Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Sebuah harapan


__ADS_3

"Kita ketemu lagi, cantik,!" bisik Pria itu. Membuat Mentari menoleh seketika, ia merasa kesal mendengar Pria berbisik padanya.


Ingin rasanya ia pergi, tapi itu tidak mungkin ia lakukan, pelajaran pun sudah di mulai oleh dosen. Setelah selesai kelas pertama para mahasiswa keluar kecuali mahasiswi yang betah di kelas, karena ada Pria ganteng yang duduk ante


Ng di kursinya.


Vina menghampiri Pria itu, "Kenalkan aku Vina, kamu siapa?" tanya Vina yang menyodorkan tangannya.


Pria itu mendongak ke arah suara itu. "Aku Reyhan." jawab Reyhan yang menyambut tangan wanita itu.


Mentari hanya mendengar dan mengabaikan suara-suara mahasiswi yang histeris melihat Pria itu. Ia beranjak ingin keluar dari kelas ini.


"Tar, mau ke mana?" tanya Vina yang melihat sahabatnya ingin keluar.


"Mau ke perpus, Vin. Kenapa?"


"Ke kantin yuk? Laper nih,"


"Kamu saja, aku ingin mencari buku buat tugas yang diberikan oleh dosen tadi."


"Nanti saja, Tar. Besok-besok lagi, masih ada waktu, kita ke kantin aja yuk?"


"Gak bisa, aku ke sana dulu." ucap Mentari yang berlalu.


Vina merasa kesal, selalu saja ia di tinggalkan kalau sudah menyangkut buku dan perpustakaan, Mentari akan mementingkan urusan itu.


Reyhan memandang kedua wanita sesaat, lalu ia beranjak untuk berkeliling melihat kampusnya ini.


"Rey..," panggil Vina yang menghampiri Pria itu.


Rayhan berhenti sesaat, ia menoleh yang memanggil dirinya.


"Iya,"


"Mau kemana?" tanya Vina.


"Mau lihat-lihat kampus ini, kenapa?"


"Aku temenin ya? Takut nyasar"


"Boleh," ucap Reyhan.


Keduanya berjalan beriringan tanpa ada kata satu pun dari mereka untuk memecahkan keheningan, Vina merasa perasaannya yang berbeda berada di dekat Pria ini, ada yang berbeda, hatinya merasa ada yang berbeda, baru saja Vina kenal tapi ia sudah begitu nyaman di samping Pria ini.


"Kamu udah makan?" ucap Vina memecahkan keheningan.


"Belum," ucapnya singkat.

__ADS_1


"Ke kantin yuk? Kelilingnya kapan-kapan saja, masih banyak waktu."


"Baiklah," ucap dengan pasrah.


Keduanya berjalan menuju kantin yang sudah banyak mahasiswa yang sedang makan siang, Vina menarik tangan Pria itu untuk duduk di pojok, Vina memesankan beberapa menu yang ada di sana.


"Aku udah pesan makanan yang ada di sini, aku lupa bertanya padamu!" ucap Vina.


"Tidak masalah, aku orangnya tidak pilih-pilih."


Vina tersenyum, pesenan mereka pun datang dan keduanya makan dalam hening, Rayhan yang merasa risih dengan keadaan ini, para mahasiswi yang selalu melihat ke arahnya, membuat ia tidak nyaman.


.


.


.


Di perpustakaan, Mentari fokus untuk mencari buku untuk tugas yang sudah dosen berikan, ia di kagetkan dengan tangan yang ada di pundaknya. Mentari menoleh, ia tersenyum lalu membalikkan badannya.


"Kamu, Arka. Bikin kaget saja."


"Fokus banget, Tar."


"Lagi cari buku buat tugas,"


"Yang bener! Entar udah di kantin bayar sendiri-sendiri lagi, kayak kemarin."


"Beneran, Tar. Gak bohong, aku dapat uang lebih nih, dari Papa aku."


"Wah, mantep tuh. lest go!" ucap Mentari langsung menarik tangan Arka.


Pria yang di tarik oleh Mentari hanya bisa geleng-geleng kepala, ia begitu bahagia dekat dengan Mentari.


Sesampainya di kantin, Mentari duduk tidak jauh dari Vina dan Reyhan. Vina menghampiri Mentari yang duduk tidak jauh darinya.


"Tar, bukannya kamu mau ke perpus ya?" tanya Vina yang duduk disebelah sahabatnya.


"Ini nih, ada bocah mau traktir aku. Hehehe." ucap Mentari yang cengengesan.


"Ih, dasar. Kalau gratisan aku no satu."


"Itu udah pasti, irit uang jajan, Vin."


Vina tidak menjawab, ia kembali lagi duduk di sebelah Reyhan. Reyhan hanya memandang ke arah Mentari, tapi mentari tidak memperdulikannya.


Selesai jam istirahat, semua siswa masuk ke kelas masing-masing untuk belajar.

__ADS_1


.


.


.


.


Setibanya di rumah Vina, keduanya turun dan berjalan beriringan menuju ruang tamu. Melihat orang tuanya Vina sedang duduk santai sambil meminum teh hangat.


"Assalamu'alaikum, Mah, Pah." ucap berbarengan.


"Waalaikumsalam, tumben. Biasanya keluyuran dulu, lupa jalan pulang." sindir Mama Vina.


"Pulang salah, gak pulang di ceramahin, kita kayak anak tiri ya Tar."


"Ini nih, Mama gak suka, lemes banget itu mulut. Pengen Mama kuncir dua." ucap Mama Vina yang protes.


"Ya Mama, Vina sekarang mau jadi anak baik, Mah."


"Yang bener, gak percaya Mama sama kamu, kalau sama Mentari baru Mama percaya."


"Ih, sebenarnya anak Mama Vina atau Tari sih."


"Tari," ucapnya yang asal.


"Mama..," panggil Vina dengan protes.


"Hahaha...," semuanya tertawa, kecuali Papa Vina hanya bisa geleng-geleng kepala, ia begitu bahagia bisa berkumpul dengan keluarganya.


"Cepetan sana mandi, bau. Masa cewek cantik bau sih." ucap Mama Vina.


Vina tetap menggelengkan kepalanya, tanda tidak mau, ia memeluk sang Mama.


"Mah, Pah. Tari ke kamar dulu." ucap Mentari.


Papa dan Mamanya hanya mengangguk, setelah itu Mentari berlalu meninggalkan keluarga yang sedang berbahagia itu. Ia merasa iri dengan keluarga sahabatnya, begitu lengkap dan utuh merasakan kebersamaan dengan keluarganya, tidak dengan dirinya, hanya merasakan kasih sayang seorang ibu, Pak Ibrahim memang selalu memberikan kasih sayang terhadapnya, tapi ia merasa ingin lebih merasakan kasih sayang dari Ayah kandungnya sendiri, bagaimana ia di peluk, di sayangi, dan mencurahkan segala perasaannya terhadap sang Ayah. Wajah sang Ayah pun ia tidak tahu, sang ibu selalu menutupnya dengan rapat-rapat, pernah sesekali ia bertanya, tapi Ibunya selalu memberi alasan yang membuatnya sedih untuk melanjutkan ceritanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Apakah suatu hari nanti, aku bisa merasakan kebahagiaan yang sahabatku rasakan...


__ADS_2