Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Pahlawan malam..


__ADS_3

Selesai mengerjakan pekerjaannya, Mentari bergegas akan pulang ke kediaman rumah Vina yang ia juga tinggal di sana bersama dengan ibunya. Setelah selesai mengganti pakaiannya Mentari melangkah menuju ke depan di mana kendaraannya terparkir di sebelah butik ini.


Sebelum kendaraannya berjalan tiba-tiba ada orang yang menghentikan gerakan tangannya untuk menancapkan gasnya. Membuat Mentari menoleh ke arah orang yang menghentikannya.


Mentari mengernyitkan dahinya, ia begitu tidak paham dengan kelakuan seorang Pria yang selalu mengganggu setiap hari.


"Ada apa sih, bisa gak jangan gangguin aku terus," ucap Mentari yang kesal melihat wajah Pria di hadapannya.


"Aku mau berbicara denganmu bentar saja, jangan marah-marah terus."


"Gak bisa, ini udah malam, gak lihat ini jam berapa?"


"Baru juga jam tujuh," ucap Pria itu yang tak lain adalah Reyhan.


"Aku gak ada waktu meladeni kamu, minggir." ucap Mentari yang ketus.


Reyhan yang mengalah dan menggeser tubuhnya agar kendaraan wanita di hadapannya bisa lewat, Reyhan hanya memandang punggung wanita pujaannya yang semakin menjauh dari pandangannya. Ia tersenyum betapa bahagianya bisa melihatnya setiap hari di kampus dan di butik Mamanya.


.


.


.


Di jalan pertigaan melewati jalanan yang begitu sepi membuat begitu takut dan gemetar, ia hanya seorang diri mengendarai motornya tanpa ada yang menemani. Tiba-tiba ada segerombolan pria bermotor yang menghentikan laju motornya, membuat Mentari ketakutan bukan kepalang.


"Berhenti," teriak Pria tersebut yang berhenti di hadapan Mentari.


Mentari mau tidak mau menghentikan kendaraannya, ia begitu ketakutan dan gemetaran, tidak ada orang yang lewat untuk ia mintai tolong.


"Serahkan semua kepada kami, cepetan." ucap Pria kekar itu.

__ADS_1


"Saya tidak punya apa-apa," ucap Mentari yang gemetaran.


"Cepetan."


"Gak," ucap Mentari yang mempertahankan tasnya.


Pria itu menarik paksa tas Mentari, Mentari mempertahankan tasnya dari tarikan Pria itu.


"Tolong.. Tolong.. Tolong.." teriak Mentari yang meminta tolong, semoga ada yang mendengar teriakan dirinya.


"Diam," teriak Pria satunya lagi.


Bug...


Tendangan dari belakang membuat kedua preman itu langsung menoleh ke belakang, membuat Mentari melihat ke arah Reyhan yang tiba-tiba datang dari arah mana.


Perkelahian antara Reyhan dan kedua preman itu membuat Mentari yang begitu was was dan khawatir, takut Reyhan kalah dan di pukuli oleh kedua preman itu.


"Rey, awas.." teriak Mentari yang sudah terlambat, ia itu memukul kepala Reyhan dari belakang, membuat Reyhan merasakan pusing dan kesadarannya mulai hilang.


"Tolong... Tolong...," teriak Mentari semoga ada orang yang menolongnya.


Membuat kedua preman itu berlari meninggalkan Reyhan yang terkapar di atas jalanan, segera Mentari menghampiri dan memeluk Reyhan yang sudah tak sadarkan diri.


"Rey, bangun Rey." panggil Mentari yang menepuk pipi Pria ini. Mentari menangis melihat keadaan Reyhan yang seperti ini.


"Rey, bangun, jangan bikin khawatir aku, aku takut." ucap Mentari yang masih terisak sambil memeluknya.


Ada seseorang yang lewat, ia berhenti dan melihatnya.


"Ada apa, Mbak?" tanya bapak-bapak tersebut.

__ADS_1


"Tolongin teman saya, Pak." ucap Mentari yang begitu lirih.


"Mari, neng. Bawa ke mobil saya saja." ajak bapak-bapak tersebut, Mentari menganggukkan kepalanya, ia membopong tubuh Reyhan bersama bapak tersebut. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang untuk mencari rumah sakit terdekat.


Setibanya di rumah sakit, Reyhan segera di tangani oleh dokter. Mentari hanya menunggu di depan, khawatir dengan keadaannya di dalam sana.


Satu jam sudah Mentari menuju, dokter pun keluar dan menghampirinya.


"Dengan keluarganya?" tanya dokter itu.


"Bukan, dok. Saya temannya." jawab Mentari.


"Gimana dengan keadaannya, dok?" tanya Mentari.


"Dia baik-baik saja, hanya syok dan memar di bagian belakang kepala, tidak ada luka yang serius." jelas dokter itu.


"Terimakasih, Dok. Boleh saya menemuinya?" tanya Mentari.


"Silahkan, pasien juga sudah sadarkan diri." ucap dokter yang berlalu meninggalkan Mentari.


Mentari mengangguk, ia melangkah masuk ke ruangan dimana Reyhan sedang berbaring di sana.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Gimana keadaan kamu, Rey. Kenapa kamu ngelakuin itu Rey..


__ADS_2