
"Tunggu, mempelai wanita ada di sini," sahut Papah Bagas yang menghentikan acara ijab Kabul tersebut. Semua orang menoleh kearah suara yang ada di ambang pintu tersebut, terutama Reyhan yang tahu suara Papahnya yang menghentikan acara tersebut.
Ia melihat Papahnya bersama orang yang ia cari selama ini, orang yang ia cintai tanpa sarat apapun ia memilihnya dengan rasa cintanya yang luar biasa.
Reyhan bangun dari duduknya, ia menghampiri dengan perlahan namun pasti. Apa yang ia lihat sekarang bukan sekedar mimpi atau bayangannya saja.
Wanita yang sudah menempati hatinya sejak ia pindah kuliah dari luar kota hingga menetap di kota kelahirannya, ia begitu jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat sosok Mentari yang begitu mandiri dan berbeda dari wanita lain yang pernah ia temukan.
Melangkah dengan pelan sampai ada di hadapannya sekarang, ia berlutut untuk menyamakan dengan wanita yang sedang duduk di atas kursi roda.
"Apa ini kamu, Tar?" tanya Reyhan yang ingin memastikan bahwa pandangan tidak salah kalau yang ada dihadapannya sekarang adalah orang yang selama ini ia cari.
Mentari hanya tertunduk, ia bingung saat ini. Ada rasa bahagia karena telah bertemu dengan pria yang ia cintai dan ada rasa bersalah karena telah menghentikan acara yang sebentar lagi akan dimulai.
Reyhan mengangkat wajah yang selama ini menemani hari harinya. Rasa rindunya pada sosok wanita yang ada di hadapannya sekarang begitu menggebu. Tanpa berpikir panjang Reyhan langsung memeluknya tanpa menghiraukan sekitarnya.
__ADS_1
Ia tidak perduli pada semua orang yang ia inginkan hanya Mentari dan Mentari saja.
"Aku merindukan mu, sayang." bisik Reyhan yang ada di pelukan Mentari tepatnya ia yang memeluk wanita ini. Mentari hanya terdiam, ia tidak membalas pelukan Reyhan yang juga ia rindukan selama ini.
Saat semua orang memandang kearah Reyhan dan wanita yang ada di kursi roda membuat semua orang bertanya-tanya dengan kejadian ini. Ada rasa penasaran setiap orang dewasa mempelai pria yang tiba-tiba meninggal tempat ijab kabul dan berjalan menuju wanita tersebut.
Ada kemarahan yang dirasakan Vina saat ini, ia seperti ditipu oleh Om Bagas karena pria seolah ada di pihak dirinya. Namun, apa yang ia lihat sekarang, dia membawa Mentari disaat beberapa menit lagi akan menjadi nyonya Reyhan yang resmi. Tapi, lagi lagi ia terkejut dengan tindakan Papahnya Reyhan yang bikin ia marah saat ini.
"Apa apaan nih, Rey. Ayok kita lanjutkan acaranya," titah Vina sudah ada di hadapannya sekarang. Ia tidak terima harus diperlakukan seperti ini yang di permalukan karena gagal menikah dengan orang yang ia cintai ini.
"Maafkan Om, Vin. Om tidak ingin memisahkan antara Mentari dan Reyhan yang saling cinta, cinta mereka begitu kuat, dan susah untuk di pisahkan." jelas Papah Bagas pada Vina.
"Gak bisa kayak gitu dong, Om. Reyhan harus menikahi Vina, titik." ucap Vina yang begitu lantang karena amarahnya tidak bisa tertahankan.
Kedua orang tuanya juga mendekati dan menenangkan sang putri yang sedang marah-marah tidak terima, Mamah Vina pun tidak terima dan ia tidak ingin malu di depan teman arisannya karena kegagalan putrinya yang telah gagal menikah.
__ADS_1
"Jangan kurang ajar ya, saya juga tidak terima dengan ini, dan kamu wanita tidak tau diri sudah di tampung dan di rawat hingga sekarang malah menghancurkan kebahagiaan putri ku, dasar wanita cacat," hina Mamah Vina ia juga tidak terima.
Sang suami menenangkan istri dan putrinya sekarang, ini juga rencana dirinya yang telah memohon pada besannya agar menyatukan dan merestui Mentari menjadi bagian dari keluarganya.
"Apa yang sudah, Pah. Kita di permalukan seperti ini," balas istrinya yang tidak habis pikir dengan pola pikirnya.
"Cukup." teriak Reyhan dengan lantangnya, ia yang sudah pusing dengan perdebatan antara dua keluarga yang tidak pernah selesai. Dan semua orang terdiam menatap kearah Reyhan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Maaf, Vin. Aku tetep akan memilih Mentari....