
Semua orang sibuk untuk persiapan beberapa jam lagi, Reyhan yang murung di dalam kamar penginapan yang sudah di boxing oleh Papahnya nyatanya membuat seorang pria muda ini tidak semangat menjalankan hari bersejarah dalam hidupnya. Bukan ini yang diinginkan Reyhan, dia hanya ingin menikah dengan orang yang ia cintai itu.
Ceklek..
Mamah Sarah membuka pintu kamar sang anak ketika ketukan pintu tidak ada sahutan dari dalam kamar membuat wanita paruh baya itu begitu khawatir dengan keadaan san Putra takut melakukan hal diluar dugaannya saat ini.
Mamah Sarah mendekati putranya yang sedang melamun di atas ranjang, mamah Sarah duduk di sampingnya dan menepuk pundak putranya itu.
"Yang sabar ya, Rey. Mungkin ini adalah jodoh mu bersama dengan Vina. Mentari bukan jodoh mu," ucap Mamah Sarah yang meyakinkan putranya agar tidak terlarut dalam kesedihan.
Reyhan terdiam, ia enggan saat ini belum berbicara pada siapapun termasuk wanita hebatnya yang ada di sampingnya. Ia hanya ingin tahu keberadaan Mentari dan meyakinkan kalau Mentari baik baik saja. Rasa tidak enak dan gundah selalu menyelimuti hari hari Reyhan saat mengingat nama Mentari. Ada sesuatu yang terjadi pada wanita itu entah itu apa.
"Cuci muka gih, jangan sampai orang-orang melihat pengantin prianya kusam dan muram gini," goda Mamah Sarah, ia ingin melihat putranya seperti dulu lagi yang selalu tegas dan hangat.
Reyhan membuang napasnya dengan perlahan, ia menatap kearah Mamahnya yang selalu menemaninya di saat seperti ini.
"Reyhan hanya ingin tahu keberadaan Mentari, Mah. Hanya itu," ucap Reyhan yang mengutarakan isi dalam hatinya. Ada rasa entah itu apa, yang jelas terjadi sesuatu pada wanita itu.
"Sabar, percayakan pada yang di atas ya, Rey. Mentari baik-baik saja, percaya pada Mamah," ucapnya lagi yang menenangkan putranya.
__ADS_1
Ketukan pintu membuyarkan lamunan keduanya, Mamah Sarah menoleh dan menghampiri untuk membuka pintu tersebut.
Ada seorang pelayan yang memberitahukan kalau acara tersebut akan segera dimulai.
"Terimakasih, saya akan segera turun," jawab Mamah Sarah pada pelayan tersebut. Setelah menyampaikan sesuatu pelayan tersebut berlalu meninggalkan tempat itu.
Mamah Sarah menghampiri putranya agar bersiap-siap dan merapikan pakaian yang kusut karena Reyhan yang tak semangat menjalani hari spesialnya ini.
"Ayo, apa lagi Rey, jangan bikin malu mamah, Sayang." mohon Mamah Sarah pada Reyhan. Tinggal nunggu Reyhan turun untuk melangsungkan acara ijab kabul tersebut.
Reyhan yang pasrah, ia berdiri dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya karena kusut. Ia bercermin pada pantulan kaca yang ada di dalam kamar mandi tersebut. Apa rasa ingin melarikan diri untuk menghindari acara tersebut. Tapi, lagi lagi Mamah selalu mengingatkan dan berkata 'Jangan bikin Mamah malu, Rey. Mamah mohon ' Suara itu selalu terngiang-ngiang di telinganya membuat Reyhan kasihan dan menerima semua yang di lakukan kedua orang tuanya tersebut.
Saat turun dari lantai atas, Reyhan yang di temani oleh Mamahnya hanya bisa menatap orang-orang yang menyaksikan pernikahannya dengan tatapan dingin tanpa senyuman sedikit pun.
Rasa gugup dan grogi yang di rasakan oleh Reyhan bukan karena ia gugup karena itu, tapi ia gugup karena ingin mengakhiri dan pergi dari acara ini.
"Bisa kita mulai?" tanya seorang penghulu pada Reyhan.
Reyhan mendongak ke arah penghulu dan menatapnya dengan tatapan dingin. Bukannya ia merasakan bahagia karena akan menghalalkan satu nama yang ada di hatinya ini. Tapi bukan wanita yang ia cintai melainkan wanita sahabat kekasih itu.
__ADS_1
"Bisa kita mulai, Tuan?" tanya pak penghulu lagi.
Satu detik dua detik dan tiga detik. Reyhan belum mengeluarkan ucapan membuat Vina begitu kesal karena tidak ada jawaban atas pertanyaan yang diberikan kepada Reyhan calon suaminya ini.
"Rey...," bisik Vina membuyarkan lamunan calon suaminya itu.
Reyhan menoleh dan ia tersadar dari lamunannya dan menatap kearah pak penghulu tersebut, ia menganggukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan itu.
Saat pak penghulu itu mengucapkan ijab kabul tersebut, seseorang yang datang bersama seorang wanita yang sedang di dorongnya di atas kursi roda menghentikan acara tersebut. Semua orang menoleh kearah suara tersebut.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Tunggu, mempelai wanita ada di sini...