Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Pamit....


__ADS_3

"Mau pulang kemana? Sekarang aku tidak punya rumah dan tujuan." lirih Mentari yang masih memandang batu nisan sang ibu sambil menitikkan air matanya.


"Ikut denganku, Tar. Kan aku udah bilang, sekarang kamu adalah tanggung jawabku," sahut Reyhan yang meyakinkan kekasihnya lagi.


"Aku tidak mau menjadi orang yang berdosa yang telah mengambil kamu dari Papah kamu, aku akan menerima kamu jika orang tuamu juga menerima kehadiran ku, Rey. Aku tau dan aku tahu diri tentang status ku.." tolak Mentari dengan tulus.


Ia sadar sekarang dengan statusnya sebagai anak yatim piatu, entah keberadaan sang Ayah pun Mentari tidak tahu. Yang ia tahu hanya sosok sang Ibu yang selalu menemaninya sampai sekarang, dan ia tidak pernah menayangkan ataupun ibunya tidak pernah menceritakan asal usul sang Ayah.


Di kelilingi orang-orang baik saja pun Mentari sudah melupakan dan tak pernah menanyakan, hingga ia fokuskan pada sang ibu yang mulai sakit-sakitan. Ia hanya ingin ibunya bahagia dan bangga terhadapnya.


"Jangan bicara begitu, Tar. Kita akan melewati bersama-sama dan memperjuangkan cinta kita," jawab Reyhan yang terus meyakinkan Mentari agar lebih berjuang lagi.


"Seharusnya kamu beruntung, Rey. Kamu masih bisa merasakan kasih sayang sosok Ayah, sedangkan aku?" balas Mentari yang bergetar hebat.


Reyhan pun langsung memeluknya, ia merasakan getaran hebat tangis Mentari yang begitu lirih. Dan sesekali mengecupnya untuk meyakinkannya.


"Menangis lah sepuas kamu, setelah puas. Aku akan menjadikan kamu Mentari yang selalu bersinar dan menjadi wanita yang ceria," pinta Reyhan sambil mengelus punggung Mentari.


.


.


.


.

__ADS_1


Mentari pun mau di ajak pulang setelah banyaknya rayuan dan bujukan, Reyhan mengantarkan Mentari ke kediaman Pak Ibrahim. Mentari akan pamit dan memulai kehidupannya yang baru, ia akan mencari kos'an untuk ia melanjutkan hidupnya.


Ia yang tidak ingin merepotkan keluarga itu lagi, sudah cukup kebaikan Pak Ibrahim yang sudah membantu dirinya dan sang Ibu di masa-masa sulitnya. Ia akan mencoba menjadi orang mandiri dan akan fokus pada kuliahnya saja.


Sampai di kediaman Pak Ibrahim, Mentari turun dengan gontai, ia meminta Reyhan untuk pulang dan meninggalkan dirinya. Tapi, Reyhan kekeh dan akan menunggunya hingga selesai dan mengantarkan untuk mencari kos'an untuk baru.


Reyhan yang sudah menawarkan beberapa apartemennya untuk Mentari, tapi sang kekasih selalu menolak tawarannya dan enggan untuk menerimanya.


Mentari masuk kedalam kamarnya untuk membereskan baju dan barang-barangnya, setelah itu ia akan berpamitan pada pak Ibrahim dan Mamah Lita yang sudah mengurus dan menjaganya hingga sekarang.


Selesai memasukkan beberapa baju dan barang-barang yang penting, ia menyeret kopernya menuju ruang tamu, ia akan menemui kedua orang yang sudah berjasa mengurusnya. Ia tidak akan melupakan jasa-jasa Pak Ibrahim dan Mamah Lita yang selalu terbuka menerimanya dengan sang ibu.


Langkahnya pelan tapi pasti, Mentari yang sudah mendekati ruang tamu dan melihat keduanya yang sedang berbincang dengan serius. Ia menghampiri untuk berpamitan.


"Mau kemana?" tanyanya lagi.


"Tari ingin pamit, Pah. Tari ingin mandiri dan memulai hidup baru di luar sana," jelas Mentari yang sudah yakin.


"Papah gak akan izinkan kamu keluar dari rumah ini, kita juga orang tua kamu, Nak," tolak Pak Ibrahim, ia yang sudah menyayangi Mentari sebagai anak kandungnya sendiri pun tidak ingin Mentari keluar ataupun pergi dari rumahnya.


"Tapi, Pah. Tari hanya ingin mandiri saja," pinta Mentari agar Pak Ibrahim mau mengizinkannya.


"Ya udah sih, Pah. Kalau Mentari ingin mandiri, ngapain kita cegah dia," sahut Mamah Lita, ia sudah terlanjur kecewa dan tidak pernah nurut padanya. Mamah Lita yang dulu selalu menyayangi Mentari seperti anaknya Vina, tapi sejak kejadian itu Mamah Lita pun berubah 98% sikapnya terhadap Mentari.


"Mamah apa-apaan sih, kok bicara gitu, Mentari juga anak kita," bentak pak Ibrahim dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Papah bentak Mamah, iya. Demi anak yang tidak jelas ini, Pah. Semuanya berubah hanya karena kamu Mentari," sahut Mamah Lita pun tak kalah meninggikan suaranya, ia yang tidak terima dengan bentakkan suaminya yang membela Mentari.


"Papah bukan membelanya, Mah. Tapi...," balas Pak Ibrahim yang di potong ucapannya.


"Tapi apa, sekarang Papah pilih Mentari yang keluar dari rumah ini atau Mamah dan Vina yang akan keluar, kalau Papah masih bersikukuh keras," ucap Mamah Lita yang memberi pilihan, ia tidak mungkin suaminya memilih Mentari dan membiarkan Mentari untuk pergi dari rumah ini.


Pilihan yang begitu sulit, kedua adalah harapannya baginya. Bu Tiara yang sudah menitipkan Mentari padanya sebelum ia di bawa ke rumah sakit. Dan memintanya untuk menjaganya demi dirinya.


"Jawab, Pah!"


Mentari hanya terdiam, ia hanya menjadi pendengar atas keributan yang ia mulai. Ia sadar dengan keadaan ini membuat suasana semakin mencekam dan panas.


.


.


.


.


.


.


Mentari yang akan keluar dari rumah ini, ini adalah keputusan Mentari. Jadi, Tari mohon jangan pernah bertengkar gara-gara ku.. Tari pamit...

__ADS_1


__ADS_2