
Setelah perdebatan tersebut, Mentari meninggalkan Vina dengan kekesalan yang belum selesai. Vina terus berteriak memanggil nama Mentari, tapi Mentari tidak merespon ataupun sekedar menoleh pada Vina. Kekecewaan yang di ucapkan oleh Vina barusan membuat ia merasakan sakit hatinya yang begitu dalam. Penghinaan yang terlontar dari mulut Vina pun terus terngiang-ngiang di telinganya.
Vina boleh saja menghinanya sesuka hatinya, tapi tidak untuk itu yang kecewa dan sakit hati. Memang benar apa yang dikatakan oleh Vina barusan tapi jangan sampai terucap dari mulutnya sendiri, ia yang sudah tahu dan sudah mengetahuinya tentang semua hal yang bertentangan dengan dirinya yang tidak punya sosok seorang Ayah yang hadir di tengah-tengah kehidupannya.
Mentari merebahkan tubuhnya yang begitu lelah sambil menangis dengan kejadian tadi. Ia kadang menyesali kehidupannya yang tanpa seorang ayah di sampingnya.
Ia selalu menanyakan tentang sosok dan keberadaan Ayah pada ibunya, tapi apa yang ia dapat dari sang ibu, ia akan melihat ibunya menangis tanpa menjawab pertanyaannya.
Mentari yang enggan untuk melanjutkannya menanyakan soal Ayahnya, ia merasa bahwa sang ibu menyembunyikan sesuatu yang belum bisa ia tebak, ada rahasia besar dalam diri sang ibu sampai menyembunyikan perihal informasi tentang identitas Ayah tersebut.
Deringan ponsel itu membuyarkan lamunannya, ia menoleh ke arah nakas di samping ranjangnya. Mentari yang enggan untuk mengangkatnya dan malas untuk berbicara pada siapapun termasuk pada pria yang ia cintai, Mentari membiarkan bunyi suara ponselnya tersebut ia ingin segera beristirahat dan menetralkan pikiran yang sudah bercabang untuk keputusan yang ia harus ambil.
Satu kali, dua kali, sampai beberapa kali bunyi itu pun Mentari abaikan ia yang enggan untuk beranjak dan mengambil benda pipih tersebut. Hatinya yang sudah dongkol dan tidak ingin berbicara pada siapapun.
.
.
.
Pagi harinya Mentari bangun lebih awal, ia ingin melihat keadaan sang ibu yang di kabarkan tidak enak badan oleh Mbak Marni barusan.
Mentari yang merasakan panik dan cemas segera menemui sang ibu di kamarnya yang tidak jauh dari ruangan dapur. Ia berlari ingin segera menemui sang ibu.
Ceklek...
"Bu..," panggil Mentari setelah membuka pintu kamar sang Ibunya.
Ibu Tiara yang terpejam langsung membuka kedua matanya dengan perlahan, ia mendengar sahutan dari putri satu-satunya. Ibu Tiara tersenyum saat putrinya ada di hadapannya yang sedang mencemaskan dirinya.
"Ibu sakit apa? Kita kerumah sakit ya?" ajak Mentari yang tidak tega melihat wajah sang ibu yang pucat.
__ADS_1
"Ibu tidak apa-apa, Tar. Jangan khawatir ya," lirih Ibu Tiara yang meyakinkan sang putri agar tidak Panik.
"Tapi, Bu. Badan ibu agak panas,"
"Ibu sudah minum obat, dan hanya butuh istirahat sebentar saja pasti sembuh," jawab ibu Tiara yang meyakinkan sang putri yang selalu mengkhawatirkannya sampai sekarang.
Mentari yang pasrah dengan apa yang di ucapkan oleh wanita paruh baya tersebut yang keras kepala dan keputusannya tidak ingin di bantah.
"Kamu tidak ke kampus, Tari?" tanya Ibu Tiara.
"Sebentar lagi, Bu. Tari ingin menemani ibu saja di sini," pinta Mentari.
"Jangan, sayang. Kamu tetap harus belajar dan kejar mimpi-mimpi kamu, jangan sampai mengecewakan ibu, Tari. Hanya kamu satu-satunya yang ibu punya di dunia ini. Jadi jangan membiarkan semangat ibu dan pengorbanan ibu sia-sia," pinta ibunya pada sang anak.
Mentari mengangguk dan mengiyakan ucapan sang ibu, ia akan berusaha mewujudkan impian sang ibu untuk melihatnya menjadi orang yang sukses dan membanggakan ibunya.
ibu Tiara yang tersenyum dan bangga mempunyai seorang anak yang penurut dan pengertian seperti Mentari. Ia mengelus pipi lembut sang anak dan berkata.
"Jadilah orang kuat ya, Tar. Dan jangan mengecewakan ibu nanti," pesan ibunya pada Mentari.
.
.
.
.
Sampai di kampus, Mentari di sambut oleh Reyhan yang sudah menunggunya di depan parkiran dengan wajah dinginnya. Ia melirik kearah Reyhan yang menatap tajam.
"Pagi, Rey!" sapa Mentari yang mencairkan suasana.
__ADS_1
Reyhan tidak menjawab, ia kesal dengan kelakuan Mentari yang semalam tidak menghiraukan panggilannya yang beberapa kali di abaikannya.
Mentari tahu dengan tatapan tersebut, ia menghampiri untuk menjelaskan tentang semalam.
"Rey, aku bisa jelasin sama kamu," ucap Mentari yang ingin menjelaskan.
"Waktu itu aku ketiduran, saking lelahnya. Aku juga tidak tahu kalau kamu menghubungi aku," sambungnya lagi, ia sedikit berbohong tentang semua itu.
"Aku khawatir banget, Tar. Tidak ada kabar dari kamu, takut terjadi sesuatu pada kamu," cemas Reyhan yang menggenggam tangan Mentari.
Mentari yang tersenyum, ia bahagia sudah di khawatirkan oleh pemuda yang ada di hadapannya. Cintanya yang begitu tulus tanpa memandang status apapun pada dirinya.
Ia berjalan beriringan menuju ruang kelasnya, Reyhan menggandeng tangan Mentari yang begitu mesra. Yang melihatnya saja bikin orang ngiri dengan posisi Mentari yang menjadi kekasihnya.
Dari sudut ruang kelas, Vina memandang kearah sahabatnya dengan penuh kebencian terhadap kedua orang tersebut. Ia mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosi yang sudah memuncak pada dirinya.
Mentari duduk di kursinya dan Reyhan duduk di samping kursi tersebut, Reyhan sesekali melirik kearah Mentari yang begitu cantik di pagi hari ini.
Tiba-tiba ponsel Mentari berbunyi, Mentari melepaskan genggaman tangan Reyhan dan mengambil benda pipih tersebut.
"Halo, Mbak." jawab Mentari, yang menelponnya adalah Mbak Marni.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Halo, neng. Mbak hanya memberitahukan kalau ibu Tiara masuk rumah sakit....