
"Tidak bedanya dengan wanita lain, yang hanya mengincar kekayaan dan kekuasaan saja." sahut Reyhan yang menghantam hati Mentari.
Mentari pun tak sanggup lagi untuk menahan air matanya lagi, ia curahkan isi hatinya pada pria yang pernah terukir di hatinya.
"Apa kurang aku, Tar. Di matamu hingga meninggalkan ku tanpa jejak dan pamit," ucap Reyhan lagi. Ia pernah kehilangan Mentari saat kecelakaan yang menimpanya dan kini ia harus dua kali merasakan hal yang sama dan itu sakit sekali, hidupnya hancur dan hari-harinya ia sibukkan dengan segudang pekerjaan dan pekerjaan.
Orang tuanya pernah menjodohkan dirinya dengan anak rekan kerjanya tapi itu sia-sia karena Reyhan menolaknya dengan mentah-mentah. Ia tidak ingin mengenal dengan namanya cinta.
"Aku yang salah, Rey. Aku yang tak bersyukur karena memiliki kamu, cinta yang begitu tulus. Tapi aku tak percaya diri karena aku hanya seorang wanita malang yang butuh bekas kasih seseorang saja. Aku hanya ingin membuktikan pada semua orang jika aku bisa hidup tanpa kalian," jelas Mentari yang mencurahkan isi hatinya.
"Kenapa? Kenapa kamu tak bilang, Tar. Aku sudah bilang kita hadapi bersama-sama, apa kamu lupa?" ucap Reyhan yang mengingatkan semua itu tentang janji lima tahun lalu.
Mentari menggelengkan kepalanya, ia ingin mengulang masa lalunya dan menyampaikan apa yang ia rasakan saat itu. Tapi, nasi sudah menjadi bubur, ia akan rasakan dan terima jika itu akan menyakiti hatinya.
Reyhan menggenggam tangan Mentari, ia merasakan getaran tangan wanita yang ia cintai itu butuh ketenangan dan support.
__ADS_1
"Mau kah kamu menerima cintaku lagi, Tar. Kita ulang lagi hari-hari kita dengan cerita baru. Biarkan masa lalu untuk jadi pelajaran untuk kita di masa depan. Sungguh, aku tidak bisa hidup tanpamu, hanya kamu satu-satunya yang aku cintai hingga sekarang," ucap Reyhan yang mengutarakan isi hatinya dan melamar Mentari untuk sekian kalinya. Ia berharap wanita itu mau menerima dan menjadi bagian dari hidup yang sekarang sudah sama-sama dewasa.
Mentari terdiam, ia memikirkan tentang ajakan Reyhan beberapa kali. Keseriusan dan kesetiaan yang dimiliki oleh pria yang ada di hadapannya begitu gigih dan terpegang teguh. Mentari beruntung bisa di cintai oleh pria yang ada di hadapannya sekarang.
Mentari mengusap cairannya dan menarik napasnya lalu membuangnya dengan perlahan.
"Aku mau, Rey. Dan aku siap menjadi bagian dari hidup mu dan menjadi pelengkap hidupmu nanti," jawab Mentari dengan sungguh-sungguh, ia mengucapkan dengan keadaan tidak terpaksa karena Mentari tak harus memikirkan sesuatu yang telah ia gapai dan impikan.
"Kamu beneran, Tar. Ini tidak main-main kan," tanya Reyhan, ia tidak ingin di kecewakan lagi untuk kesekian kalinya karena sebuah jawaban itu.
"Tentu, ini yang aku inginkan, Tar. Aku janji tidak akan mengecewakan kamu," janji Reyhan yang tersenyum karena bahagia sudah menemukan cintanya yang dulu hilang.
"Aku yang seharusnya bilang seperti itu, Rey. Karena ku kamu seperti ini," ucap Mentari yang lirih dan kecewa dengan dirinya sendiri karena telah menyakiti hati pria yang baik dan tulus mencintainya.
"Yang terpenting kamu tidak akan pernah mengulangi lagi dan menemani ku dan menjadi istri dan ibu dari anak-anakku,"
__ADS_1
Mentari tersipu malu karena pertuturan dari Reyhan, ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya bersama seseorang yang akan menjadi suaminya nanti. Tapi ia bersyukur karena telah di pertemukan lagi dengan cinta pertamanya yang dulu ia sia-siakan.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih, Rey. Jadilah pria satu-satunya yang aku banggakan di kemudian hari karena kesungguhan mu dan kesetiaan mu dalam menunggu ku hingga kini... Aku menjadi wanita yang beruntung karena di cintai oleh pria begitu hebat..