Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Kecewa


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi Reyhan bangun lebih awal dari biasanya membuat kedua orangtuanya mengernyitkan dahinya, merasa heran dengan kelakuan sang anak yang tidak biasa begini. Susah untuk dibangunkan pagi hari, entah kenapa hari ini membuat Papah dan Mamahnya merasa heran. Dan saling memandang.


"Pagi, Pah, Mah." ucap Reyhan pada orang tuanya, lalu mencium pipi wanita yang masih cantik itu.


"Pagi, Sayang. Tumben ya Pah hari ini cerah banget," sindir Mama Reyhan.


"Hem," jawab Papah Reyhan yang melirik kearah sang anak yang sudah duduk di kursinya.


Reyhan tidak menghiraukan ucapan Mamahnya, ia hanya fokus pada sarapannya karena akan menjemput pujaan hatinya, ia tidak mau sampai Mentari menunggunya ataupun berubah pikiran, karena untuk meyakinkan wanita pujaannya itu sangatlah sulit, meminta waktunya saja sebentar tidak direspon olehnya. Ini adalah kesempatan dirinya untuk mendekati pujaan hatinya.


Selesai sarapan, Reyhan segera pamit pergi ke kampus, ia mengendarai mobil mewahnya untuk menjemput pujaan hatinya.


Sesampainya di gerbang rumah besar itu, Reyhan turun dan menghampiri penjaga rumah ini.


"Permisi, Pak." ucap Reyhan yang sopan.


"Iya, ada apa? Mau cari siapa?" tanya penjaga tersebut.


"Saya mau mencari Mentari, ada gak pak?"


"Ada, Den. Saya panggilkan dulu," jawab penjaga rumah ini, ia meninggalkan Reyhan sendirian.


Beberapa menit, datanglah Vina yang menghampiri Reyhan dengan senyuman yang begitu manis.


"Rey," panggil Vina yang begitu senang dan bahagia kedatangannya di pagi hari membuat ingin berjingkrak saking senangnya.


"Kamu jemput aku," ucap Vina yang tersenyum.


"Buk--," belum Reyhan meneruskan ucapannya Mentari sudah memotongnya.


"Iya," jawab Mentari yang baru datang dari arah belakang. Membuat Reyhan mengernyitkan dahinya dengan sorot mata tajam. Apa maksudnya dengan semua ini, kenapa Mentari bilang kalau ia akan menjemput Mentari bukan Vina.

__ADS_1


Reyhan melihat kearah Mentari ingin meminta penjelasan tentang semua ini.


Vina memandang kearah Reyhan, ia malu-malu saat sahabatnya mengucapkan itu.


"Beneran, Rey. Makasih ya," ucap Vina yang merasa senang.


"Aku duluan ya," pamit Mentari yang akan meninggalkan kedua orang tersebut.


"Tunggu, Tar." cegah Reyhan yang menghentikan langkah Mentari.


Mentari menoleh dan membalikkan badannya. "Ada apa?" tanya Mentari.


"Bareng aja, Tar. Kita kan searah," ajak Reyhan dengan sorot matanya meminta ingin bersamanya.


Mentari tidak menjawab, ia malah memandang kearah sahabatnya Vina.


"Iya, Tar. Bareng saja," sahut Vina yang tak enak hati saat Reyhan menawarkan tumpangan pada Mentari, ingin rasanya cuma berduaan saja di dalam mobil, tapi Reyhan mengajak Mentari sahabatnya.


"Yuk, Tar." ajak Vina lagi, ia tidak boleh terkesan jelek di mata pria dihadapannya.


Ketiganya masuk kedalam mobil mewah Reyhan, Vina yang duduk disamping Reyhan membuat ia kecewa, ingin menjemput Mentari malah kayak gini tidak sesuai harapan dan keinginannya. Sempat melirik dari kaca spion mobilnya, melihat Mentari yang memandang ke arah luar. Hatinya merasakan berdebar saat melihatnya saja, wajah cantiknya yang begitu Reyhan idamkan, kemandiriannya, kepintaran, semua yang ada didalam Mentari Reyhan sudah tergila-gila pada sosok wanita yang ada dibelakangnya.


Perjalanan yang memakan waktu satu jam, membuat ketiganya turun dari mobil tersebut, Reyhan memarkirkan mobilnya di halaman kampus yang sudah disediakan.


"Makasih ya, Rey. Aku duluan," ucap Mentari.


Segera Mentari pamit ingin ke perpus karena ada buku yang a ia harus pelajari, semalam ia ketiduran saat pulang larut malam.


"Tar, mau kemana?" teriak Vina melihat sahabatnya yang buru-buru.


"Ke perpus dulu," sahut Mentari yang berlari kecil.

__ADS_1


Vina menggelengkan kepalanya, sahabatnya itu tidak pernah berubah selalu menomorsatukan masalah pelajaran dan pelajaran, membuat ia bosan.


Rasa kecewa di pagi ini, ia sudah merencanakan sesuatu untuk bisa dekat dengan pujaan hatinya malah kacau kayak gini. Bangun pagi-pagi hanya untuk menjemput pujaan hatinya malah ia bersama dengan Vina sahabatnya.


"Kamu kenapa, Rey? Muka kamu kusut banget," tanya Vina.


"Gak apa-apa," jawab dengan lesu.


"Kamu sakit?" tanya Vina lagi.


"Gak, yuk kita masuk, bentar lagi masuk," ajak Reyhan, ia tidak mau wanita disampingnya bertanya lagi.


Vina mengangguk, ia berjalan beriringan dengan Reyhan menuju kelasnya. Hati sangat senang dan bahagia bisa berdampingan jalan bersama pria yang ia sukai saat pandangan pertama, ia memutuskan kekasihnya demi pria disampingnya.


Sesampainya di kelas, semua bersorak gembira melihat kedekatan Vina dengan Reyhan si Pria tampan incaran para siswi.


Vina duduk di kursinya sambil tersenyum kearah Reyhan.


"Gue harus taklukkan Reyhan menjadi kekasihku, bagaimana pun caranya," gumam Vina dengan sorot mata yang tak pernah teralihkan dari Reyhan.


Beberapa menit datang Mentari, ia menghampiri sahabatnya yang sedang duduk bersama teman-temannya.


Mentari duduk di kursi sambil membuka bukunya, ia yang tak nyaman saat di pandang oleh Reyhan yang begitu membuat ia salah tingkah.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ngapain sih, Rey. Mandang aku kayak gitu, bikin aku takut saja...


__ADS_2