
Hari yang di hindari sejak awal pun tiba. Surat undangan sudah tersebar dan gedung untuk melangsungkan pernikahan sudah di tetapkan oleh kedua belah pihak. Reyhan hanya bisa pasrah dengan keadaannya yang sekarang. Kehilangan orang yang ia sayangi yang entah kemana keberadaan sekarang membuat seorang Reyhan terdiam dan jarang selalu keluar dari kamarnya dan beraktivitas seperti biasa.
Saat makan malam tiba, Reyhan yang seperti enggan untuk bergabung dengan Papahnya yang sampai sekarang masih bungkam soal keberadaan kekasihnya yang sudah Mamahnya beritahu tentang Mentari.
"Makan yang banyak, Rey. Besok adalah hari pernikahan kamu dengan Vina," ucap Mamah Sarah yang membuyarkan keheningan suasana makan malam ini.
Reyhan menoleh kearah Mamahnya setelah itu ia melihat makanan itu dengan tatapan aneh. Rasa tidak berselera untuk makan pun Reyhan sebenarnya enggan turun untuk menyantap makanan yang ada di depannya. Dan yang paling Reyhan hindari adalah bertemu dengan sang Papah yang sampai sekarang masih menyembunyikan kekasihnya itu.
"Jangan di aduk aduk terus, Rey. Makan dikit saja," ucap Mamah Sarah yang memohon pada putranya agar keluar dari kepurukannya.
"Reyhan sudah selesai," sahut Reyhan tanpa menatap kedua orang tuanya itu. Ia berlalu meninggalkan tempat itu untuk masuk kedalam kamarnya.
"Rey...," panggil Mamah Sarah yang di hiraukan oleh putranya itu.
"Biarkan saja, Mah. Nanti juga kalau Reyhan lapar pasti makan," cegah Papah Bagas yang menghentikan istrinya untuk merayu putranya agar makan.
"Tapi, Pah," jawab Mamah Sarah. Papah Bagas yang menatap istrinya agar duduk kembali dan melanjutkan makan malamnya.
Mau tidak mau pun Mamah Sarah mengikutinya, ia bagaikan seorang bocah yang menurut pada ibunya.
"Kamu dimana, Tar. Aku sudah mencari kamu kemanapun tapi tidak ketemu, harus mencari kemana lagi aku," lirih Reyhan yang frustasi dengan keadaan ini.
__ADS_1
Saat ingin melangkah ke kamar mandi ponselnya berdering menandakan ada seorang yang menghubungi tengah malam ini. Reyhan urungkan untuk ke kamar mandi dan membelokkan kearah dimana ponselnya berada.
Ia membuang napasnya dengan kasar, nama yang tertera adalah Vina, Reyhan malas untuk mengangkat panggilan tersebut, ia lebih memilih untuk melanjutkan ke kamar mandi dari pada harus mengangkat panggilan tersebut.
Ponselnya terus berdering, Reyhan pusing hanya bisa mengumpatnya dengan kasar dan mengangkat agar tidak menggangunya lagi.
"Ada apa sih, telpon aku terus kurang kerjaan apa," ucap Reyhan yang marah pada orang di sebrang sana yang menelponnya adalah Vina.
"Kamu kenapa sih, Rey. Tidak pernah lembut kalau berbicara dengan ku, sebentar lagi kita akan jadi suami istri," jawab Vina.
"Itu maunya kamu ya, Vin. Aku tidak mau menikah dengan mu," jawab Reyhan dengan nada tegasnya.
Segera Reyhan mematikan sambungan teleponnya. Ia malas mendengar kata-kata itu dan membanting ponselnya ke lantai agar Vina tidak bisa menghubunginya lagi.
Ia pergi ke balkon tempat dirinya suka menghabiskan waktu dan membayangkan tentang bersama dengan Mentari di saat itu.
.
.
.
__ADS_1
.
Hari pun tiba, Reyhan di paksa untuk memakai baju yang sudah di siapkan jauh jauh hari oleh Mamahnya yang sudah mempersiapkan untuk putra itu. Reyhan yang kasihan saat Mamahnya memohon dan agar mengikuti yang sebentar lagi akan berlangsung.
Dengan pasrah Reyhan memakainya dengan rasa kesal bercampur kacau. Ia melangkah menuju kamar ganti untuk memakai pakaian ijab kabul yang sebentar lagi akan segera dimulai.
Reyhan bercermin di depan kaca yang berukuran besar itu. Ia memandang kearah pantulan bayangan dirinya dan membayangkan kalau hari ini adalah hari pernikahan dengan orang yang ia cintai itu.
.
.
.
.
.
.
Aku sudah membayangkan hari hari kita akan bahagia, Tar. Dimana aku akan meresmikan hubungan kita di depan penghulu dan Tuhan yang akan menyaksikan hari bahagia kita. Tapi, itu hanya sebuah bayangan saja..
__ADS_1