
Semua orang dibuat terkejut dengan permintaan Vina barusan, Mama Sarah melihat dan mendengar langsung hanya bisa membuang napasnya, ia yang sudah tahu hubungan anak dan gadis yang bernama Mentari itu lagi menjalin hubungan sebagai orang pacaran. Ia juga kaget dan harus berbuat apa dengan suasana yang begitu berbeda.
"Jangan nangis dong sayang, malu sama Tante Sarah dan Om Bagas," ucap Mama Lita yang tidak enak hati pada keluarga temannya.
"Gimana kalau kita jodohin saja mereka," sahut Papa Bagas dengan idenya yang tiba-tiba.
Semua orang menoleh dengan jawaban yang dilontarkan oleh pria paruh baya yang berkuasa di rumah ini.
"Jangan macam-macam, Pah." protes Mama Sarah, ia juga kaget dengan ucapan suaminya barusan.
"Macam-macam gimana, Mah? Ini baik loh, kita bisa berbesanan, dan mengikat tali silaturahmi kita dengan perjodohan anak kita, benar kan Pak Ibrahim?" tanya Papa Bagas pada rekan kerjanya sekaligus suami dari teman istrinya.
Pak Ibrahim tidak menjawab, ia bingung harus bagaimana dengan keadaan ini, ia yang tahu hubungan antara putrinya dan Mentari yang saling menyukai pria yang sama, membuat hatinya merasa bingung untuk menjawab pertanyaan dari pak Bagas.
"Benar, Pak Bagas. Saya setuju dengan ucapan yang pak Bagas berikan, saya juga setuju dengan perjodohan ini." sahut Mama Lita yang merasa senang dengan ide yang diberikan oleh calon besannya.
"Bagus dong, Reyhan kan yang masih sendiri dan Vina juga sudah menyukai Reyhan, tinggal kita saja yang merencanakan sesuatu agar hubungan mereka berlanjut hingga ke pernikahan nanti, gimana?" tanya pak Bagas memberi saran.
"Pah, apa sebaiknya kita bicarakan dulu sama Rey, jangan terlalu buru-buru menentukan keputusan yang belum tentu itu maunya anak kita," balas Mama Sarah yang tidak enak hati, mengingat hubungan sang anak bersama wanita pilihannya.
"Pasti Reyhan mau, Mah. Dia kan anak yang penurut," ucapnya lagi.
"Aku tidak setuju, Pah. Reyhan sudah memiliki seorang yang Reyhan cintai," sahut Reyhan yang tiba-tiba datang dan membalas perkataan Papanya.
"Apa maksud mu, Rey?" tanya Papa Bagas.
"Reyhan sudah punya pacar, Pah. Dan Reyhan tidak mau di jodohkan titik," jawab Reyhan yang berlalu meninggalkan semua orang.
"Anak itu kenapa jadi keras kepala, maaf dengan kelakuan anak saya," ucap yang tidak enak hati pada keluarga pak Ibrahim.
__ADS_1
Malam mulai larut, keluarga pak Ibrahim pun pamit untuk pulang ke rumahnya. Sampai sekarang belum ada keputusan apapun tentang perjodohan yang sudah di sepakati oleh pak Bagas dan Mama Lita, karena Pak Ibrahim dan Mama Sarah yang tidak enak hati dengan anak-anaknya yang sudah tahu hubungan mereka.
"Papa kenapa diam saja saat pak Bagas ingin anak kita di jodohkan, bukan itu bagus buat keluarga kita nantinya, Pah. Papa bisa jalanin bisnis dengan baik dan akan sukses kalau kita berbesanan dengan pak Bagas yang sudah terkenal dengan pebisnis terhandal di kota ini," ucap Mama Lita yang tidak habis pikir dengan suaminya karena diam tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan kepadanya.
"Bukan kayak gitu, Mah. Mama tahu kan hubungan antara putri kita dan Mentari yang merebutkan nak Reyhan, kita harus pertimbangan juga jangan salah pilih jalan. Kasihan salah satu dari mereka," sahut Pak Ibrahim yang masih menyetir mobilnya.
"Papa kasihan sama Mentari?" tanya Mama Lita.
pak Ibrahim terdiam ia enggan untuk menjawab pertanyaan istrinya, takut salah bicara akan panjang urusannya.
"Kenapa Papa diam, berarti benar kalau papa kasihan sama Mentari di bandingkan dengan anak Papa, anak Papa itu Vina bukan Mentari Pah, ingat Pah kalau sampai perjodohan ini batal Papa yang akan tanggung akibatnya," ancam Mama Lita yang sudah sampai di kediamannya dan segera turun dari mobil untuk masuk ke dalam.
Vina yang mendengarnya begitu kecewa dengan sikap Papa yang selalu membela Mentari dan membandingkannya dengan dirinya, Mentari yang selalu unggul dalam segala hal membuat ia jadi bahan bandingan dengan Mentari.
Bruk...
Vina membanting pintu mobil dan segera masuk ke dalam rumah untuk menyusul Mamanya, ia akan merajuk pada Papanya kalau perjodohan ini sampai tidak di setujui oleh papanya. Ini adalah kesempatan ia untuk mendapatkan Reyhan menjadi miliknya seutuhnya dan memisahkan antara Mentari dan Reyhan.
Ia turun dari mobil, dan melihat Mentari yang baru sampai di rumahnya yang sudah larut malam.
"Mentari." panggil pak Ibrahim yang menghampiri Mentari yang baru turun dari tukang ojek.
"Papa," sahut Mentari yang kaget dan tidak enak hati sudah pulang larut malam.
"Kamu habis dari mana?" tanya pak Ibrahim.
"Tari habis kerja, Pah." jawab Mentari yang berbohong, ia tidak mungkin kalau ia jujur habis menenangkan diri.
"Kerja dimana? Kok Papa tidak tahu?" tanya pak Ibrahim yang kaget dengan kabar yang ia dengar kalau Mentari sudah berkerja.
__ADS_1
"Baru dua Minggu ini, Pah. Tari pengen cari kesibukan dan membantu ibu agar tidak kerepotan untuk biaya Mentari," jelas Mentari.
"Kamu butuh uang?" tanya pak Ibrahim lagi.
Mentari menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin merepotkan pak Ibrahim lagi, cukup dengan menampung dirinya dan ibunya saja sudah lebih cukup, ia harus tahu diri karena ia bukan siapa-siapa di rumah ini.
"Lalu buat apa kerja? Apa beasiswa kamu di cabut?"
"Gak, Pah. Tari pengen menyibukkan diri kalau pulang dari kampus, pengen cari pengalaman saja Pah, Papa gak usah khawatir ya," jawab Mentari yang tahu dengan maksud pak Ibrahim yang mengkhawatirkannya.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa bilang sama Papa, papa akan membantu dan memberikannya," balas pak Ibrahim yang tersenyum, ia berlalu meninggalkan Mentari.
Mentari masuk seperti biasa, ia akan lewat pintu samping langsung menuju kamarnya. Karena ia malas untuk bertemu dengan seseorang dan menanyakan tentang dirinya dan telat pulang.
Ia masuk dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mengaktifkan kembali ponselnya yang beberapa jam lalu non aktifkan karena tidak mau di ganggu siapapun termasuk pria yang selalu ada di dalam hatinya.
Setelah mengaktifkan, ada beberapa panggilan tidak terjawab dan puluhan pesan masuk dari Reyhan.
Mentari membuang napasnya perlahan, ia beranjak dan menyimpan ponselnya di atas nakas sampai ranjangnya. Dan ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri ponselnya berdering menandakan bahwa ada yang memanggilnya, segera Mentari mengambil dan melihatnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maafkan aku, Rey. Ini adalah keputusan yang terbaik untuk kita...