Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Pertemuan antara Mentari dan pak Bagas..


__ADS_3

*To Reyhan..


Maafkan aku karena telah mengecewakan kamu, jangan pernah mencari keberadaan ku, Rey. Mungkin kita tidak berjodoh walaupun kita bersikeras melawan takdir yang tidak berpihak kepada kita. Bukan aku tidak mencintai kamu, Rey. Aku masih mencintaimu tapi aku sadar diriku ini siapa? Dan kamu siapa, terlebih kamu sekarang sudah milik orang lain. Aku hanya bisa mendoakan semoga kamu bahagia bersamanya iya, aku akan selalu ada untukmu, Rey. Jadi jangan pernah lupakan aku kalau aku pernah ada dihari hatimu..


Mentari*...


Isi surat itu membuat Reyhan semakin terpuruk, ia meremasnya dan menggenggam surat itu dan kencang.


Pulang dengan keadaan kacau, ia langsung masuk kedalam kamarnya tanpa menghiraukan panggilan kedua orang tuanya tersebut.


"Kenapa Reyhan, Pah?" tanya Mamah Sarah yang khawatir dengan keadaan putranya.


Papah Bagas mengangkat bahunya tanda tidak tahu tentang putranya, bukan ia tidak tahu melainkan itu adalah rencananya untuk menyingkirkan keberadaan Mentari. Sepulang dari kampus Mentari menemui Papah Bagas yang dari tadi menelponnya dan mengancam kalau tidak menemuinya.


Mau tidak mau pun Mentari mengikuti apa maunya Papahnya Reyhan, ia masuk kedalam mobilnya menuju kafe yang sudah di pesankan olehnya.


Masuk kedalam kafe tersebut, duduk di kursi yang sudah di pesankan.


"Ada apa ya, Om?" tanya Mentari yang memulai pembicaraan bersama Pak Bagas.


"Bagus kalau kamu paham, tuduh poin saja. Saya ingin kamu tinggalkan putra saya dan pergi dari kota ini," perintah Pak Bagas pada Mentari.

__ADS_1


Deg...


Hati Mentari sakit, se benci itu kah seorang pria paruh baya terhadapnya. Apa salah kalau dirinya memiliki keinginan untuk berbahagia seperti orang-orang pada umumnya.


"Maksud Om?" tanya lagi, ia tidak paham dengan maksud pak Bagas.


"Saya akan kasih kamu uang yang banyak dan memberikan kehidupan yang layak yang kamu inginkan. Saya akan jamin semua kebutuhan hidup kamu di sana," ucap Pak Bagas yang memberikan negosiasi pada Mentari agar bisa pergi dari kehidupan sang putra.


"Kamu mau berapa? Sebutkan saja," sambungnya lagi sambil mengeluarkan cek.


Mentari hanya terdiam, ia hanya mendengar apa yang terlontar dari mulut pria paruh baya tersebut. Menjijikkan kah dirinya kalau ia menjadi bagian dari keluarga mereka.


"Tapi, Om. Saya gak butuh semua ini," jawab Mentari yang tidak tertarik dengan semua yang di tawarkan oleh Pak Bagas.


"Tidak tertarik, terus apa yang kamu incar kalau bukan harta saya, kamu pacaran dengan putra saya hanya karena ini kan?" ujar Pak Bagas yang menghina Mentari.


"Saya memang pacaran dengan putra Bapak. Tapi saya tidak menginginkan itu semua, saya masih bisa mencarinya, insa Allah tidak akan merepotkan siapapun. Jadi saya mohon jangan pernah menghina harga diri saya walau saya dari anak seorang pembantu dan tidak memiliki seorang ayah," ucap Mentari yang begitu lantang, ia yang sudah terbawa emosi tidak lagi menghargai orang yang lebih tua darinya. Ia hanya ingin mempertahankan harga dirinya yang selalu di rendahkan oleh orang.


"Jangan kurang ajar kamu," balasnya yang tidak terima.


"Maafkan saya, pak. Saya hanya ingin membela diri saya sendiri," jawab Mentari yang mulai menundukkan kepalanya. Ia hanya terbawa emosi saja.

__ADS_1


"Saya bisa melakukan apa saja termasuk cita cita kamu yang ingin mewujudkan impian mendiang ibumu," ancam pak Bagas yang tidak main main.


Mentari mendongakkan kepalanya, ia tidak habis pikir dengan kelakuan Papahnya dari kekasihnya ini. Begitu tega memisahkan antara dirinya dan Reyhan dan sekarang ia akan menguburkan cita cita untuk mewujudkan permintaan terakhir dari sang ibu yang sudah tiada untuk selamanya.


Kepada siapa ia harus mengadu dan meminta tolong, orang satu satunya yang ia keluh kesah pun sudah pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dirinya seorang diri tanpa harus melangkah kemana dan tujuannya pun masih abu abu.


.


.


.


.


.


.


.


Pak Bagas tidak usah khawatir, saya akan pergi dari kota ini dan akan meninggalkan putra bapak. Tidak usah mengeluarkan uang atau yang lainnya. Berikan saja pada orang yang lebih membutuhkannya...

__ADS_1


__ADS_2