
"Apa kamu ada masalah?" tanya Ibunya pada sang anak, ia tahu karakter anaknya yang sedang ada masalah yang ia belum tahu.
"Gak ada, Bu. Tari baik-baik saja," jawab Mentari yang berbohong, ia juga pengen bercerita dan mencurahkan isi hatinya yang selama beberapa hari ini ia pendam sendirian. Tapi, sang ibu lagi punya riwayat jantung, ia tidak mau terjadi sesuatu pada ibunya kalau ia bercerita padanya.
"Kamu gak ada yang di sembunyikan dari ibu kan?" tanya Ibunya lagi.
"Ibu gak usah khawatir ya, Tari baik-baik saja," ucap Mentari yang meyakinkan sang ibu agar lebih tenang.
ibunya mengangguk dan melanjutkan masaknya, Tari menyiapkan piring dan meletakkan di atas meja makan.
Selesai menyiapkan makanan yang tadi ibunya masak, Mentari berlalu menuju kamarnya ia akan mengerjakan tugas yang dosen berikan kemarin. Ia juga memikirkan tentang pekerjaannya yang baru saja dua Minggu ini ia masuk dan berkerja. Apakah ia harus berlanjut ataupun berhenti dari pekerjaan itu, hatinya bimbang dengan langkah yang ia ambil ia sudah menyukai pekerjaan di butik Mamanya Reyhan.
Deg...
Hatinya nyeri saat mengingat nama Reyhan ia sebut barusan, mengingat hubungannya baru beberapa hari ia lalui bersama. Hatinya nyaman saat ada di sampingnya ia begitu merindukan sosok yang kemarin ia hindari demi kebaikannya bersama. Si Egois itu kah ia menghindari Reyhan tanpa alasan yang tepat, ia juga tidak ingin seperti ini tapi keadaan yang harus memisahkan antara kita.
Sampai kapan pun ia tidak akan sanggup untuk menghadapi Reyhan lebih lama lagi, mengingat hari-harinya selalu bertemu Reyhan di kampus ataupun di tempat kerjanya. Ia juga tidak boleh begini terus dan harus menyelesaikan masalah sampai selesai dan menemukan solusinya.
Ketika ia melamun memikirkan tentang dirinya, Reyhan pun menelponnya. Ia tidak mungkin membiarkan lagi bunyi ponsel berdering tanpa ia jawab, Mentari menarik napas dan membuangnya pelan-pelan, ia akan berbicara dan menyelesaikan masalah ini.
"Assalamualaikum, Tar?" ucap Reyhan yang di sebrang sana, ia begitu senang beberapa hari di abaikan oleh Mentari.
"Waalaikumsalam, Rey," sahut Mentari.
"Kenapa kamu tidak pernah mengangkat telpon ku, dan membalas pesanku, apa salahku, Tar?" tanya Reyhan yang ingin mendengar penjelasan Mentari.
"Kita bicarakan di tempat lain saja, Rey. Aku juga ingin bicara sama kamu," jawab Mentari yang menggigit bibirnya, ia tidak boleh menangis dan di dengar oleh Reyhan.
"Kamu tidak apa-apa kan? Kenapa gak masuk kampus," tanya Reyhan yang begitu khawatir dengan keadaan Mentari yang tidak masuk.
"Aku baik-baik saja, Rey. Kamu gak usah khawatir ya," sahut Mentari meyakinkan Reyhan.
"Mau aku jemput? tawar Reyhan.
"Tidak usah, sepulang dari kampus kita bertemu di kafe dekat kampus,"
Reyhan pun mengiyakan ajakan Mentari, ia bahagia karena Mentari mau bertemu dan mengangkat teleponnya yang beberapa hari di abaikan oleh pemilik hatinya.
__ADS_1
Panggilan itu terputus, Mentari menyimpan ponselnya di sampingnya. Apakah ia sanggup melihat wajah Reyhan dan meninggalkan baru beberapa hari ia memulai hubungannya dengannya.
.
.
.
Di kampus, Reyhan merasakan senang dan bahagia karena Mentari ingin bertemu dengannya, hatinya yang merindukan sosok gadis yang sudah menempati ruang hatinya. Reyhan beranjak meninggalkan kelas ini untuk pergi ke perpus. Tapi di cegah oleh Vina.
"Rey, tunggu." teriak Vina yang menghampiri Reyhan.
Reyhan membuang napasnya, ia tidak suka dengan kelakuan Vina barusan yang selalu mengejarnya terang-terangan, ia sudah memiliki hambatan hati dan Vina pun sudah tahu dengan siapa ia menyukai pilihannya.
Langkah Reyhan berhenti, ia sebenarnya malas berhubungan dengan Vina kalau bukan Mentari yang selalu mengingatkannya untuk tidak menjauhinya.
"Mau kemana?" tanya Vina yang memegang tangan Reyhan.
Ingin rasanya Reyhan menghempaskan tangan Vina darinya tapi itu tidak mungkin ia lakukan karena ini adalah tempat umum dan tidak enak dilihat orang banyak.
"Ke kantin yuk, aku lapar," ajak Vina.
"Kamu aja, Vin. Aku gak lapar," ucap Reyhan yang melepaskan tangan Vina darinya, ia merasa malu di lihatin banyak orang.
Vina yang melihatnya langsung kesal, dan meninggalkan Reyhan begitu saja. Sikapnya yang terus mengabaikan dan menolaknya membuat Vina kesal dengan sahabatnya.
"Ini gara-gara Tari, kalau tidak ada dia pasti Reyhan akan menjadi milikku," gumam Vina yang memandang punggung pria yang ia cintai itu.
Vina menghentakkan kakinya dan berlalu meninggalkan untuk pergi ke kantin dan mencari seseorang.
.
.
.
Sore harinya, Reyhan melaju kendaraan dengan kecepatan tinggi ia ingin segera sampai dan bertemu dengan pujaan hatinya yang beberapa hari ini tidak ia temui, hatinya begitu merindukan sosok wanita yang ia cintai.
__ADS_1
Sesampainya di kafe yang di sebutkan oleh Mentari, Reyhan turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kafe tersebut. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang ia cari. Saking senangnya ia sempat melupakan makan siangnya untuk bisa makan bersama Mentari.
Orang yang ia cari selama ini belum ia lihat, tapi ia tidak putus harapan untuk menunggunya di dalam kafe ini. Melangkah menuju meja yang kosong di dekat jendela, ia duduk sambil memanggil pelayan untuk memesan minuman.
Tak berselang lama, orang yang ia tunggu pun muncul dan mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaannya. Reyhan melambaikan tangannya agar sang kekasih melihatnya.
Mentari menghampiri dan duduk berhadapan hanya terselang oleh meja saja.
"Sudah makan? Biar aku pesan kan," tawar Reyhan saking senangnya melihat orang yang selama ini mengabaikannya.
"Tidak usah, Rey. Aku pesan minuman saja," tolak Mentari yang tidak enak hati.
"Gak ada penolakan, aku ingin kita makan dulu sebelum membahas yang lain," pinta Reyhan dengan ketegasan, ia tidak mau Mentari meninggalkannya setelah menyampaikan sesuatu, ia akan mengundur waktu agar lebih lama dengannya.
Mentari yang pasrah hanya menurut dan menganggukkan kepalanya, Reyhan yang keras kepala dan tidak bisa di bantah.
Reyhan pun memanggil pelayan dan memesan makanan dengan porsi begitu banyak membuat Mentari mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti dengan kelakuan Reyhan.
"Banyak banget, Rey. Siapa yang ngabisin?" tanya Mentari dengan heran.
"Aku dah kamu lah, siapa lagi. Dari siang aku belum makan sampai sekarang, nungguin kamu ingin makan bersama," sahut Reyhan yang tersenyum.
Mentari menggelengkan kepalanya, Reyhan melewatkan makan siangnya hanya untuk dirinya. Apakah ia tega setelah pengorbanan kecil yang di berikan Reyhan padanya ia sia-siakan dan meninggalkannya. Rasa tak tega pun menyelinap di hatinya.
.
.
.
.
.
.
Ngapain melamun, sayang. Ada apa bilang sama aku...
__ADS_1