Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Salah paham..


__ADS_3

"Lepaskan.. Jangan ganggu pacarku," teriak Reyhan yang entah datang dari mana, membuat Mentari merasa lega saat kedatangan Reyhan yang tepat waktu.


Reyhan menghampiri dan menarik pergelangan tangan Mentari, agar wanita yang ia cintai tidak disentuh lagi oleh orang-orang pria asing ini.


"Jangan ikut campur anak muda," sahut salah satu dari mereka.


Saat mendengar ucapan itu, Reyhan segera menghampiri, tapi dicegah oleh Mentari yang menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mau hal yang terjadi pada Reyhan. Kemarin juga Mentari sempat syok melihat Reyhan terkapar tidak berdaya gara-gara tolongin nya, ia tidak mau kejadian itu berulang.


"Jangan Rey, ku mohon." rengek Mentari memohon agar Reyhan tidak berkelahi lagi dengan orang-orang tersebut dengan jumlah lebih banyak.


"Kamu tenang ya, minta bantuan pada siapapun di sana, aku akan menghandle orang-orang ini," jawab Reyhan yang meyakinkan Mentari agar tidak cemas.


"Tapi, Rey." ucap Mentari dengan air mata yang menetes. Reyhan yang melihatnya langsung menghapus air mata di pipi wanita pujaannya.


"banyak drama, serang...," ucap mereka.


Perkelahian itu pun terjadi, Mentari pun mundur dan berlari untuk meminta bantuan siapapun yang ada di sana, ia tidak mau terjadi sesuatu pada Reyhan.


Reyhan pun bisa menanganinya dengan cepat dan lihai, ada tiga orang yang menyerangnya dengan bersamaan membuatnya bisa harus waspada saat penyerangan terhadap dirinya.


Mentari yang melihatnya hanya menangis dan menjerit meminta pertolongan pada siapapun, ia harus berusaha agar Reyhan tidak terjadi apa-apa.


Dari kejauhan, Mentari melihat mobil itu, ia akan menghentikan kendaraan itu dan meminta bantuan pada orang itu.


"Berhenti...," teriak Mentari yang menghentikan laju mobil itu. Membuat si pengendara mendadak mengerem sekaligus dari pada ia menabrak orang yang ada didepannya yaitu Mentari.


Orang itu turun saat melihat Mentari ada dihadapan mobil. "Mentari," ucap Chiko yang kaget dengan kelakuan Mentari barusan, membahayakan nyawanya.


"Ngapain berdiri di tengah jalan," tanya Chiko yang menghampiri teman satu kampusnya.


"Tolongin aku, Chik." pinta Mentari dengan tangisan yang begitu sedih.


"Kenapa?" tanya Chiko.


"Bantuin aku, Reyhan lagi dikeroyok oleh orang-orang," ucap Mentari yang menarik tangan Chiko agar mengikuti langkahnya.


Sesampainya ditempat kejadian, Reyhan mulai kewalahan menghadapi tiga orang tersebut, membuat Mentari menangis dan meminta bantuan pada Chiko. Tanpa menoleh Chiko pun bertarung dan melawan orang itu untuk membantu Reyhan.


Perkelahian pun dimenangkan oleh Reyhan dan Chiko, rasa syukur saat melihatnya Mentari bahagia dan senang, ia langsung menghampiri keduanya dengan napas yang beraturan.


"Alhamdulillah, Rey, Chik. Kalian selamat," ucap Mentari yang bahagia.


"Rey, muka mu," tanya Mentari yang menyentuh bibir Reyhan yang terluka.

__ADS_1


"Ini tidak apa-apa, cuma luka kecil saja, kamu gak apa-apa, kan?" tanya Reyhan yang mengkhawatirkan keadaan Mentari.


"Aku tidak apa-apa, Rey. Aku akan obati luka kamu, tunggu sebentar," jawab Mentari yang berlalu meninggalkan Reyhan, ia akan membeli plaster dan air minum.


"Tar, kok Reyhan saja yang ditanya, aku gak?" ucap Chiko yang kesal tidak diperhatikan oleh Mentari.


"Kamu tidak apa-apa," sahut Reyhan melirik kearah Chiko.


"Gak apa-apa gimana!! Badan aku pada pegel pegel nih, gara-gara nolongin kamu," protes Chiko yang tak terima dengan ucapan pria disampingnya.


Beberapa menit, Mentari datang dengan minuman yang ada ditangannya dan plaster untuk menutupi luka pada pinggir bibir Reyhan. Mentari membersihkan dan menempelkan plaster itu pada luka, membuat Reyhan meringis kesakitan saat luka itu di pegang oleh Mentari.


Tapi, ia sangat beruntung bisa melihat lebih dekat lagi dengan Mentari, wajah cantik alami yang dimiliki oleh Mentari, mata, hidung, dan bibir tidak luput dari penglihatan Reyhan. Rasa yang berdenyut merasakan getaran didalam hatinya membuat ia salah tingkah di buatnya.


"Selesai," ucap Mentari memberikan air minum untuk Reyhan.


Keduanya saling menatap sesaat, ada rasa yang berbeda yang mereka rasakan, tatapan yang begitu dalam di keheningan malam ini.


Ehemm...


Ucap Chiko yang membuyarkan lamunan mereka berdua, membuat keduanya salah tingkah.


"Gue gak ditanya, Tar. Gak diobati," rengek Chiko yang membuyarkan keheningan sesaat.


"Tega sekali kamu, Tar," ucap Chiko yang pura-pura merajuk.


Reyhan yang melihatnya langsung berdiri, dan menghampiri Mentari yang ingin berbicara pada Chiko.


"Tar, sudah malam, aku anterin ya," ajak Reyhan, malam sudah larut.


Mentari tidak menjawab, ia melirik kearah Chiko meminta bantuan lagi padanya.


"Maaf, Tar. Aku gak bisa anterin kamu, soalnya aku ada keperluan mendadak, ini juga aku buru-buru," jawab Chiko yang tahu maksud dari sorotan dari Mentari.


Mentari hanya bisa pasrah, ia akan diantarkan oleh Reyhan pulang ke rumahnya.


"Yuk," ajak Reyhan yang lebih dulu melangkah. Mentari yang mengikuti langkahnya dari belakang.


.


.


.

__ADS_1


Sesampainya di kediaman rumah Vina, Mentari turun dari mobil Reyhan, ia juga berterima kasih kepada Reyhan semua yang dilakukan olehnya terhadapnya, menolongnya untuk kedua kalinya dan mengantarkan ia pulang dengan selamat.


Sampai di gerbang, ia dikagetkan oleh suara yang tidak asing bagi Mentari.


"Dari mana kamu, Tar." tanya Vina yang sudah ada dihadapannya.


"Astagfirullah, Vin. Bikin kaget saja," ucap Mentari yang mengelus dadanya.


"Jawab aku, dari mana?" tanya Vina lagi.


"Habis pulang kerja," jawab Mentari.


"Kerja atau kelayapan," bentak Vina.


Seketika Mentari diam, baru ia mendengar suara tinggi dari sahabatnya.


"Iya, Vin. Habis kerja,"


"Jangan bohong ya, Tar. Lo habis main kan sama Reyhan," tanya Vina yang penuh selidik.


Mentari menggelengkan kepalanya, tuduhan itu tidak benar.


"Terus kenapa kamu bisa pulang bareng sama Reyhan, pake baju kamu basah lagi,"


"Beneran Vin, aku gak kayak yang kamu pikirkan, aku bisa jelasin," ucap Mentari yang meyakinkan sahabatnya.


"Aku gak percaya lagi sama kamu, Tar," jawab Vina yang meninggalkan Mentari seorang diri didepan gerbang.


Mentari terdiam, ia harus bagaimana untuk menjelaskan tentang ke salah pahaman ini. Mentari membuang napas dengan kasar.


.


.


.


.


.


.


Gimana ini, Vina pasti marah dan merajuk padaku..

__ADS_1


__ADS_2