
"Ngapain sih, Rey. Mandang aku kayak gitu, bikin takut saja," gumam Mentari sambil duduk sesekali melirik kearah Reyhan.
Pelajaran pun di mulai saat datang bosen masuk ke kelas ini, semua mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh dosen tersebut.
Dua jam kemudian, pelajaran pun selesai dilakukan semua bubar untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan karena sudah siang.
"Rey, kita ke kantin yuk?" ajak Vina pada Reyhan.
Reyhan tidak menjawab, ia malah melirik kearah Mentari, ingin berbicara berdua dengannya begitu sulit karena selalu ada Vina di sampingnya.
"Yuk, kenapa diam saja," ucap Vina yang melihat kearah Reyhan.
Reyhan pun menganggukkan kepalanya, tidak mungkin ia menolak ajakan Vina karena perutnya juga sudah keroncongan ingin di isi. Reyhan beranjak dari duduknya yang sudah ada Vina didepannya.
Vina menggandeng tangan Reyhan, ia akan membuktikan kepada semua orang bahwa ia sebenar lagi akan memiliki pria tampan disampingnya.
Mentari hanya menunduk, ia tidak mau memandang wajah Reyhan yang butuh penjelasannya saat tadi pagi. Membuat Mentari merasa bersalah sudah memberi harapan pada pria ini.
Vina menarik tangan Rayhan yang masih berdiri sambil melirik kearah Mentari, semoga saja wanita ini pujaan hatinya saat melihatnya bersama dengan wanita lain akan cemburu atau bertingkah seperti orang yang berbeda, tapi apa yang Reyhan lihat Mentari biasa saja saat ia bersama dengan wanita lain.
Apakah Mentari tidak mencintai? Reyhan bertanya-tanya didalam hatinya.
Reyhan berlalu meninggalkan Mentari yang sendirian, ia ke kantin bersama Vina. ia sebenarnya risih dengan kelakuan Vina terhadapnya, terlalu gampang dan selalu menempel pada dirinya, tidak ada tantangan atau pun getaran dihatinya saat ini. Ia hanya merasakan saat bersama Mentari sang pujaan hatinya.
Sesampainya di kantin, keduanya memilih duduk dipojokkan karena Reyhan tidak suka dengan orang keramaian. Vina memesankan beberapa menu makan siangnya bersama Reyhan.
"Eh, Vin. Emang kamu sudah jadian sama Reyhan?" tanya siswi di sana.
"Belum, doakan saja semoga kita jadian ya, Rey." jawab Vina yang penuh berharap.
Reyhan tidak menanggapi ucapan orang-orang, ia tidak selera saat di cuekin atau dihiraukan oleh Mentari.
__ADS_1
Saat pesanan sudah datang, Vina segera memakannya dengan lahap, ia melirik kearah Reyhan yang diam tanpa menyentuh makanan itu.
"Rey, kenapa? Gak suka ya sama makanannya," tanya Vina.
"Suka kok," balas Reyhan yang mengambil makanan yang ia aduk.
Vina tidak bertanya lagi, ia merasa aneh dengan melakukan Reyhan pagi hari sampai sekarang, membuat ia bertanya-tanya kenapa dengan Reyhan?
.
.
.
Didalam kelas, Mentari ingin ke kantin ia juga merasakan lapar ingin makan siang, tapi ia tidak mau bertemu atau pun melihat Reyhan bersama sahabatnya. Hatinya merasa sakit saat melihat Reyhan dengan wanita lain. Kenapa dengan hatinya, bukan kah ia sangat membencinya saat pria itu selalu mengganggunya, tapi sekarang apa yang ia rasakan saat ini.
Apakah ia mencintai? tanya Mentari didalam hatinya, segera Mentari menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh punya perasaan lebih terhadap pria yang disukai oleh sahabatnya sendiri.
"Tari, kenapa bengong didalam kelas?" tanya Chiko teman sekelasnya.
"Tidak apa-apa, Chik." balas Mentari yang tersenyum.
"Kantin yuk?" ajak Chiko.
Mentari terdiam, ia sebenarnya ingin kesana , tapi rasanya tidak mungkin karena pasti ada Reyhan di sana bersama Vina sahabatnya.
"Yuk," tarik chiko tanpa persetujuan dari Mentari.
"Chiko... Aku belum jawab ya," teriak Mentari yang merengek.
"Kelamaan," sahut Chiko tanpa menghiraukan rengekan Mentari.
__ADS_1
Mentari hanya pasrah saat ia ditarik oleh Chiko, sampai di kantin semua orang yang ada di dalam kantin menoleh kearahnya, membuat Mentari dan Chiko menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sini.
"Kamu sih, Chik." ucap Mentari yang memukul tangan Chiko.
Dari kejauhan Reyhan melihatnya tidak suka saat wanita pujaan hatinya malah bercanda dengan pria lain, lebih akrab dengan pria itu dibandingkan dengannya. Hatinya begitu sesak saat memandangnya.
Mentari duduk bersebelahan Chiko dengan perasaan yang serba salah, melirik kearah Reyhan dan sahabatnya yang sedang makan bersama. Hatinya sakit saat pria itu tidak melihatnya sedikit pun.
"Mau pesan apa, Tar?" tanya Chiko yang membuyarkan lamunan wanita di hadapannya.
"Terserah kamu saja, Chik." sahut Mentari.
Chiko pun memesan bakso dengan minuman yang suka Mentari pesan saat di kantin ini.
.
.
.
Selesai makan siang, Mentari pamit untuk ke kamar mandi untuk membersihkan tangannya.
Ia melangkah menuju toilet, ketika ingin membuka pintu itu tiba-tiba di cegah oleh Reyhan, Reyhan mencekal pergelangan tangan Mentari, membuat Mentari kaget langsung menoleh.
.
.
.
.
__ADS_1
Kita harus bicara...