
"Tolong jangan ganggu aku dulu," ucap dingin Reyhan, ia fokuskan melihat buku.
"Tapi, Rey!" ucap Mentari lagi.
"Tar, kalau Reyhan tidak mau ngomong sama kamu jangan dipaksa, kamu paham gak sih," ketus Vina yang mulai berani membentak sahabatnya, sebenarnya Vina juga ragu mengatakan semua ini. Tapi, apa boleh buat demi cintanya pada Reyhan ia korbankan sahabatnya dari bayi.
Mentari terdiam, ia mematung di kursi tempat duduk Reyhan. Perkataan Sahabatnya membuat ia sadar, tak selamanya sahabat akan menjadi seorang yang ia harapkan ketulusannya dalam pertemanan sejak kecil. Mentari mengenal Vina dengan sosok yang lembut tapi sekarang apa yang ia lihat dan dengar, berbanding balik dengan sikapnya berubah 180 derajat Celcius. Bagaikan bukan Vina yang ia kenal.
Mentari tidak bertanya lagi, ia duduk kembali di kursinya. Hatinya sakit saat di abaikan oleh orang yang selama ini ia abaikan.
Begini ternyata saat rasa sudah ada, di abaikan begitu sakit.
Tak berselang lama dosen pun masuk ke dalam kelas dan memulai pembelajarannya, Mentari jadi tidak fokus saat dosen menerangkan materi yang ada di depan. Dosen pun bertanya dan menghampiri yang sedang melamun entah itu apa yang sedang Tari lamunan.
"Tari...," panggil dosen tersebut.
"Iya, Pak. Maaf," lirih Mentari yang menunduk, ia merutuki kebodohannya saat pelajaran di mulai. Hati dan pikirannya entah kemana? Membuat menyesal yang tidak fokus dalam belajar.
"Kalau kamu tidak ingin mengikuti pelajaran saya, cepat keluar. Saya tidak mau ada mahasiswa yang tidak konsen saat saya menerangkan materi yang saya bawa, dan saya tidak mau mengulanginya lagi, paham!" jelas dosen itu penuh dengan tegas.
Semuanya mengangguk termasuk Mentari, ia tidak boleh mencampur adukkan tentang perasaannya dan pendidikannya. Ia harus lulus dengan nilai yang terbaik, untuk membanggakan ibunya yang selalu ada untuknya.
Mentari pun fokus tidak memikirkan sesuatu tentang yang tadi terjadi, ia akan menyelesaikan setelah pulang dari kampus dan membicarakan pada Reyhan.
Selesai jam kelasnya pertama, semua mahasiswa dan mahasiswi keluar untuk makan siang atau pun sekedar ke perpus untuk mencari buku.
Mentari masih duduk di kursinya, ia melirik kearah Reyhan yang belum juga beranjak dari duduknya. Mentari takut untuk menghampiri dan memulai percakapan tentang tadi pagi, ia takut di tolak seperti tadi Reyhan katakan.
Mentari memberanikan diri walaupun rasa takut dan gugup menghantui nya.
"Rey..," panggil Mentari yang menunduk.
Reyhan tidak menjawab, ia diam dengan wajah tertunduk, hatinya sakit saat membayangkan rekaman suara yang diputar oleh Vina. Segitu bencinya Mentari terhadapnya tanpa memandang dirinya yang begitu mencintainya dengan tulus dari hatinya.
__ADS_1
"Ayok, Rey. Kita ke kantin yuk?" ajak Vina yang memegang tangan Reyhan. Ia akan menunjukkan pada Mentari yang dirinya yang berhak atas pria dihadapannya.
Tanpa berpikir, Reyhan beranjak dan menghiraukan ucapan dan panggilan Mentari padanya, hatinya terlanjur sakit sebelum ia menerima atau pun menolaknya.
Berlalunya Reyhan dan Vina, membuat Mentari membuang napas kasarnya. Ia harus bagaimana untuk menjelaskan tentang rekaman itu pada Reyhan, ia merutuki kebodohannya saat di tanya oleh Vina, dan bodohnya Vina merekam pembicaraan tentang itu.
Mentari yang merasa lemas, ia keluar dari kelasnya menuju perpus. Ia akan menenangkan hatinya dengan buku yang ia baca di perpustakaan.
Melangkah dengan pelan dan perasaan yang begitu sulit untuk diartikan. Semua yang melihatnya mencibirnya dan mengatakan tentang dirinya yang tidak-tidak. Mentari tak menghiraukannya ia tetap berjalan menuju tujuannya.
.
.
.
Selesai kelas kedua, Mentari langsung pergi ke tempat kerjanya. Ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang, ia akan mampir untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Makan siangnya yang terlewatkan begitu saja.
Mentari memarkirkan motornya, dan masuk ke dalam warung makan pinggir jalan. Untuk mengisi perutnya, setelah itu ia akan pergi untuk berkerja.
"Mentari, di panggil sama Ibu sarah," titah karyawan lain.
"Iya, terimakasih. Saya akan ke sana," sahut Mentari yang tersenyum. Segera ia bergegas menuju ruangan bosnya.
Tok... Tok... Tok ..
Mengetuk pintu dengan perasaan yang cemas, ada apa ia sampai di panggil.
Sahutan dari dalam pun terdengar, segera membuka pintu dan masuk kedalam.
"Permisi, Bu. Tadi memanggil saya?" tanya Mentari melihat ke depan.
"Duduk," titah ibu Sarah.
__ADS_1
Mentari pun menurut, ia duduk di kursi berhadapan dengan ibu Sarah hanya terhalang meja saja.
"Maafkan saya ya, kejadian yang kemarin malam, menyuruh mu mengantarkan pesanan itu dengan kejadian yang tidak terduga sebelumnya. Saya tidak tahu, kalau Reyhan yang memberitahukan semua itu pada saya, sekali lagi saya minta maaf," ucap Ibu Sarah Mama Reyhan. Mentari terdiam, ucapan terimakasihnya pada dirinya membuat Mentari mengingat sesuatu yang pernah pria itu lakukan untuknya. Beberapa kali Reyhan menolongnya tanpa menghiraukan keadaannya saat menolongnya.
Ia begitu bodoh telah mengabaikan ketulusan hati dari seorang pria yang begitu tulus mencintainya.
"Saya sudah memaafkannya, ini juga bukan salah ibu Sarah, saya juga baik-baik saja, anak ibu yang menolong saya, kalau tidak ada dia mungkin saya gak tau akan terjadi apa dengan saya," sahut Mentari yang mengingat kejadian kemarin malam bersama Reyhan.
Ibu Sarah pun tersenyum, ia lega setelah mengatakan itu semua pada Mentari.
"Ya udah sekarang kamu kembali lagi kerja," titah ibu Sarah.
Mentari mengangguk, ia beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan ini untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Saat ia membuka pintu, ia kaget melihat Reyhan ada didepan pintu depan wajah terkejutnya sama seperti dirinya. Sesaat kemudian keduanya menyadari dan menjadi salah tingkah.
"Rey..," ucap Mentari dengan pelan, tapi masih di dengar oleh Reyhan.
Reyhan terdiam, ia memandang Mentari yang menunduk. Ia menariknya ke samping bangunan butik tempat Mamanya.
Mentari kaget saat tangannya ditarik oleh Reyhan menuju tempat yang begitu sepi. Ia menuruti tanpa penolakan darinya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ayok bicara, sekarang mau kamu apa?