Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Kantin...


__ADS_3

Ucapan Pak Ibrahim pun di buat kaget dan syok oleh ibu Tiara, yang yang langsung menoleh kearah majikannya untuk meminta penjelasan apa yang ia dengar barusan tidak salah dan hanya bercanda. Mama Lita yang merasakan senang atas keputusan suaminya terhadap Mentari, ia akan mengabarkan langsung pada sang putri tercinta.


"Tuan, saya tidak salah dengar kan? Ucapan Tuan hanya bercanda kan?" tanya ibu Tiara yang takut kehilangan putrinya. Ia yang hanya sebatang kara hanya mempunyai Mentari saja di dunia ini.


"Ini demi kebaikan Mentari, Tiara. Dan Mentari orangnya pintar biar lebih menggali potensi di sana," jawab Pak Ibrahim, ia juga tidak lera dengan keputusannya. Mau tidak mau ia harus melakukannya demi kebaikan bersama.


"Biar saya yang urus dan menanggung biayanya di sana, kamu jangan cemas soal itu," sambungnya lagi.


"Bukan masalah itu, Tuan. Yang saya permasalahan itu saya tidak mau jauh dari anak saya. Saya hanya punya Mentari, ia satu-satunya harapan saya di dunia ini, saya mohon jangan pisahkan kami, Tuan." ucap ibu Tiara yang memohon agar keputusan Pak Ibrahim untuk melanjutkan studi Mentari di batalkan.


"Gak bisa kayak gitu, keputusan suami saya gak bisa di gugat ataupun di batalkan, titik." sahut Mama Lita yang menimpali percakapan antara suaminya dan pembantunya.


"Saya mohon, Nyonya. Saya tidak mau jauh dari anak saya, hanya dia yang saya punya," ucap Ibu Tiara yang memohon untuk kedua kalinya.


Pak Ibrahim pun yang tidak tega melihatnya hanya membuang napasnya, ia bangun dan menghampiri ibu Tiara dan berkata.


"Baiklah, saya akan pertimbangkan permintaan kamu. Tapi, dengan satu syarat, Mentari harus menjauhi Reyhan, kamu juga sudah tahu kan maksud saya berbicara seperti ini, ini demi kebaikan kita bersama." ucap Pak Ibrahim yang berlalu meninggalkan ruang tamu yang pernah dengan ketegangan.


Mama Lita pun beranjak juga, ia ingin menyusul suaminya dan berkata kepada pembantu sebelum ia akhirnya pergi.


"Ingat kata-kata saya, jangan pernah melakukan kesalahan yang sama seperti kemarin yang di lakukan oleh Mentari, saya akan memisahkan kalian berdua kalau kalian tidak menuruti perintah saya dan bilang pada Mentari jangan untuk meninggalkan Reyhan, karena ia tidak pantas bersanding dengan pria seperti Reyhan." ancam Mama Lita yang berlalu meninggalkan ruang tamu juga, ia menyenggol lengan ibu Tiara agar ia takut dengan ancamannya.


Kini hanya ibu Tiara seorang diri di ruang tamu, ia meneteskan air matanya, masalah ini semakin rumit baginya. Ia yang tidak mau kehilangan Mentari, putri satu-satunya yang ia punya di dunia ini, hanya dia penguatnya di saat ia membutuhkan pelukan dan sandaran mengingat semua masa lalunya yang begitu kelam.


Ia harus bagaimana lagi agar sang putri bisa melakukannya dan meninggalkan pacarnya agar majikannya tidak tidak membuat keputusan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.


Ia pergi dan masuk ke dalam kamarnya yang sederhana, ia rebahkan tubuhnya dalam pikirannya yang bercabang. Ia memikirkan nasibnya dan nasib putrinya yang tidak beruntung bisa mendapatkan yang ia inginkan.

__ADS_1


Keegoisan anak dari majikannya yang ingin selalu di turuti kemauannya dan selalu anaknya yang mengalah demi keinginannya. Ia juga ingin melihat putrinya bahagia dengan apa yang ia punya tanpa ada yang mengusiknya.


"Maafkan ibu, Tari. Ibu tidak bisa membahagiakan kamu dan membela kamu," lirih ibu Tiara yang sedang berbaring, ia meneteskan air matanya mengingat permohonan anaknya yang kemarin ingin mempertahankan hubungannya dengan seorang Pria yang ia cintai itu.


.


.


.


Siang harinya, Mentari keluar dari kelasnya ia akan menuju kantin bersama Reyhan. Reyhan lah yang mengajak Mentari untuk makan siang bersama, awalnya Mentari sempat menolak ajakan Reyhan, ia melirik kearah Vina dengan wajah yang di tekuk dan kesal melihatnya. Tapi Reyhan memaksanya dan menariknya agar ikut dengannya.


Mentari hanya pasrah dan menuruti langkah Reyhan yang membawanya ke tempat orang-orang yang sedang mengisi perutnya. Ia duduk di kursi yang keramaian mahasiswa yang sedang makan siang.


Reyhan memesan makanan sambil tersenyum dan mengelus tangan Mentari yang ia genggam, Reyhan yang merasa senang dengan kehadiran Mentari yang masuk kuliah kembali setelah kemarin ia tidak masuk.


Di sebrang sana, Vina memandang kearah sahabatnya yang lagi senang bercanda dengan orang yang ia cintai itu, hatinya sakit dan kesal dengan apa yang di lakukan mereka berdua. Ia terus di tolak ketika ia mengajak Reyhan untuk makan di kantin maupun di tempat lain. Semakin muak dengan tingkah laku Mentari yang selalu menang darinya, ia selalu cemburu dengan kehebatan yang Mentari punya, selalu unggul di setiap yang ia lakukan.


Ia menghentakkan kakinya tanda kesal dengan pemandangan di depan, meninggalkan kantin tersebut dan berlalu, tapi seseorang menariknya dan membawanya ke tempat belakang kampus tersebut.


"Apaan sih, Rio. Ngapain kamu bawa aku ke sini, kita tuh sudah selesai dan tidak ada lagi hubungan apa-apa lagi," protes Vina yang menghempaskan tangannya yang di pegang oleh Rio.


"Kamu yang apa-apaan, seenaknya saja putusin aku, bukannya kita akan berjuang untuk mendapatkan restu dari bokap dan nyokap kamu, Vin. Dan sekarang tidak ada angin tidak ada hujan kamu memutuskan aku tanpa sebab dan salah," jawab Rio yang tidak terima keputusan Vina yang meninggalkannya.


"Aku tuh gak cinta lagi sama kamu, Rio. Dan hubungan ini tidak mungkin lagi kita jalani tanpa ada cinta, jadi jangan pernah lagi temui aku lagi," sahut Vina yang meninggalkan Rio tanpa mendengarkan jawaban Rio.


"Vin... Vina.. Aku belum selesai ngomong, kamu mau kemana?" teriak Rio yang sudah kesal, ia menarik rambutnya untuk melampiaskan kekesalannya. Ia yang masih mencintai Vina dan tidak mau di tinggalkannya.

__ADS_1


.


.


.


Di kantin, Mentari selesai makan siang bersama Reyhan. Ia beranjak setelah Reyhan membayar pesanan yang sudah mereka santap. Rayhan menautkan jarinya pada jari Mentari agar semua orang tahu kalau dirinya dan Mentari adalah sepasang kekasih, ia tidak akan pria manapun menyentuh ataupun mendekatinya.


Mentari yang merasa malu dengan perlakuan Reyhan terhadapnya, ia melihat sekeliling selalu mengarah terhadapnya.


"Rey," bisik Mentari di telinga Reyhan.


"Apa?" tanya Reyhan yang melihatnya.


"Jangan kayak gini, malu di lihatin orang-orang," protes Mentari.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ngapain malu sih, kita tidak merugikan orang-orang kan, jadi abaikan saja orang mau berkata apa dan melakukan apa, yang penting aku mencintaimu...


__ADS_2