Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Rasa cinta...


__ADS_3

Hari pernikahan yang di nanti-nantikan oleh pasangan tersebut membuat orang di sekitar di buat sibuk dengan pernikahan yang mewah dan megah itu. Reyhan dan Mentari hanya menerima beres saja karena itu ulah Mamah Sarah yang sudah merencanakan sesuatu yang istimewa untuk putra satu-satunya itu.


Mamah Sarah akan memberikan hal yang begitu terkesan di pernikahan Reyhan dan Mentari. Mentari hanya mengangguk dan mengiyakan ucapan calon Mamah mertuanya yang sedang mengatur dekor di jauh-jauh hari.


"Rey, apa Mamah tak berlebihan seperti itu," tanya Mentari yang sedang makan berdua dengan calon suaminya ini.


"Biarkan saja, Tar. Mungkin Mamah ingin yang terbaik untuk kita," jawab Reyhan sambil mengunyah makanan yang ia pesan tadi.


"Kamu mau?" tawar Reyhan yang menyodorkan makanan itu pada mulut calon istrinya.


Mentari tak bisa menolak, ia membuka mulutnya untuk ia lahap makanan yang di sodorkan padanya.


"Enak?" tanya Reyhan.


Mentari mengangguk dan menguyah makanan itu, ia tersenyum perhatian dan perlakuan Reyhan tak berubah sama sekali dan Mentari beruntung karena masih di pertemukan dan di jodohkan lagi dengan pria yang amat ia sayangi ini.


Pernikahannya hanya beberapa hari lagi membuat pasangan yang akan melangsungkan hidupnya sebentar lagi. Bukannya di pingit atau bahasa istilah tak boleh bertemu dengan calon pasangan pengantin tersebut, tapi Reyhan tak mengerti dan tak paham dengan hal itu. Ia tidak ingin jauh-jauh dari Mentari yang baru ia temukan.

__ADS_1


Reyhan yang trauma akan hal itu membuat ia posesif terhadap Mentari, ia akan menelepon dan datang ke rumah Mentari untuk melihat keadaan Mentari.


Lebay, mungkin. Itu yang di rasakan Reyhan terhadap Mentari, ia tak ingin di tinggalkan untuk ketiga kalinya karena Mentari adalah bagian jiwanya.


"Kamu udah kenyang, Tar?" tanya Reyhan yang melirik makanan calon istrinya yang tak habis.


Mentari mengangguk dan menggeser piringnya, ia sudah kenyang karena di kantor Mentari sempat memakan cemilan yang ia beli dari jalan. Jadi Mentari tak seberapa lapar di waktu makan siang bersama Reyhan.


"Itu belum habis, Tar," ucap Reyhan, ia tak ingin Mentari sampai sakit.


"Aku udah kenyang, Rey," jawab Mentari yang sudah kenyang tak bisa menampung makanan itu.


Mentari tersenyum, ia akan menemani Reyhan yang belum selesai, Reyhan hanya fokus pada tujuannya karena ingin bertemu dengan calon istrinya. Rasa rindu melanda dalam dirinya saat di ruangannya sedang mengerjakan beberapa berkas yang harus ia tandatangani, tiba-tiba wajah Mentari terlintas begitu saja tanpa di minta sedikit pun.


Selesai makan, ponsel Reyhan berdering menandakan ada seseorang yang sedang menghubungi, Reyhan pun mengangkat telpon tersebut tangan kirinya masih menggenggam tangan Mentari.


"Iya, oke saya akan segera kesana," ucap Reyhan dari sambungan teleponnya lalu mematikan dan menyimpan di saku celananya.

__ADS_1


"Kamu lagi buru-buru, Rey? Aku pergi naik taksi saja kalau begitu," sahut Mentari yang tahu jika Reyhan ada panggilan dari kantornya, Mentari tak ingin mengganggu Reyhan dari pekerjaannya yang menumpuk.


"Tidak apa-apa, Tar. Bagiku kamu adalah prioritas ku saat ini," jawab Reyhan dengan mantap, ia tak perduli dengan pekerjaannya. Reyhan akan serahkan pada asistennya dan sekretarisnya.


"Kamu gak boleh begitu, Rey. Kamu harus profesional dan tunjukkan pada karyawanmu jika kamu bisa mengendalikan perusahaan mu hingga mancanegara," ucap Mentari menyemangati calon suaminya itu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ini nih yang aku tak mau berpaling saking cintanya... Aku beruntung bisa memiliki mu MENTARI...


__ADS_2