Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Curiga seorang ibu...


__ADS_3

Papanya yang kekeh ingin perjodohan ini berlanjut, Reyhan yang sudah menolaknya beberapa kali membuat Papanya marah.


"Kenapa kamu menolaknya, Rey? Apa alasannya!" tanya Papa Bagas.


"Reyhan sudah punya kekasih, Pah," sahut Reyhan yang memberi alasan agar Papanya tidak melanjutkan perjodohan ini.


"Siapa?"


"Mentari, Pah." jawab Reyhan dengan tegas.


"Anak siapa? Apa Papa mengenainya!" tanya Papa Bagas.


"Tidak, Pah. Mentari anak seorang--," ucap Reyhan yang berhenti mengucapkan sesuatu pada Papanya, takut Papanya tidak menyukai pilihannya.


"Dia anak dari pembantunya pak Ibrahim, Pah." sahut Mama Sarah yang datang tiba-tiba.


"Apa?" ucap Papa Bagas yang terkejut dengan ucapan istrinya barusan. Apa ia salah dengar atau hanya istrinya salah menyebut nama.


"Tapi dia baik, Pah. Dia gadis yang ceria dan cerdas ya kan Rey," ucapnya lagi.


"Jangan ngaco kamu, Rey. Papa gak salah dengar kan, kalau anak Papa berhubungan dengan anak seorang pembantu di rumahnya pak Ibrahim," tanya pak Bagas yang tegas pada anaknya.


Reyhan terdiam ia enggan untuk menjawab pertanyaan tentang gadis yang ia sayangi sampai sekarang.


"Jawab Papa, Rey. Yang di sebutkan oleh Mama mu itu tidak benar kan?" tanya papa Bagas sekali lagi dengan nada tegas.


"Benar, Pah. Reyhan sangat sayang pada Mentari," lirih Reyhan yang tertunduk ia takut dengan kemarahan Papanya.


"Kamu punya otak gak Rey, dia itu seorang anak pembantu sedangkan kita. Apa kata orang-orang ataupun rekan bisnis Papa kalau tau anak Papa satu-satunya berhubungan dengan anak seorang pembantu," oceh Papa Bagas yang memarahi anaknya.


"Tapi dia baik, Pah. Jangan menilai orang dari luarnya saja, apa hubungannya dengan pekerjaan Pah," sahut Reyhan yang tidak terima kalau Papanya menghina Mentari di hadapannya.


"Ya jelas ada, Rey. Dan Papa tidak terima dia menjadi bagian dari keluarga kita, Papa tetap akan melanjutkan perjodohan ini, setuju ataupun tidak." ucap Papa Bagas yang tegas dan tidak mau di ganggu gugat lagi keputusannya. Ia berlalu meninggalkan anak dan istrinya.


Reyhan terdiam, ia harus bagaimana untuk keluar dari

__ADS_1


masalah ini yang semakin rumit, belum satu yang ia selesaikan bersama Mentari, kini datang lagi masalah baru yang bikin pusing kepalanya. Reyhan melihat kearah Mamanya meminta bantuan agar sang Papa merestui hubungannya dengan Mentari, ia tidak sanggup untuk kehilangan cinta pertamanya dengan gadis yang selalu ceria itu.


"Mama akan berbicara dengan Papa mu, tapi Mama tidak menjanjikan sesuatu pada kamu akhir dari keputusan yang Papa buat, kamu sendiri tahu kan sipat keras kepala Papa kamu," ucap Mama Sarah yang menenangkan putra semata wayangnya.


Setelah mendengarkan nasehat Mamanya, Reyhan masuk ke dalam kamarnya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjangnya. Ia akan menelpon Mentari, semoga kali ini aktif dan bisa di hubungi. Dan dugaan benar, panggilannya tersambung, tapi belum ada jawaban dari nomor Mentari.


Ia terus menghubungi sampai beberapa kali, Reyhan tidak putus asa ia tetap akan berjuang dan mempertahankan cinta pertamanya dengan Mentari.


Belum ada jawaban, Reyhan pun mengetik pesan untuk Mentari agar mengangkat teleponnya.


[Sayang.. Angkat dong plis...] pesan Reyhan pada Mentari.


Centang dua, tapi belum di baca, apa ia harus datang ke rumah Vina untuk melihat langsung keadaan Mentari, apakah ia ada di rumah Vina atau tidak. Membuat cemas selalu mengkhawatirkannya.


Reyhan menyimpan ponselnya lagi di atas nakas dan merebahkan tubuhnya yang begitu lelah sepulang dari kampus mencari Mentari dan menanyakan pada teman dekatnya pun tidak ada yang tahu soal Mentari.


.


.


.


.


Keesokan paginya, Mentari bangun dari tidurnya ia akan membersihkan dirinya dan menghampiri ibunya yang akan menyiapkan sarapan untuk keluarga pak Ibrahim sekeluarga.


Mentari yang akan menghampiri ibunya berpapasan dengan Mama Lita, ia yang akan mengapa Mama Lita yang melewatinya di tegur lebih dulu olehnya.


"Jangan so akrab, kamu tuh hanya seorang anak pembantu dan harus tau diri, dan jangan melewati batas mengerti," ucap Mama Lita yang ketus dan meninggalkan Mentari begitu saja, membuat Mentari terhenyak dengan kata-kata Mama Lita barusan, ia tidak pernah mendengar ucapan Mama Lita seperti itu sejak kecil sampai sekarang, baru sekarang Mama Lita berucap kasar seperti ini.


Mentari terdiam, Mbak Marni membuyarkan lamunan Mentari yang bengong sendirian.


"Eh, si neng, pagi-pagi udah melamun, mikirin apa?" tanya Mbak Marni.


Mentari yang kaget melihat kearah Mbak Marni "Gak mikirin apa-apa, Mbak. Ibu dimana?" jawab Mentari yang mengalihkan pertanyaan Mbak Marni.

__ADS_1


"Di dapur neng, lagi masak," jawab Mbak Marni.


Mentari mengangguk dan meninggalkan Mbak Marni dan menghadapi ibunya yang ada di dapur.


"Ibu masak apa?" tanya Mentari seperti biasa yang menanyakan tentang hari-hari yang ibunya lakukan.


"Ibu masak pesanan Non Vina, ia ingin di buatkan sup ayam kampung," jawab Ibunya.


Mentari mengangguk paham, ia yang ingin membantu ibunya di cegah oleh ibunya.


"Ada apa, Bu?"


"Kamu belum siap-siap?" tanya ibunya yang heran dengan sang anak yang belum bersiap untuk pergi ke kampus.


"Kemana?" tanya Mentari balik.


"Ke kampus, Tari. Memang gak ada jadwal hari ini,"


Mentari menggelengkan kepalanya, ia akan berbohong dan bolos untuk hari ini, karena tidak mungkin ia masuk dengan keadaan seperti ini, ia ingin menghindari sosok yang selalu ada di dalam hatinya.


"Kamu sakit, Tari," ucap ibunya takut terjadi sesuatu pada sang anak.


"Gak, Bu. Tari baik-baik saja," jawab Mentari yang meyakinkan sang Ibu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Apa kamu ada masalah?


__ADS_2