
Keputusan Mentari pada perdebatan antara dua keluarga tersebut membuat diam dengan pikirannya masing-masing, dan Reyhan lega dengan keputusan yang diambil oleh Mentari walaupun sampai kapan tapi ia masih ada harapan bisa memiliki wanita yang ia cintai dengan seutuhnya.
"Jangan gila kamu, Tar. Emang kamu gak kasihan sama aku ya, dan ingin mempermalukan aku didepan semua orang terutama teman satu kampus dengan ku," ucap Vina yang belum terima keputusan Mentari walaupun itu masih abu abu.
"Apa kamu juga akan bahagia jika ikatan pernikahan tak adanya cinta, Vin. Aku sudah banyak mengalah demi kebahagiaan kamu. Dan kali ini aku ingin egois yang ingin mempertahankan milikku tanpa di usik lagi," sindir Mentari, ia selalu banyak mengalah tentang cinta dan sekarang apa Mentari salah ingin mempertahankannya.
"Terus emang Reyhan akan bahagia bila hidup dengan mu dengan keadaan cacat seperti ini. Untuk melayani dan mengurusnya saja kamu pasti tidak mampu, Tar." balas Vina tidak mau kalah.
"Kataku juga sampai aku sembuh baru aku akan menerima lamaran itu, apa kamu tidak dengar,"
Vina mengepalkan tangannya karena emosi, ia ingin sekali menampar pipi mulus sahabatnya yang sekarang lancang membalas perkataannya. Vina baru menyadari kalau mantan sahabatnya itu tidak seperti Mentari yang dulu selalu mengalah dan lembut perkataannya.
"Aku malu, dan aku ingin melangsungkan pernikahan ini walaupun Reyhan juga menikahi Mentari. Bagiku tidak malu dari hinaan orang terhadapku," ucap Vina mengambil keputusan itu. Ia tidak masalah jika Reyhan tidak mencintai tapi yang Vina butuhkan adalah statusnya karena ia sudah menyebarkan kabar bahagia tersebut.
"Aku tidak bisa, Vin. Hanya Mentari yang akan menjadi pendamping hidupku nanti," sahut Reyhan, ia tidak ingin memperistri lebih dari satu. Belum ada di pikirannya dan memorinya jika ia akan memperistri lebih dari satu.
"Tapi nasib ku gimana, Rey?" tanya Vina sudah berderai air matanya.
"Maafkan aku, Vin," ucap Reyhan dengan lirih.
"Aku tak butuh maaf kamu, Rey. Yang aku butuhkan adalah status,"
__ADS_1
"Tolong mengerti, Vin. Kita tidak akan bahagia jika jika tetep melangsungkan pernikahan ini," ucapnya lagi, dan kali ini semoga Vina bisa mengerti tentang keadaan,"
"Biar aku yang akan menikahinya." sahut pria yang masuk ke dalam acara tersebut dengan lantangnya mengucapkan hal tersebut.
Semua orang menoleh terutama Vina, ia syok dengan kedatangan mantan pacarnya itu yang bernama Rio.
Dengan langkah yang mantap seorang pria berjalan menuju tempat dimana Vina dan keluarga berada. Ia akan memberikan suprise pada semua orang dengan kabar yang ia punya.
Vina yang begitu pucat saat kedatangan mantan pacarnya itu, ia takut jika Rio mengatakan sejujurnya tentang rahasia yang ia pendam hanya dirinya dan Rio yang tahu.
"Mau apa kamu datang kemari?" ketus Vina, ia takut kedatangan Rio membuat rencananya berantakan.
"Aku tidak mau, Rio. Sudah ku katakan jangan muncul dihadapan ku lagi," teriak Vina.
"Kenapa? Apa kamu takut rahasianya terbongkar,"
"Rahasia," jawab semua orang yang ada di sana.
"Jangan ngaco kamu, Rio. Sekarang kamu pergi dari sini," usir Vina dengan wajah pucat nya. Ia tidak ingin terbongkar hari ini dan rencananya akan gagal dan berantakan yang telah ia susun dengan rapih.
Makin penasaran saja, pak Ibrahim tentang putrinya. Is menghampiri pria itu yang tak pernah ia restui sejak putrinya menjalin kasih dengannya.
__ADS_1
"Rahasia apa yang disembunyikan oleh putriku?" tanya pak Ibrahim pada Rio.
Rio terdiam, ia menatap kearah Vina yang menggelengkan kepalanya tanda tidak boleh angkat bicara tentang pertanyaan dari Papahnya.
"Jawab," ucap pak Ibrahim dengan tegasnya. ia tidak ingin hal buruk terjadi pada putrinya.
.
.
.
.
.
.
.
Vina se ka rang.. Lagi mengandung...
__ADS_1