan itu.
"Jawab jujur Mentari, apa kamu juga mencintaiku?" tanya Reyhan yang menggenggam tangan Mentari.
__ADS_1
Mentari mengangguk pelan tanda ia juga mengiyakan ucapan Reyhan. Tanpa berpikir Reyhan segera memeluk Mentari ia begitu bahagia atas jawaban Mentari, walaupun dengan anggukan kepala.
"Terimakasih, Tar. Kamu sudah mau menerima cintaku." ucap Reyhan memeluk Mentari dengan erat, rasa bahagianya
Mentari mengangguk, ia benamkan wajahnya di dada bidang Reyhan yang begitu nyaman.
Tanpa di duga keduanya diperhatikan oleh seseorang yang tak jauh dari mereka.
Ehemm...
Ucap Mama Sarah yang membuyarkan keduanya, dan seketika kedua melepaskan pelukannya. Keduanya menjadi salah tingkah di buatnya.
"Kalian lagi ngapain?" tanya Mama Sarah.
"Gak ngapa-ngapain, Mah. Kita, em kita..," ucap Reyhan yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia harus bagaimana untuk menjelaskan kepada sang Mama tentang kabar yang bahagia ini.
"Berduaan di sini, gak tau malu ya kalian, kalau bukan Mama yang memergoki kalian, entah apa yang kalian lakukan ditempat sepi ini," oceh Mama Sarah yang menghampiri sang anak yang wajah bahagianya. Segera Mama Sarah menjewer telinga sang anak agar masuk ke dalam ruangannya.
"Aduduh Mah sakit, aw sakit, lepaskan Mah." rengek Reyhan yang ingin dilepaskan telinganya yang dijewer oleh sang Mama.
"Kamu juga Tari, ikut Tante." ajak Mama Sarah.
Ketiganya masuk ke dalam menuju ruangan Mama Reyhan, sesampainya di ruangan semuanya duduk di sofa yang ada diruangan ini.
"Kalian mau jelasin, apa Mama yang bertanya," tanya Mama Reyhan menatap keduanya.
"Mah. Rey sayang sama Mentari, tolong restui kami." ucap Reyhan dengan penuh keyakinan.
"Mamah sih, setuju saja, asal kalian jangan terlalu berlebihan dalam hubungan ini, belum muhrim. Mengerti?" jelas Mama Sarah.
"Yes, terimakasih, Mah." balas Reyhan langsung memeluk sang Mama.
__ADS_1
"Ya Allah, Tar. Ini yang mau kamu jadikan pacar, lihat deh manja banget sama Tante," adu Mama Sarah pada Mentari.
Mentari tak menjawab, ia bingung harus menjawab apa, rasa malu yang luar biasa yang dipergoki oleh Mama Reyhan.
"Tari, kenapa mau sama anak Tante?" tanya Mama Sarah pada Mentari.
"Mana apa-apaan sih, tanyanya kayak gitu, ya jelaslah Mentari mencintai anak Mama juga yang ganteng gak ketulungan." ucap Reyhan dengan narsisnya.
"Eh, anak nakal. Kata siapa kamu ganteng? Jangan kepedean jadi orang.." protes Mama Sarah kepada sang anak yang begitu narsis.
"Hehehe, pis Mah." balas Reyhan sambil mengangkat dua jarinya.
Mentari hanya menjadi pendengar saat perdebatan antara Mama Sarah dan Reyhan, ia senang melihat keduanya begitu hangat, seketika mengingat sang ibu yang ada dirumah.
"Tar, kamu kenapa?" tanya Reyhan yang pindah duduknya di samping Mentari.
"Aku gak apa-apa, Rey. Cuma ingat ibu saja." jawab Mentari yang tersenyum. Reyhan menggenggam tangan Mentari yang menjadi kekasihnya sekarang.
.
.
.
.
.
.
Kita harus rayakan hubungan kita yang pertama, gimana???
__ADS_1