Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Datang tiba-tiba..


__ADS_3

"Habis ngapain kalian? Pulang larut malam begini," tanya Vina dengan tuduh poin.


"Aku gak kemana-mana, Vin. Aku kerja," bela Mentari yang meyakinkan pada sahabatnya.


"Bohong." teriak Vina.


"Kamu bohong, Tar. Kamu habis mainkan sama Reyhan, kamu nusuk aku dari belakang, kamu tahu kan kalau aku sayang dan cinta sama Reyhan, aku sudah cerita sama kamu, Tar. Tapi, apa balasan kamu ke aku, kamu merebutnya dari aku, kemarin kamu seolah-olah benci dan tidak menyukainya, tapi apa sekarang, kamu jahat, Tar. Kamu jahat," ucap Vina dengan Isak tangisnya, ia begitu kecewa dengan Mentari yang tidak pernah jujur kalau ia juga menyukai pria yang sama seperti yang ia suka.


"Maafkan aku, Vin. Aku juga tidak tahu kalau akan jadi begini, perasaan ini mengalir begitu saja tanpa di hentikan, kalau saja aku bisa akan aku hentikan perasaan ini untuknya. Tapi--," jawab Mentari yang begitu sedih dengan air matanya yang mengalir.


"Kamu jahat, Tar. Aku tidak mau lagi berteman dengan kamu, aku benci sama kamu, mulai malam ini hubungan antara kita menjadi sahabat itu sudah selesai. Jangan harap aku akan mengalah, aku pastikan Reyhan akan menjadi milikku, camkan itu," ancam Vina yang berlalu meninggalkan kamar Mentari, ia membanting pintu dengan keras.


Mentari yang mendengarnya begitu syok dan kaget saat suara pintu yang Vina lakukan, ia adalah perlakuan pertama terhadap dirinya. Vina tidak akan melewati batas kemarahannya setiap ia marah atau pun merajuk padanya.


Mentari menangis, ia baru saja merasakan kebahagiaan sesaat bersama orang yang ia sayangi. Apakah keputusan untuk memulai hubungan dengan Reyhan akan berjalan mulus tanpa rintangan, itu hanya sebuah mimpi, nyatanya hari pertama ia memulai hubungan saja sudah begini, bisa meneruskan atau berhenti tanpa ikatan.


Rasa bingung dan bimbang atas hubungan dengan Reyhan akan berlanjut apa berhenti sebelum memulainya. Ia sedih kehilangan sahabatnya sejak kecil menemani disaat ia membutuhkan, di saat ia bersama-sama melewati hari-hari yang begitu bahagia.


Ia merebahkan tubuhnya tanpa membersihkan diri, rasanya malas ingin segera beristirahat sebentar untuk merendam pikiran yang mulai kesal dengan sikap dan hatinya.


Kenapa hatinya bisa memilih pria yang sama seperti sahabatnya, ia merutuki kesalahannya saat ucapan itu.


"Maafkan aku, Vin. Aku juga tidak tahu akan seperti ini jadinya, aku yang salah dan aku akan menyelesaikan masalah ini," gumam Mentari yang terisak.


Beberapa menit, Mentari tertidur karena lelah menangis dan memikirkan sesuatu tentang dirinya, Reyhan, dan Vina.Tanpa terasa sang ibu masuk ke dalam kamar Mentari yang sudah terlelap tidur dengan wajah berantakan sehabis menangis.


"Ya Allah, Tari. Tidurnya kayak gini, kapan pulangnya sih," ucap ibunya dengan pelan dan membenarkan selimut anaknya.


"Kamu kenapa, Tari? Kayak habis nangis," ucapnya lagi sambil menatap wajah anaknya.


"Ada apa ya, dengan anakku," batin ibu Mentari.


Selesai melihat keadaan sang anak, ibu Mentari berlalu meninggalkan dan masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat karena malam semakin larut.


Pagi hari yang begitu cerah, tapi tak secerah hatinya yang saat ini dilanda kebingungan memilih antara sahabat atau kekasih yang baru saja memulai hubungan dengan Reyhan.


Selesai membersihkan diri, Mentari keluar dari kamarnya untuk menemui ibunya yang ada di dapur.


"Ibu masak apa?" tanya Mentari.

__ADS_1


"Seperti biasa, kamu semalam pulang jam berapa, Tar?" tanya Ibunya.


"Jam setengah sebelas, Bu. Maaf Tari pulang telat," jawab Mentari yang tidak enak hati pada ibunya yang pasti mengkhawatirkannya.


"Memang pekerjaan mu banyak, Tar. Ibu hanya kasihan sama kamu, jangan terlalu di porsil tubuh juga butuh istirahat," nasehat Ibu yang selalu khawatir dengan keadaan sang anak.


"Iya, Bu. Tari mengerti, ibu gak usah khawatir ya, doakan saja Mentari ya, Bu." jawab Mentari yang meyakinkan sang ibu agar lebih tenang.


"Kamu gak siap-siap untuk pergi ke kampus?" tanya ibunya melihat pakaian sang anak hanya biasa saja.


"Hari ini gak ada kelas, Bu. Mentari ingin menghabiskan waktu bersama ibu," sahut Mentari yang tersenyum.


"Alhamdulillah, sekarang kamu bantu ibu beres-beres ya,"


Mentari mengangguk, ia membantu ibunya memasak dan membersihkan seisi rumah ini.


Deringan ponselnya menghentikan aktivitasnya sejenak, ia mengambil ponselnya dari meja dapur yang tak jauh darinya.


Mentari mengangkat telpon dari Reyhan yang menghubunginya.


"Asalamualaikum, cantik." ucap Reyhan diseberang sana.


"Lagi ngapain?" tanya Reyhan.


"Lagi bantuin ibu, Rey. Ada apa hubungi aku?" tanya Mentari.


"Emang gak boleh kalau ingin tahu keadaan kekasihnya, aku kangen, jalan yuk?" ajak Reyhan.


"Aku gak bisa, Rey. Aku hari ini ingin membantu dan menemani ibuku," tolak Mentari yang memberi alasan yang tepat agar Reyhan tidak curiga kalau ia takut dengan hubungan ini.


"Oh, gitu ya, ya udah kapan-kapan saja deh, jangan telat makan ya cantik." ucap terakhir dari panggilan tersebut di akhiri salam dari sebrang sana.


Mentari meletakan ponselnya di tempat tadi, ia akan meneruskan pekerjaannya yang sebenar lagi akan selesai.


Dari kejauhan, Vina begitu kesal dan marah ia mengepalkan kedua tangannya tanda ia tidak suka saat Mentari di hubungi oleh Reyhan pastinya. Hatinya sakit dan perih ia tidak terima dan beranjak meninggalkan ruangan dapur untuk mengontrol emosinya.


"Aku akan melakukan apapun untuk merebut Reyhan dari kamu, Tar. Lihat saja nanti," gumam Vina yang berlalu.


Selesai menyiapkan sarapan, Mentari akan menyiram tanaman Mama Lita. Ia suka sekali dengan berbagai macam tanaman dan bunga mawar yang dimiliki oleh majikannya.

__ADS_1


Saat menyiram tanaman ini, Mentari di kagetkan kedatangan mang Dadang yang menghampiri dirinya.


"Ada apa, Mang?" tanya Mentari yang ketus dan kesal karena di kagetkan olehnya.


"Si neng serius banget nyiram nya, Mang Dadang datang aja tidak tau," sahut Mang Dadang.


"Lagi pandangi tanaman Mama Lita, bagus-bagus,ya Mang?" tanya Mentari yang mengagumi milik Mama Lita sang majikannya.


"Harganya juga mehong mehong, neng. ya jelas lah bagus-bagus," balas mang Dadang.


"Mang Dadang mau apa lemari?" tanya Mentari.


"Aduh, hampir lupa. Di depan ada cowok ganteng yang nyariin si neng," jawab mang Dadang yang menepuk keningnya.


"Siapa, Mang?" tanya Mentari yang mengernyitkan dahinya.


"Lupa, Mang Dadang lupa tanyain namanya, saking buru-buru kesini," ucap mang Dadang sambil menyengir.


"Dasar, Mang Dadang. Ya udah Tari ke depan dulu mau menemui orang itu, mang Dadang terusin ya," balas Mentari yang memberikan selang air pada mang Dadang. Lalu berlalu meninggalkan mang Dadang yang menggerutu.


"Neng, mang Dadang tidak bisa melakukan pekerjaan ini, takut salah, nanti di marahin sama Nyonya," teriak mang Dadang yang di hiraukan oleh Mentari.


Sesampainya di gerbang pintu, Mentari mengernyitkan dahi dan kaget dengan kedatangan Reyhan tanpa memberitahukan dirinya akan datang ke rumah ini.


"Rey," panggil Mentari. Reyhan membalikkan badannya saat mendengar panggilan dari orang yang ia tunggu-tunggu.


.


.


.


.


.


.


Selamat pagi menjelang siang, cantik. Kita jalan yuk?

__ADS_1


__ADS_2