
Kabar yang mengejutkan dari sebrang sana membuat Mentari begitu syok dengan kabar sang ibu tercinta yang kini sedang ada di rumah sakit. Mentari segera memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas pergi menuju rumah sakit tempat ibunya di rawat.
Reyhan yang melihat raut jawab panik Mentari segera mencekal nya, ia ingin tahu tentang Mentari yang ingin pergi buru-buru.
"Mau kemana?" tanya Reyhan yang belum melepaskan tangan Mentari.
"Aku harus pergi, Rey. Ibu, ibu.." jawab Mentari yang begitu cemas.
"Kenapa dengan ibu?" tanya Reyhan lagi.
"Di ada di rumah sakit sekarang, tolong absen aku ya," pinta Mentari yang melepaskan tangan Reyhan yang masih melingkar di tangannya.
Ketika Reyhan terdiam saat mendengar kabar dari Mentari, ia juga pernah mengenal sosok wanita tua itu yang berkerja di kediaman rumah Vina. Reyhan tersadar dari lamunannya ia melihat sekeliling tidak ada Mentari dan menanyakan pada seseorang, dan Mentari sudah keluar barusan.
Segera Reyhan berlari untuk mengejar Mentari, ia tidak mau terjadi sesuatu pada Mentari ketika mendapatkan kabar tersebut.
Dan, terlambat. Reyhan tidak menemukan sosok Mentari yang sudah pergi dengan kendaraannya yang tadi pagi ia bawa. Reyhan merutuki kebodohannya saat Mentari melepaskan genggaman tangannya. Ia takut terjadi sesuatu di jalan saat Mentari mengendarai seorang diri.
Reyhan mengusap tengkuknya dan segera melangkah menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh darinya, ia akan mengejarnya dan melihat keadaan baik-baik saja.
Reyhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia harus mengejar dan melihat Mentari agar baik-baik saja.
"Rey..," panggil Vina yang menyusul Reyhan yang keluar dari kelasnya.
"Reyhan...," panggil Vina lagi, ia penasaran Reyhan dan Mentari yang akan pergi entah kemana dan sangat buru-buru.
Vina pun masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya untuk mengikuti mobil Reyhan.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Mentari memarkirkan motornya di parkiran, ia segera turun dan berlari menuju tempat di mana ibunya di rawat.
Mentari yang menghampiri suster yang sedang melewatinya, Mentari pun menghentikan langkahnya dan bertanya.
"Sus, saya mau tanya, di mana ya ruang rawat atas nama ibu Tiara?" tanya Mentari pada suster tersebut.
__ADS_1
"Anda siapanya?" tanya suster balik.
"Saya anaknya, sus. Tolong kasih tahu di mana?" tanya Mentari yang penuh kehawatirannya.
"Mari saya antar, Mbak. Saya yang tadi pagi menanganinya, yang di larikan tadi pagi oleh teman kerjanya," jawab suster itu dengan ramah.
Mentari pun mengangguk dan mengikuti langkah kaki suster tersebut, ia ingin segera melihat kondisi sang Ibu dengan wajah yang begitu cemas dan khawatir, ia hanya mempunyai sosok seorang wanita paruh baya itu dia adalah satu-satunya orang yang ia punya saat ini.
"Ini ruangan, Mbak." ucap suster tersebut menunjukkan ruangan tempat ibunya di rawat.
Mentari mengangguk dan berterima kasih pada suster tersebut, dan suster tersebut pamit untuk memeriksa pasien lainnya.
Mentari membuka pintu tersebut, dan melangkah dengan pelan. Ia yang belum sanggup dengan keadaan ibunya yang ada di rumah sakit ini.
Ia melihat Mbak Marni yang duduk sedang menunggu sang Ibu. Mentari mengucapkan salam agar Mbak Marni menyadarinya yang sudah datang.
"Waalaikumsalam, Neng. Syukur Alhamdulillah kalau si neng sudah datang, Mbak cemas banget saat di bawa ke sini," adu Mbak Marni yang begitu cemas saat ia melarikan ibu Tiara ke rumah sakit bersama Mang Dadang.
"Gimana keadaan ibu, Mbak?" tanya Mentari yang sudah dudu di pinggir ranjang pasien.
"Penyakitnya kambuh lagi, Neng. Ini semakin parah kata dokter tersebut," jawab Mbak Marni yang jujur, ia tidak akan menutupi saat dokter tersebut mengatakan demikian tadi.
Mentari menarik napasnya lalu membuangnya perlahan, ia takut terjadi sesuatu pada kondisi sang ibu yang penyakitnya semakin parah sampai sekarang, Mentari selalu berjuang untuk mendapatkan uang banyak agar sang ibu bisa berobat dan menjalani pengobatan yang rutin.
"Iya, Mbak. Terimakasih ya sudah membawa dan menjaga ibu," ucap Mentari yang selalu merepotkan Mbak Marni yang selalu ada di sampingnya.
Mbak Marni pun mengangguk dan berlalu meninggalkan ruangan ini, Mentari yang menggenggam tangan ibunya yang sedang di pasang selang infus.
"Bu, jangan kayak gini, Tari takut terjadi sesuatu sama ibu, hanya ibu satu-satunya yang Tari miliki," lirih Mentari yang meneteskan air matanya, ia tidak sanggup untuk menjalani hidup seorang diri tanpa belaian lembut dari sang ibu.
.
.
.
.
Di tempat parkir, Reyhan turun yang melihat motor Mentari yang terparkir tidak jauh darinya. Ia akan masuk dan melihat keadaan Mentari di dalam sana.
__ADS_1
Tapi, tangannya di cekal dari arah belakang oleh Vina, Reyhan seketika menoleh dan melihat Vina yang ada di belakangnya.
"Kamu ngapain ada di sini?" tanya Reyhan yang mengernyitkan dahinya.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu ada di sini? Dan ngapain ke rumah sakit ini, siapa yang sakit?" tanya Vina yang balik bertanya.
"Aku mau lihat Mentari, ibunya ada di rumah sakit ini," jawab Reyhan yang apa adanya dan tidak menutupi apapun.
"Ibunya Mentari, emang kenapa?" tanya Vina yang heran.
"Mangkanya aku mau masuk ke dalam untuk melihat kondisinya,"
Reyhan pun melangkah untuk masuk dan mencari keberadaan kekasihnya yang ada di dalam sana.
"Tunggu, Rey!" cegah Vina.
"Apa lagi sih," sahut Reyhan yang berhenti melangkah.
"Aku ikut, aku juga ingin melihat keadaan ibu," pinta Vina melangkah menyusul Reyhan yang hendak pergi.
Keduanya pun berjalan beriringan menuju ruangan inap ibu Tiara, Vina juga penasaran dengan sosok wanita tua yang ada di rumah sakit ini. Ia tidak akan membiarkan Mentari selalu dekat dengan Reyhan orang yang ia cintai ini.
Keduanya sampai di depan pintu kamar ruang inap ibu Mentari, Vina yang bergelanjut manja di lengan Reyhan membuat Reyhan merasa risih dan tidak enak hati kalau kekasihnya melihatnya, Reyhan sempat menepisnya tapi Vina tetap saja melakukan itu lagi. Reyhan pun pasrah dan tidak mau menjadi pusat perhatian orang-orang saat melihat kearahnya yang enggan menolak wanita di sebelahnya.
Ini adalah kesempatan Vina, ia akan menguasai Reyhan ketika Mentari sedang fokus merawat ibunya.
Ketukan pintu itu pun membuyarkan lamunan Mentari yang masih menatap ke arah sang ibu, ia menoleh ketika pintu tersebut di buka. Dan kagetnya saat orang itu masuk dengan senyuman yang manis dan menghampirinya.
"Gimana kab--," belum Reyhan meneruskan ucapannya Vina pun segera memotong ucapan Reyhan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Hay, Tar. Gimana dengan keadaan ibu?