
Di dalam perpus Mentari selalu di buntuti oleh Pria yang menurut Mentari sangat menyebalkan, ia yang begitu kesal ingin segera tiba di ruangan ini.
"Maunya apa sih ni cowok, bikin mood ku anjlok saja." batin Mentari.
Mentari mengambil buku di depannya dengan asal, ia yang sudah kesal hanya mengambil buku itu tanpa membaca. Setelah itu ia duduk di kursi, membaca buku yang ia bawa tadi.
Tapi Mentari tidak menyadari bahwa ia salah membawa buku, yang ia bawa adalah buku yang berjudul 'Cinta Sejati', Membuat Reyhan menengoknya sesaat.
"Tidak mau menerima cintaku, tapi, melihat buku itu." sindir Reyhan.
Mentari melihat buku yang ia bawa barusan, ia begitu syok, dan baru menyadarinya bahwa ia salah mengambil buku itu.
"Enak aja, aku cuma salah ambil saja. Gak usah ge'er ya," ucap Mentari yang bangun dari duduknya. Tapi, di tahan oleh Reyhan.
"Duduk, lanjutin aja bacanya. Semoga setelah itu kamu dapat merasakannya, apa itu cinta?" ucap Reyhan yang memegang tangan gadis di sampingnya.
"Apaan sih, jangan pegang-pegang." ucap Mentari yang mulai kesal lagi.
"Mangkanya duduk,"
Mentari hanya menurut, dari pada ia membuat keributan di dalam perpus mendingan ia mengalah, ingin rasanya Mentari mencakar muka Pria di hadapannya, tapi itu tidak mungkin ia lakukan, karena ini di ruangan umum.
Ia sudah tidak mood untuk membaca, hanya membolak-balikkan buku saja tanpa membacanya. Sikap Mentari membuat Reyhan terkekeh melihatnya.
"Bisa gak itu mata jangan melihat ke sini terus," pinta Mentari yang melirik ke arah Pria ini.
"Aku lagi memandang ciptaan Tuhan yang begitu sempurna," ucap Reyhan memandang wajah Mentari tanpa berkedip, memandang dari jarak dekat hanya sekitar beberapa senti saja.
__ADS_1
Mentari beranjak dari duduknya, ia tidak perduli dengan perkataan seorang Pria di hadapannya. Menyimpan buku tadi, lalu melangkah untuk keluar.
.
.
.
Di belakang kampus, Vina dan Rio sedang mengobrol hal yang serius, Vina ingin mengakhiri hubungannya dengan pacarnya Rio. Tidak ada angin tak ada hujan, Vina memutuskan sepihak tanpa ada masalah pun, membuat Rio bertanya-tanya kenapa dengan Vina?
"Apa salah ku, Vin. Hubungan kita baik-baik saja." tanya Rio.
"Kamu gak salah apa-apa, Rio. Memang hubungan kita cukup di sini saja, aku mulai merasa tidak nyaman dengan mu, lagi pula hubungan kita tidak di restui oleh kedua orang tuaku." jawab Vina.
"Kamu kan tidak mempermasalahkan itu kan, kita jalanin bersama-sama, kenapa kamu bahas lagi?"
"Aku tidak mau menyakiti kedua orang tuaku, Rio."
Perdebatan itu terus saja berlanjut, Rio yang tak terima dengan keputusan yang di buat oleh Vina. Membuatnya ingin mempertahankan cintanya yang begitu tulus padanya, ia memang bukan dari kalangan orang kaya, hanya seorang biasa. Orang tua Vina tidak merestui nya karena latar belakang kehidupan Rio yang sederhana.
Vina tidak memberitahukan kepada Rio, tentang alasan ia mengakhiri hubungan ini, karena Pria lain yang sudah berganti di hatinya. Yaitu Reyhan.
Pria yang membuat Vina bisa membuat keputusan tanpa memikirkannya, ia begitu jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan merasakan perasaan yang berbeda saat bersama dengan Pria itu, membuat Vina melangkah lebih jauh lagi tentang keputusannya.
Setelah Vina mengatakan itu, ia meninggalkan kekasihnya yang sekarang menjadi mantannya. Tidak mau berlama-lama dengan Rio, membuat Vina melangkah untuk mencari sahabatnya.
.
__ADS_1
.
.
Sesudah menyelesaikan segala urusannya, Vina segera masuk ke dalam kelas, sudah ada Mentari dan Pria yang mengalihkan perhatian terhadap kekasihnya Rio.
"Tar...," panggil Vina.
Mentari menoleh ke arah sahabatnya, ia bertanya-tanya sahabatnya dari mana? Setelah Tari mencari-carinya tidak menemukannya.
"Kamu dari mana, Vin?" tanya Mentari.
"Habis dari belakang kampus," ucap dengan jujur.
"Ngapain?" tanya Mentari lagi.
"Entar aku ceritain, kita fokus saja belajar, bentar lagi Dosan akan datang." jawab Vina, sesekali ia melirik ke Reyhan yang duduk santai.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
"Sungguh ciptaan Tuhan yang luar biasa" gumam Vina yang tak lepas melihat ke arah Reyhan.