
Perayaan hubungan Reyhan dan Mentari hanya dengan makan bersama dengan Mama Sarah yang ikut serta dalam perayaaan yang Reyhan ciptakan di ruangan Mamanya.
Rasa senang dan bahagia yang dirasakannya melebihi ia mendapatkan hadiah atau pun penghargaan dari gurunya. Lebih bahagia dengan wajah tak pudar dari senyumnya.
"Tar kita kan udah pacaran ya, terus kita manggilnya apa ya?" tanya Reyhan pada kekasihnya yang baru satu jam ia resmikan.
"Aku gak tahu, aku masih memikirkan tentang Vina, Rey. Aku takut dengan hubungan ini," adu Mentari dengan cemasnya.
Reyhan mendekat duduknya di samping Mentari, keduanya duduk tanpa jarak sedikit pun, Reyhan menggenggam tangan mulus Mentari dan mengecupnya. Membuat Mentari merasakan kaget bercampur bahagia dengan kelakuan tekad Reyhan padanya.
"Kita akan hadapi bersama-sama, jangan cemas dan ragu dengan cinta yang aku berikan padamu, Tar. Aku akan bicara dengan baik-baik pada Vina, semoga ia bisa mengerti dan memahami hubungan kita." ucap Reyhan meyakinkan sang kekasih agar tidak khawatir dengan Vina sahabatnya.
"Tapi, Rey. Aku takut, takut kalau Vina marah sama aku," adu Mentari yang membalas genggaman tangan Reyhan kekasihnya.
"Kamu tenang ya, ini akan menjadi urusan ku, kamu hanya menemaniku di samping, itu saja." balas Reyhan yang mengelus pipi kekasihnya, ia akan memperjuangkan cintanya pada wanita yang ia puja selama bertemu di pandangan pertama.
Mentari mengangguk dan tersenyum, ia lega sudah mengutarakan isi hatinya yang mengganjal di dalam benaknya. Apakah Vina akan mendukung hubungannya dengan Reyhan atau sebaliknya. Bagaimana pun Vina juga menyukai pria yang sama dan meninggalkan pacarnya demi Reyhan.
"Eh, ngapain berduaan kayak gitu lagi, aduh belum muhrim, Rey." teriak Mamanya yang baru masuk bersama dengan karyawannya yang mengantarkan makanan untuk makan malam bersama.
"Cuma duduk aja, Mah. Gak lebih, ya kan sayang." sahut Reyhan dengan panggilan pertama sayang pada Mentari, seketika pipi Mentari merona mendengar panggilan Reyhan barusan.
"Bagus ya, udah banyak alasan. Minggir!" oceh Mama Sarah yang duduk ditengah-tengah mereka.
"Apa-apaan sih, Mah. noh masih luas duduk di situ, ngapain duduk di sini sih," rengek Reyhan yang tidak terima Mamanya duduk di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
"Mama tidak mau hal terjadi dikemudian hari, hanya jaga-jaga saja," balas Mama Sarah.
Membuat Reyhan merenggut kesal dengan ucapan wanita paruh baya yang masih cantik di sampingnya, ingin rasanya Reyhan memindahkan ke kursi lain, tapi itu tidak mungkin, karena sang Mama akan mengoceh setiap saat.
"Kita makan dulu, Tar. Tante sudah pesan kan makanan untuk kita," ajak Mama Sarah.
"Mama gak tawarin Reyhan?" tanya Reyhan yang kesal dengan kelakuan sang Mama yang peduli sama kekasihnya, baru jadi kekasih gimana kalau Mentari menjadi istrinya pasti ia akan terabaikan begitu saja oleh Mamanya.
"Tuh makan sendiri, gak usah manja, gak malu apa sama Mentari!" ocehnya lagi dengan tatapan yang kesal.
"Iya, iya. Perasaan ini perayaan hubungan Reyhan deh, Mah. kok, Mama yang semangat sih," tanya Reyhan dengan wajah yang bingung.
"Mama yang heran, kenapa Mentari yang cantik dan pintar bisa suka modelan begini, apa coba yang dilihat dari kamu," ledek Mama Sarah pada sang anak.
"Sudah Rey, jangan di terusin, kapan kita akan makannya, aku ingin segera pulang, takut kemalaman pulangnya," ucap Mentari mencegah perdebatan antara ibu dan anak.
"Tuh dengar, jangan protes terus," oceh Mama Sarah.
Ketiganya makan dengan tenang, Reyhan sesekali melirik kearah Mentari dengan tatapan bahagia, bahagia bisa memilikinya dan bahagia bisa menjadi orang yang begitu spesial ada di hatinya.
"Makan yang benar, jangan lirik Mulu," sahut Mama Sarah yang tahu tatapan sang anak.
"Iya, Mah. Iya,"
Selesai membereskan sisa makanan, Mentari pamit untuk pulang karena malam semakin larut, ia tidak enak saat pulang terlalu larut di kediaman rumah pak Ibrahim.
__ADS_1
Reyhan mengantarkannya sampai depan gerbang rumah milik Vina dan keluarganya, ia sudah menolak dan mencegah Reyhan untuk mengantarkannya, tapi Reyhan tetap kekeuh ingin mengantarkan sampai rumah. Mentari takut bertemu dengan Vina saat ia pulang, akan alasan apa pada sahabatnya tentang hubungan ini. Tapi, Reyhan meyakinkannya akan baik-baik saja dan menghadapi bersama-sama.
Sesampainya didepan gerbang yang menjulang tinggi, Mentari turun dari mobil Reyhan, ia berterima kasih sudah mengantarkannya sampai rumah dengan selamat.
Mentari melambaikan tangannya ketika mobil Reyhan melaju meninggalkannya. Masuk kedalam yang sudah di buka kan oleh penjaga rumah ini, ia masuk melalui pintu samping yang selalu Mentari lewati setiap pulang telat. Hatinya merasakan lega karena tidak bertemu dengan seseorang pun, ia tidak akan menjawab pertanyaan tentang ia telat pulang.
Masuk ke dalam kamarnya di kagetkan dengan sosok yang selalu ia hindari beberapa saat tadi, dirinya mematung dan terdiam saat melihat Vina yang duduk di atas ranjangnya.
"Vin," ucap Mentari dengan pelan.
"Kenapa? Kaget aku ada disini," sahut Vina yang beranjak dari ranjang Mentari.
.
.
.
.
.
.
Habis ngapain kalian? Pulang larut malam begini...
__ADS_1