Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Menolong..


__ADS_3

"Kita harus bicara!" ucap Reyhan yang sudah menggenggam tangan wanita yang ia cintai.


"Bicara soal apa?" tanya Mentari yang tidak paham.


"Jangan pura-pura tidak mengerti, ayok kita ke belakang kampus?" ajak Reyhan menarik tangan Mentari agar bisa mengikutinya.


"Jangan bercanda, Rey. Di kantin masih ada Vina," ucap Mentari memberi alasan.


Reyhan tidak menghiraukan ucapan Mentari, ia terus saja menarik tangan Mentari untuk berbicara berdua tanpa ada yang menggangu nya.


Sesampainya di belakang, Mentari menghempaskan tangannya dari cengkeraman dari Reyhan dan menatap wajah Reyhan dengan tatapan aneh.


"Ngapain kamu bawa aku kesini, Rey. Aku mau ke kantin lagi," protes Mentari yang hendak melangkah pergi dari hadapan Reyhan.


Segera Reyhan memeluk tubuh Mentari agar wanita dihadapannya tidak pergi darinya yang selalu menghindarinya.


"Kita perlu bicara, Tar." ucap Reyhan.


"Mau bicarakan apa sih, Rey. Gak ada yang perlu kita bicarakan," jawab Mentari dengan tegas.


"Ada,"


Mentari terdiam, ia bingung harus menjawab dan beralasan apa lagi agar pria dihadapannya bisa melepaskannya.


Keheningan sesaat, tidak ada satu orang pun membuka suaranya, Mentari hanyut dalam dekapan pria ini, begitu nyaman tanpa ia sadari kalau ia ada di dekapan pria yang menyebalkan ini.


Ehemm...


Ucap Reyhan yang membuyarkan lamunan keduanya, segera Mentari melepaskan pelukan dari Reyhan yang begitu nyaman. Mentari menjadi salah tingkah saat baru menyadari bahwa ia sudah lama ada di pelukan Reyhan.


Reyhan tersenyum, ia begitu bahagia melihat tingkah wanita yang ada dihadapannya ini.


"Aku harus pergi, bentar lagi jam kelas kedua akan dimulai," alasan Mentari yang malu.


"Sebentar, plis.." Reyhan memohon sambil menangkup kedua tangannya.


Mau tidak mau Mentari menuruti kemauannya, ia hanya diam tanpa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Reyhan Padanya.


"Kenapa kamu seperti itu, Tar. Bukannya kamu sudah sepakat untuk tidak menjauhiku dan mengabaikan ku, kenapa?" tanya Reyhan, ia ingin mendengar alasan Mentari.


"Karena---," ucap Mentari yang berhenti mengucapkan, lalu melihat kearah Reyhan dengan tatapan ingin tahu penjelasan tentang ini semua.


"Karena..," ucap Mentari yang terpotong oleh ucapan seseorang yang datang.


"Kalian lagi ngapain?" tanya Vina dengan tatapan aneh.


Keduanya saling memandang dengan wajah yang cemas, Reyhan yang menanggapi biasa saja. Tapi, Mentari yang merasa takut dan cemas hanya menunduk, ia malu harus berbicara apa pada sahabatnya ini.

__ADS_1


"Rey, bukannya kamu tadi izin ke toilet ya? Kenapa ada di sini bersama Tari," tanya Vina dengan wajah berbeda, ia ingin tahu dengan keadaan ini.


"Dan kamu Tar, ngapain ada di sini juga bersama Reyhan? Berduaan lagi," ucap Vina.


"Tadi aku mau ke--," jawab Mentari yang terbata.


"Aku yang mengajaknya," sahut Reyhan, membuat Mentari seketika melotot, kenapa Reyhan berbicara jujur pada sahabatnya, memang yang dikatakan Reyhan benar adanya.


"Maksudnya?" tanya Vina yang tak mengerti.


Sebelum Reyhan mengucapkan, tiba-tiba bel berbunyi bertanda kelas kedua akan segera di mulai. Seketika Reyhan menghentikan ucapannya untuk berbicara pada Vina soal dirinya dan Mentari.


Semuanya bubar dengan pikirannya masing-masing, Mentari yang tidak enak pada sahabatnya. Vina yang bertanya-tanya ada apa dengan Reyhan dan Mentari. Dan Reyhan yang kesal tidak mendapat sebuah jawaban atas pertanyaan yang ia berikan pada Mentari.


Ketiganya masuk dan mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh dosen tersebut, selesai mengikuti pelajaran semua bubar untuk pulang. Mentari keluar lebih dulu tanpa menghiraukan ucapan dan panggilan dari Vina sahabatnya. Ia akan berucap apa pada sahabatnya untuk masalah ini.


Reyhan yang memandangnya hanya menarik napas dalam-dalam dan membuang pelan-pelan, sikap Mentari membuat ia penasaran dengan sikapnya yang tak acuh padanya.


Vina pulang tanpa mengapa Reyhan, ia ingin menenangkan pikiran yang banyak tanda-tanda sesuatu yang ia ingin tanyakan pada Reyhan dan Mentari.


Apakah Mentari juga menyukai Reyhan? Mentari tidak mengungkapkan perasaannya terhadap Reyhan, ia hanya terdiam tanpa menunjukkan sesuatu gelagat yang aneh sedikitpun tentang Mentari yang menyukai Reyhan.


.


.


.


Reyhan pulang ke rumahnya, ia begitu lelah ingin segera beristirahat sebentar, rasanya hati dan pikirannya sedang bercengkrama mencari solusi agar Mentari bisa menerimanya dan menjadi kekasihnya.


Berbagai cara ia lakukan termasuk merayu Mamahnya agar menerima Mentari jadi karyawannya, dengan cara itu ia akan dekat dengan pujaan hatinya, di kampus maupun di butik tempat Mentari berkerja.


Tapi, nihil. Semua yang dilakukan belum ada respon dari wanita pujaannya, begitu sulit saat ia dekati selalu ada halangan dan rintangan saat ingin berjumpa dengannya. Sempat berpikir Mentari selalu mengalah pada Vina sahabatnya itu.


Tanpa berpikir panjang Reyhan beranjak dari ranjangnya, ia mengambil kunci dan ponselnya untuk menemui Mentari yang masih berkerja di butik Mamahnya.


Segera ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi agar bisa sampai di sana dengan cepat, ia ingin melihat dan mendengar suara yang begitu ia rindukan setiap detik.


Tanpa butuh waktu lama, Reyhan datang ditempat tujuan yaitu butik Mamahnya. Ia turun dengan wajah yang berbinar, semoga pertemuan dengan Mentari membuahkan hasil tanpa ada gangguan sedikit pun.


Ia melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya untuk mencari wanita pujaannya. Tapi, apa yang ia cari tidak ditemukannya, sampai bertanya pada karyawan lain.


"Rey," panggil Mama yang baru keluar dari ruangannya.


Reyhan menoleh dan menghampiri Mamahnya. "Mentari kemana, Mah?" tanya Reyhan pada sang Mamah.


"Keluar, mengantarkan pesanan langganan Mamah, kenapa?" tanya Mamahnya dengan heran.

__ADS_1


Reyhan yang membuang napas dengan kasar, ia dengan sia-sia dan buru-buru datang ke sini ingin melihat Mentari, tapi orangnya tidak ada. Reyhan menghempaskan tubuhnya dikursi yang ada di dalam butik ini.


"Kamu kenapa, Rey?" tanya Mamahnya yang begitu khawatir dengan keadaan sang anak.


"Tidak apa-apa, Mah. Jangan khawatir," jawab Reyhan dengan lesu.


.


.


.


Hujan deras mengguyur sore hari, membuat Mentari menepi setelah mengantarkan pesanan langganan dari butik tempat ia bekerja. Ia menggunakan sepeda motor miliknya untuk mengantarkan itu, tapi hujan datang yang tak tentu membuat ia harus menepi agar tidak kehujanan.


Ditempat kios pedagang kaki lima, Mentari di sini ia menepi dengan keadaan agak basah hanya memeluk tubuhnya yang mulai kedinginan dengan angin yang cukup kencang.


Disekitarnya banyak pria yang juga sedang menepi agar tidak kehujanan, melirik kearah Mentari, semua pria itu mengagumi kecantikan dan keindahan pada diri Mentari. Membuat Mentari merasa risih saat dipandang begitu oleh orang-orang yang tak dikenalnya.


Rasa takut pun Mentari mulai ia rasakan saat salah satu dari pria tersebut mendekatinya.


"Mau apa ya?" tanya Mentari yang ketakutan.


"Mau nemenin Neng, boleh enggak?" tanya pria tersebut yang mengedipkan kedua matanya.


Mentari mundur satu langkah, ia takut dengan pria dihadapannya.


"Jangan jauh-jauh, Neng. Sini Abang temenin biar hangat," ucap pria tersebut.


"Jangan macam-macam ya," teriak Mentari yang mulai gelisah.


Hari mulai gelap, hujan pun belum reda membuat Mentari takut bukan kepayang, pria di sampingnya selalu menggodanya tanpa menghiraukan penolakan darinya, Mentari sempat menepis tangan pria tersebut saat ingin menyentuh tangannya.


"Lepaskan gak?" teriak Mentari yang mulai gemetaran, soalnya pria itu makin mendekat bersama teman-temannya.


Ketiga pria tersebut semakin tersenyum, tanpa menghiraukan rengekannya maju satu langkah. Tiba-tiba dari kejauhan ada yang berteriak..


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Lepaskan ... Jangan pernah ganggu pacarku..


__ADS_2