Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Undangan...


__ADS_3

Tanpa di sangka dan tanpa persetujuan Reyhan maupun Mamah Sarah, pak Bagas mengadakan acara pertunangan Putra satu-satunya yang ia selenggarakan besok malam di hotel berbintang punya dirinya sendiri.


Ini adalah jalan satu-satunya agar sang anak bisa menuruti kemauannya tanpa menolaknya lagi. Ia sudah mulai frustasi saat penolakan sang anak yang berulang-ulang kali menolak keinginan untuk pertunangan dengan Vina anak dari teman istrinya yang sudah tahu tentang kehidupan dan keluarganya.


Ia tidak merasa malu saat teman atau kliennya menanyakan tentang mantunya dari kalangan mana. Acara yang akan di selenggarakan di hotel berbintang dan mengundang beberapa teman dan rekan bisnisnya membuat kemeriahan pesta pertunangan sang anak akan berlangsung dua puluh empat jam lagi. Rasa-rasanya ia tidak sabar dengan acara tersebut dan suprise untuk putra satu-satunya yang akan melanjutkan perusahaan nanti.


Saat pulang ke rumah, Reyhan mengedarkan pandangannya di seluruh penjuru sudut ruangan rumahnya tidak ada yang ia temukan satu orang pun. Ia langsung naik ke atas lantai dua menuju kamarnya, ia masuk langsung membersihkan tubuhnya yang begitu lengket sehabis dari tempat kos'an Mentari.


Ia akan menyempatkan datang setiap hari untuk melihat keadaan sang kekasih hatinya itu. Ia yang selalu mengkhawatirkan keadaan yang seorang diri tinggal di tempat itu.


Sore berganti malam, waktunya makan malam pun tiba, ia sebenarnya malas untuk makan bersama kedua orang tuanya termasuk sang Papah yang selalu mengekang hubungannya dengan Mentari.


Tok... Tok... Tok...


"Den, di suruh turun untuk makan malam," titah pembantunya yang sudah berkali-kali mengetuk pintu sang Tuan muda.


Ceklek...


Pintu itu di buka oleh Reyhan yang sudah sehat sehabis mandi. Ia mengangguk mengerti dan tidak mau berbedat atau menolak ajakan malam bersama dengan orang tuanya. Walaupun ia masih marah dengan sang Papah.


Turun dari lantai dua menuju ruangan meja makan yang sudah ada kedua orang tuanya yang sudah duduk rapih dengan menyantap makan malamnya. Reyhan dengan malas menarik kursinya dan mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Mamah Sarah yang peka dengan keadaan sang anak yang urus tanpa bantuan siapapun, ia yang tahu karakter sang anak yang merajuk pada suaminya hanya bisa merasakan sedih melihat keadaan yang begitu kacau tidak bisa menggenggam restu dari suaminya yang begitu keras kepala dan tidak ingin di bantah.


"Mau sop nya, Rey?" tanya Mamah Sarah.


Reyhan menggelengkan kepalanya, ia hanya ingin segera selesai makan dan masuk lagi ke kamarnya.


"Oh, iya, Rey. Besok kamu harus perusahaan. Ada beberapa hal yang harus Papah bicarakan tentang perusahaan yang akan sebentar lagi berpindah tangan pada kamu. Papah tidak ada penolakan." ucapnya datar sambil fokus menyantap makan malamnya.


"Besok kan Rey ada kuliah pagi, Pah," tolak Reyhan yang memberi alasan, ia sebenarnya belum ingin menginjakkan kakinya ke perusahaan Papahnya. Bukan ia tidak mau tapi ia belum siap dengan berkas-berkas yang menumpuk membebankan pikirannya yang semakin rumit dengan hubungannya saat ini.


"Kamu bisa izin dulu satu hari, Papah tunggu besok," ucapnya lagi yang sudah selesai makan dan beranjak pergi dari meja makan.


Saat Reyhan ingin protes pun Papahnya sudah menghilang dan tidak mendengarkan rengekannya.


"Mah..," panggil Reyhan yang ingin meminta tolong pada Mamahnya agar membantunya.


"Kamu turutin saja ya, Rey. Ini demi kebaikan kamu juga," nasehat Mamahnya yang selalu serba salah harus berpihak pada siapa, di satu sisi ia begitu kasihan dengan putranya. Tapi, di satu sisi ini demi kebaikan putranya juga, Reyhan adalah penerus satu-satunya perusahaan sang suami yang luas dan menjadi perusahaan raksasa di kotanya.


Reyhan pun membuang napasnya dengan kasar, ia mengusap wajah karena frustasi. Ia sudah berjanji akan menemani Mentari untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan ditempat kos'annya dan membeli stok makanan untuk Mentari.


Ia akan beralasan apa saat Mentari menghubungi untuk ditemani. Reyhan beranjak dari kursinya, ia yang belum menghabiskan makan malamnya begitu saja.

__ADS_1


🌞🌞🌞


Pagi harinya, Mentari masuk kuliah dengan suasana baru dan tempat tinggal baru dengan tetangga baru juga. Ia hanya tersenyum saat orang-orang menyapanya di pagi hari.


"Penghuni kos'an baru ya, Neng?" sapa seorang Pria yang masih muda.


"Iya, Kak." jawab Mentari dengan singkat.


Saat sampai di kampus, Mentari mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang tunggu-tunggu selama ini. Tanpa di duga bukan Reyhan yang ia lihat melainkan Vina dengan wajah bahagia dengan senyuman yang manis.


"Hay, Tari." panggil Vina yang menghampiri mantan sahabatnya.


Mentari tidak menjawab, ia hanya heran dengan Vina yang begitu baik menghampirinya.


"Aku punya kejutan buat kamu, Tar." ucap Vina lagi sambil menyerahkan kertas persegi panjang yang begitu elegan.


"Apa ini?" tanya Mentari mengambil itu dari tangan Vina.


"Baca aja, tapi jangan kaget ya," sahut Vina dengan senyum bangganya.


Saat ini juga Mentari membuka lembaran undangan yang begitu mewah. Undangan pertunangan yang entah siapa, dan saat ia buka dan membaca ia tercengang ada nama yang ia begitu kenal. Ia begitu syok dan meminta penjelasan dengan sorot matanya pada mantan sahabatnya.

__ADS_1


Kamu enggak mau kasih selamat untukku, Tar...


__ADS_2