
Permintaan Reyhan yang ingin menjaga Mentari dengan segenap jiwanya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kekasihnya saat luar pantauannya.
Mentari pun menganggukkan kepalanya, ia biarkan Reyhan melakukan itu dan membayarkan biaya kos'an itu, ia tidak mau kalau Reyhan selalu berpikir kalau dirinya akan menjauhinya.
"Terimakasih, Rey? " ucap Mentari, ia bukannya senang dengan bantuan Reyhan untuknya. Melainkan ia tidak enak dengan keluarganya yang mengetahui kalau anaknya membantunya sejauh ini.
"Itu sudah jadi tanggung jawab ku, Tar. Mulai sekarang kamu adalah kehidupan ku," tegas Reyhan yang meyakinkan Mentari agar mau menerima lamaran di makam tersebut.
Mentari tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum untuk menanggapi perkataan pria ini. Ia yang tahu dengan maksud ucapan Reyhan yang masih kekeh ingin meminangnya untuk menjadi istrinya.
Ada hati yang harus di jaga dan hati itu punya Papahnya yang tidak pernah bisa menerima kehadiran Mentari sebagai mantu satu-satunya di keluarga terkaya di kota ini.
Mentari masuk kedalam kos'annya yang diikuti oleh Reyhan yang sedang membawa barang-barang milik Mentari. Ia letakkan di sudut ruangan yang sederhana dan cukup untuk dia orang.
"Kamu makan dulu ya?" tawar Reyhan yang sekian kalinya, ia takut terjadi sesuatu pada Mentari.
Dan, jawaban Mentari pun membuat Reyhan tersenyum. Ia bahagia melihat kembalinya wanita pujaannya kembali cerita walaupun masih dengan keadaan seperti ini.
"Mau makan di sini apa di luar," tawar Reyhan yang meminta pilihan pada Mentari.
"Di sini saja, boleh gak?" pinta Mentari, ia belum bisa mengajak hatinya untuk melakukan aktivitas yang lainnya.
"Boleh dong, lainnya juga boleh," goda Reyhan yang terkekeh.
Selesai memesan makanan lewat online, Mentari pun masuk kedalam kamar mandi yang ukurannya muat untuk sendiri, ia akan memulai dengan suasana yang baru.
__ADS_1
Reyhan duduk di lantai ruang tamu yang belum ada perabotan untuk mengisi kos'an yang baru saja Mentari tempati. Rencananya Reyhan akan membelikan beberapa yang di butuhkan Mentari di dalam kos'an ini hanya sendiri.
Selesai mandi dan berpakaian, Mentari pun menghampiri pria yang selalu ada di dekatnya itu. Dan ia duduk di sampingnya sambil menunggu kurir yang akan mengantarkan pesanan mereka.
"Maafkan aku, Rey. Tempatnya begini membuat mu tidak nyaman," sahut Mentari yang memecahkan keheningan.
Reyhan pun menyimpan ponselnya yang ia pegang, perkataan Mentari membuat ia mengalihkan pandangan langsung pada Mentari.
"Jangan bicara seperti itu, aku nyaman kok, malah nyaman kalau sering ada di samping kamu," goda Reyhan, ia tidak ingin melihat kesedihan di wajah wanita yang ia cintai.
"Apa sebaiknya kamu menuruti apa kemauan Papah kamu, Rey? Benar apa yang di katakan oleh Papah kamu, kalau aku hanya seorang anak yang tidak ada asal usulnya," sahut Mentari.
"Cukup, Tar. Kita akan memperjuangkan cinta kita, dan Papah ku akan melihat ketulusan cinta kita dan merestuinya," ucap Reyhan yang meyakinkan sang kekasih.
Belum Reyhan membalas perkataan kekasihnya, sahutan dari luar membuyarkan percakapan mereka. Reyhan pun bangun dan berjalan untuk menghampiri sang kurir yang ia pesan itu.
Reyhan pun menghampiri Mentari yang masih duduk di lantai dan meletakkan beberapa pesanan yang ia pesan. Dan Mentari yang ingin berangkat untuk mengambil minum pun di cegah oleh Reyhan.
"Biar aku saja, Tar," cegah Reyhan.
Mentari pun menurut ia kembali lagi duduk sambil membuka makanan, ia tersenyum dan bahagia. Masih ada orang yang masih perduli dan sayang padanya, ia bahagia karena Reyhan memesankan makanan kesukaannya.
Membawa minuman yang ada di tangannya, Reyhan pun duduk dan mengambil makanannya untuk ia makan bersama Mentari.
"Makasih ya, Rey. Kamu udah pesankan aku makanan kesukaan aku," ucap Mentari yang melirik kearah Reyhan.
__ADS_1
"Apa sih yang gak bisa aku lakuin," sahut Reyhan yang membanggakan dirinya sendiri.
"Mulai..,"
"Hehehe, makan yang banyak ya, mau di suapin gak?" tawar Reyhan yang terus menggoda Mentari agar Mentari bisa tersenyum lagi.
Bukannya mendapatkan anggukan malah Mentari mencubitnya tanpa protes, Mentari yang malu yang selalu diperlakukan seperti itu oleh Reyhan yang tidak mementingkan diri sendiri.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu membuyarkan suasana yang begitu indah, Reyhan dan Mentari menoleh berbarengan, dan ia berpikir siapa yang mengetuk pintu itu...
Mentari yang ingin membukakan pintu itu pun di cegah oleh Reyhan dan Reyhan pun berdiri dan menghampiri pintu tersebut.
.
.
.
.
.
Permisi.. Apa yang kalian lakukan di dalam sana??
__ADS_1