
"Aku tidak apa-apa, Tar. Kamu jangan khawatir," ucap Reyhan dengan suara yang masih lemah.
"Kenapa kamu tolongin aku, Rey. Gak akan kayak gini jadinya." ucap Mentari yang duduk di pinggir ranjang pasien.
"Masa aku gak tolongin orang yang meminta tolong," jawab Reyhan yang tersenyum, ia begitu senang melihat keadaan wanita pujaannya baik-baik saja.
"Tapi--," belum Mentari meneruskan ucapannya.
"Cie udah mulai perhatian," goda Reyhan.
"Siapa yang perhatian, aku hanya takut terjadi sesuatu saja, nanti Mama marah-marah sama aku, gara-gara tolongin aku, aku takut di pecat baru juga masuk kerja." ucap Mentari yang mencari alasan.
"Aku gak akan bilang sama Mama, asalkan.." ucap Reyhan yang menghentikan ucapannya.
"Asalkan apa?" tanya Mentari yang penasaran.
"Kamu mau jadi pacar aku," jawab Reyhan yang tersenyum sambil menurun dan menaikkan dua matanya.
"Ngaco kamu, jangan memanfaatkan keadaan ya, ya udah deh mending aku pulang saja." ucap Mentari yang mau beranjak dari duduknya.
"Tunggu, Tar." panggil Reyhan yang mencekal pergelangan tangan Mentari.
"Kamu tega tinggalin aku kayak gini, ini juga kan habis tolongin kami, ya udah deh kalau tidak mau jadi pacar aku, boleh aku menjadi teman kamu?" tanya Reyhan, sebenarnya ia tak mau menjadi temannya. Tapi, dari pada wanita di hadapannya selalu menjauh dan tidak mau mengenal, Rey akan tetap bertahan untuk memperjuangkan cintanya pada wanita yang ada di hadapannya.
Mentari tersenyum, ia menganggukkan kepalanya tanda kalau ia menerima Reyhan menjadi temannya, bukan ia menolak Reyhan secara terang-terangan, tapi ada perasaan orang lain yang di pikirkan oleh Mentari. Beberapa hari lalu sahabatnya mengungkapkan perasaannya, kalau ia juga mencintai Pria yang ada di hadapannya sekarang.
Hati Mentari yang begitu senang dan bahagia, atas ungkapan cinta dari Pria di hadapannya. Tapi, Mentari menepis perasaan itu ia tidak mungkin menyukainya, Mentari yang belum menyadari dengan perasaan yang ia rasakan, ini adalah pengalaman pertamanya merasakan perasaan yang begitu aneh dan menebarkan, hatinya begitu senang saat ada di dekatnya.
"Kamu mau kan?" tanya Reyhan.
Mentari menganggukkan kepalanya dan tersenyum, membuat Reyhan terpana melihat senyum manis wanita pujaannya.
"Terimakasih," ucap Reyhan yang menggenggam tangan Mentari. Pandangan keduanya sama-sama bertemu dan merasakan perasaan yang aneh.
Bunyi ponsel Mentari membuyarkan lamunan keduanya, Mentari menjadi salah tingkah di buatnya, segera Mentari mengangkatnya untuk mengurangi kegugupannya.
__ADS_1
Reyhan yang tersenyum melihat tingkah laku wanita pujaannya yang begitu menggemaskan, wajah polos dan lucu membuat perasaannya yang merasakan senang luar biasa, entah harus apa buat meyakinkan wanita di hadapannya kalau ia benar-benar mencintainya.
"Halo, Bu." jawab Mentari, yang menghubunginya adalah Ibunya.
"Tari, kamu dimana, Nak? Sampai sekarang belum pulang, bikin ibu khawatir Nak." ucap seorang ibu pada anaknya yang mengkhawatirkan keadaan sang anak yang belum pulang.
"Tari ada di rumah sakit, Bu. Tari--," belum sempat Tari meneruskannya ucapannya ibunya sudah memotongnya.
"Apa? Kenapa kamu ada di rumah sakit, kamu gak apa-apa kan Tar, di rumah sakit mana? Biar ibu susul ya," ucap ibunya yang begitu khawatir mendengar sang anak lagi ada di rumah sakit.
"Tari tidak apa-apa, Bu. Tari lagi tolongin teman Tari yang di pukul sama preman, dia pingsan tak sadarkan diri, mangkanya Tari bawa ke rumah sakit Bu." jelas Mentari pada ibunya yang mengkhawatirkannya.
"Tapi kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Ibunya lagi.
"Iya, Bu. Tari tidak apa-apa, ibu jangan cemas ya, bentar lagi juga Tari pulang." ucap Mentari yang meyakinkan sang ibu.
"Syukurlah, kalau sudah selesai dengan urusan mu, Tar. Cepetan pulang ini udah malam Sayang."
"Iya, Bu."
"Rey," panggil Mentari.
"Iya," jawab Reyhan yang memandang ke arah Mentari.
"Aku pulang dulu ya, keadaan kamu kan udah lebih baik, gak ada luka yang serius, aku takut pulang malam kalau aku temenin kamu di sini." ucap Mentari yang juga tak enak hati meninggalkan Reyhan dengan keadaan ini yang sudah tolongin dirinya.
"Ya udah aku anterin ya,"
"Gak usah, Rey. Kamu kan baru sadar,"
"Terus kamu mau pulang pake apa? Sedangkan kendaraan kamu juga masih ada di tempat kejadian." tanya Reyhan.
"Aku akan mencari angkutan umum, buat ambil motorku." jawab Mentari.
"Gak bisa, aku yang anterin kamu, kamu mau di gangguin lagi sama preman itu, ini udah malam," ajak paksa Reyhan, ia tidak mau terjadi sesuatu dengan wanita pujaannya.
__ADS_1
Mentari juga merasakan ketakutan atas kejadian tadi, kalau bukan Reyhan yang tolongin entah nasibnya seperti kalau Reyhan tidak datang.
"Ya udah deh, tapi kamu bisa kan? Kendaraan kamu juga ada di sana,"
"Itu gampang." ucap Reyhan yang turun dari ranjang pasien, ia di perbolehkan untuk pulang karena tidak ada luka yang serius.
"Yuk," ajak Reyhan yang menarik pergelangan tangan Mentari.
Mentari hanya mengangguk, ia mengikuti langkah kaki Pria yang selalu ia hindari dan bikin ia kesal.
Sampai di halaman rumah sakit, Reyhan menelpon seseorang untuk membawakan kendaraan ke sini, beberapa menit ia dan Mentari menunggu, mobil itu datang di hadapannya.
"Yuk masuk," pinta Reyhan yang membukakan pintu mobil untuk Mentari.
Segera Mentari masuk ke dalam mobil Reyhan di susul oleh Reyhan juga, kendaraan itu melaju dengan kecepatan sedang.
"Rey, motorku gimana?" tanya Mentari.
"Kamu tenang aja, malam ini juga motor mi akan ada yang antarkan, jangan cemas." ucap Reyhan yang memandang Mentari.
Mentari yang merasakan gugup luar biasa, kenapa dengan perasaannya, membuat ia menjadi orang bodoh dan salah tingkah di hadapannya Reyhan.
.
.
.
.
.
.
Ya Allah, kenapa dengan hatiku ini...
__ADS_1