
Setelah ijab kabul kedua pasangan pengantin yang baru halal ini menuju tempat dimana kedua akan menghabiskan waktu untuk menerima orang-orang yang akan mendoakan mereka yang kini berstatuskan suami istri.
Reyhan yang posesif pada Mentari hanya bisa terkekeh, Reyhan yang tak mau jauh-jauh dari istri kesayangannya itu.
"Selamat ya, Rey. Semoga langgeng dan cepat dapat momongan," ucap salah satu sodara yang dari jauh.
"Aminn..," jawab Reyhan dan Mentari berbarengan, karena doa orang-orang yang terdekat akan segera di kabulkan oleh yang maha kuasa.
Setelah sodara telah berlalu Reyhan menatap istrinya tanpa berkedip dan tersenyum.
"Kamu kenapa, Rey?" tanya Mentari yang menatap suaminya hanya tersenyum.
Reyhan mendekatkan tubuhnya dan berbisik. "Kamu cantik, Tar," bisik Reyhan dengan tatapan mesum.
Mentari melotot kearah Reyhan, ia tak menyangka jika Reyhan berani menggodanya di depan umum tersebut.
"Jangan macam-macam ya," ucap Mentari.
"Aku hanya ingin satu macam, Tar. Itu kalau sudah selesai acara ini," balas Reyhan dengan tatapan yang aneh.
"Apa?" tanya Mentari yang memancing Reyhan untuk menggoda istrinya ini.
"Entar juga kamu Maham, nanti saja ya," goda Reyhan yang membuat Mentari memerah kedua pipinya.
Saat Mentari dan Reyhan bercanda, ada seseorang di masa lalunya sedang berjalan pelan dengan tatapan begitu memelas. Ia iri dengan kebahagiaan mantan sahabatnya sekarang yang sudah bahagia bersama orang yang di cintai itu. Tak seperti dirinya yang merasakan nasib buruknya setelah kejadian itu.
Iya, Vina yang kini berjalan menuju pelaminan itu. Ia akan memberikan doa dan restu untuk kedua pasangan yang sedang berbahagia itu. Vina yang tak sanggup harus meyakinkan dirinya karena ingin langsung mengucapkannya pada kedua orangnya.
__ADS_1
Ketika sampai, kedatangan Vina membuat kedua pasangan halal tersebut menghentikan candaannya dan menatap kearah Vina dengan tatapan aneh.
"Vina,"
"Vina," ucap berbarengan, Reyhan maupun Mentari saling pandang melihat ada Vina di hadapannya sekarang.
"Selamat ya," sahut Vina sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Mentari maupun Reyhan hanya saling menatap dan tak kemudian Mentari menjabat tangan Vina yang kini mengulurkan tangannya untuk memberikan selamat dan doa untuk pernikahannya.
"Terimakasih, Vin." ucap Mentari yang membalas senyum Vina.
"Boleh aku memeluk mu, Tar?" pinta Vina dan Mentari pun langsung memeluknya dengan erat. Ia begitu merindukan sahabatnya sejak dulu sampai sekarang, sahabat yang dari kecil tumbuh bersama-sama hingga memisahkan dirinya dan Mentari hanya gara-gara seorang pria saja. Tapi Mentari sadar dengan penampilan Vina yang berbeda.
"Kamu apa kabar, Vin?" tanya Mentari yang basa-basi karena Mentari ingin mengetahui tentang kehidupan Vina setelah 5 tahun tak berjumpa.
Mentari merasakan ada hal yang aneh dengan sikap Vina sekarang tak seperti dulu dengan angkuhnya berkata dan percaya diri.
Bunyi suara itu mengagetkan ketiga yang lagi fokus dengan pikirannya masing-masing. Vina pun mengangkatnya dan setelah itu memutuskan untuk pergi.
"Mau kemana? Kamu tak ingin mencicipi makanannya?" cegah Mentari yang ingin tahu dan penasaran setelah mengangkat panggilan itu wajah Vina begitu panik.
"Maaf, Tar. Aku harus pergi karena anak ku lagi rewel," tolak Vina yang lagi cemas.
Mentari mulai ingat jika Vina pernah hamil saat dulu ketika pernikahan dengan Reyhan gagal.
"Anak mu pasti sudah besar? Kenapa gak di ajak saja, Vin. Aku ingin melihatnya," ucap Mentari.
__ADS_1
"Dia bersama pengasuh, Tar. Aku tak bisa bawa dia karena aku harus berkerja," jawab Vina.
"Meneruskan perusahaan papah?" tanya Mentari membuat Vina menggelengkan kepalanya.
Mentari mengernyitkan dahinya, tidak paham dengan gelengan Vina itu.
"Kamu tak meneruskan perusahaan papah, Vin?" tanya Mentari lagi.
"Perusahaan papah bangkrut, Tar. Dan Papah sama Mamah...," ucap Vina yang menghentikan ucapannya.
"Kenapa?" tanya Mentari yang penasaran.
.
.
.
.
.
.
.
Papah dan Mamah sudah tiada, Tar....
__ADS_1