
3 bulan sudah, hubungan Mentari dan Reyhan semakin membaik dan menerima semuanya. Mentari sibuk dengan pekerjaannya dan juga Reyhan sama halnya dengan Mentari. Reyhan juga sibuk dengan pekerjaannya yang sedang ia pegang.
Papahnya yang sudah tiada karena serangan jantung dengan tiba-tiba membuat Reyhan mau tidak mau harus meneruskan perusahaan yang telah di rintis dari nol oleh mendiang Papahnya.
Dan sekarang hanya ada Mamah Sarah yang selalu menemaninya di setiap harinya yang terpuruk gara-gara Mentari menghilang entah kemana.
Mentari yang sudah menerima lamaran Reyhan untuk menjadi pendampingnya seumur hidupnya dan sekarang Reyhan maupun Mentari sedang menyiapkan pernikahan yang akan di langsungkan bulan depan.
Semua rencana pernikahan Reyhan serahkan pada wanita yang ia cintai dan Mamahnya yang ikut andil dalam pernikahannya saat ini.
Reyhan bahagia, karena telah Tuhan telah mengabulkan doa-doa nya agar di pertemuan lagi dengan Mentari dan menjadi wanita satu-satunya dalam hidupnya.
Siang ini, Reyhan menjemput calon istrinya untuk fitting gaun pengantin yang sudah Mentari pesan. Reyhan tak sendirian ia di temani oleh Mamahnya yang punya butik terbesar di kota ini.
"Seharusnya Mamah gak usah ikut, di rumah saja. Kan Reyhan dan Tari akan ke rumah jika urusan kita selesai, Mah." ucap Reyhan yang sempat mencegah Mamahnya untuk ikut, bukan Reyhan tak suka tetapi sang Mamah dengan kondisinya kurang sehat.
"Tidak apa-apa, Rey. Mamah kangen dengan calon mantu Mamah," jawab Mamah Sarah.
Reyhan melirik dan tersenyum, ada saja alasan Mamahnya jika permintaannya tidak di kabulkan. Rayyan pun tidak bertanya lagi ia fokuskan ke depan yang sedang mengemudi menuju tempat dimana Mentari berkerja.
Pernah Reyhan membicarakan tentang Mentari untuk berhenti berkerja, Reyhan masih mampu untuk membiayai dan memberikan nafkah yang cukup pada Mentari. Dan Mentari menolaknya karena alasan ingin menyelesaikan sedikit lagi. Mentari berjanji akan berhenti jika ia sudah sah menjadi istrinya.
Reyhan pasrah dengan keputusan Mentari dan menuruti keinginannya asal Mentari tidak pergi lagi dan penghilang entah kemana.
Perjalanan yang memakan waktu cukup lama kendaraan mobil Reyhan sudah sampai di gedung tinggi ditempat dimana calon istrinya berada.
Reyhan turun sendirian tak bersama dengan Mamahnya. Mamah Sarah akan menuju di dalam mobil karena tidak enak pada karyawan lain yang bukan kantornya sendiri.
Reyhan berjalan dan bertanya pada resepsionis untuk menanyakan keberadaan Mentari yang sekarang ini.
__ADS_1
Dan, penjaga itu pun mengantarkan Reyhan kedalam ruangan calon istrinya berada.
"Silahkan, Tuan. Nona Mentari sedang ada didalam," ucap penjaga tersebut yang sudah mengantarkan Reyhan sampai pintu ruangan.
"Terimakasih, Pak." balas Reyhan sambil tersenyum.
penjaga tersebut mengangguk dan membalas senyuman dari tamunya ia berlalu meninggalkan Tuan Reyhan untuk menemui Mentari.
Tok... Tok...
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Mentari yang sedang fokus dilayar laptopnya. Ia melihat dan berteriak agar orang yang diluar segera masuk.
Reyhan masuk, ia menghampiri calon istrinya juga yang sedang tersenyum menyambut calon suaminya datang.
"Sibuk banget nih, ibu bos," ledek Reyhan yang sudah duduk di depan Mentari.
"Ya udah yuk? mumpung masih siang," ajak Mentari, ia bangun dan mengambil tasnya.
"Semangat banget sih nih calon bini," goda Reyhan yang terkekeh.
Mentari memerah, ia malu dengan tindakan karena buru-buru yang tak sabaran.
"Kan kasihan Mamah, Rey. Mamah pasti tunggu lama," balas Mentari yang memberi alasan karena malu.
"Ya udah yuk!" ajak Reyhan sambil mengulurkan tangannya meminta Mentari untuk ia genggam.
Reyhan akan selalu menggenggam tangan Mentari, ia tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya sendiri. Kehilangan untuk kedua kalinya membuat Reyhan jadi posesif terhadap Mentari.
Mentari pun menyambut uluran tangan Reyhan dan berjalan beriringan menuju mobilnya berada.
__ADS_1
Semua karyawan yang melihatnya iri dengan pasangan tersebut, Reyhan dengan ketampanan yang sempurna dan kaya raya dengan Mentari yang cantik.
Sampai di depan mobil, Reyhan membukakan pintu untuk Mentari. Ia akan memperlakukan wanita yang ia cintai dengan istimewa.
"Asalamualaikum, Mah," sapa Mentari yang sudah ada di dalam mobil.
"Waalaikumsalam, sayang. Gimana kabar mu?" tanya wanita paruh baya tersebut.
"Alhamdulillah sehat, Mah. Mamah semakin cantik saja,' puji Mentari yang terakhir kali melihat Mamah Sarah di pernikahan Reyhan yang gagal bersama Vina.
"Ah, bisa saja kamu, Tar. Calon mantu Mamah nih yang cantik, Reyhan pun tak berpaling darimu, Sayang." jawab Mamah Sarah yang senang dengan kehadiran Mentari lagi. Sempat Reyhan tak semangat lagi untuk menjalani hari-harinya yang begitu suram. Dan ia bersyukur karena telah di temukan lagi dengan Mentari.
Reyhan tersenyum, ia hanya menjadi mendengar yang baik atas kedua wanita hebatnya sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
Jadilah wanita yang seperti Mamah dan menjadi bidadari dunia akhirat ku, sayang....
__ADS_1