Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)

Antara Cinta Dan Sahabat (Cinta Segi Tiga)
Mentari menghilang...


__ADS_3

Setelah mengobrol dengan ibunya Mentari mengurung diri di kamarnya, ia harus bagaimana? Apakah ia harus berhenti atau sebaliknya. Begitu sulit yang ia hadapi, memilih antara cinta dan sahabat. Ancaman sang ibu pun masih terbayang-bayang dari pikirannya, ibunya tidak main-main dalam pembahasan kemarin.


Hatinya gelisah, telpon dari Reyhan pun Mentari abaikan tanpa mengangkat ataupun membalas satu pesan pun. Ia biarkan dengan perasaan yang kacau.


.


.


.


Keesokan harinya, Mentari sudah bersiap untuk pergi ke kampus tanpa bersama Vina sahabatnya, ia tahu sahabatnya itu masih marah dan tidak mau berteman lagi dengannya.


Mentari hanya pasrah dan membuang napas berlahan, bagaimana cara agar masalah ini selesai tanpa ada perpisahan diantara ia dan Reyhan, cintanya begitu tulus terhadap Reyhan yang mencintainya tanpa memandang status perbedaan. Ia bersyukur telah cintai oleh pria yang begitu tulus mencintainya.


Sampai di kampus, Mentari memarkirkan motornya di tempat yang sudah di sediakan. Ia turun dan melangkah masuk tapi Reyhan menghalanginya dan mengajak untuk berbicara tentang kemarin yang mengabaikannya.


"Tar, kamu marah? Kenapa gak angkat telpon aku dan gak balas chat dari aku!" tanya Reyhan yang cemas dengan keadaan kekasihnya, ia tahu apa yang di rasakan olehnya setelah kejadian kemarin bersama Vina.


"Aku gak apa-apa, Rey," jawab Mentari yang ingin berlalu.


"Bentar dulu, Tar. Kita harus selesaikan masalah ini, jangan kayak gini," ucap Reyhan yang mencegah Mentari.


"Sebentar lagi masuk, Rey. Jangan cegah aku, kita bisa bicara habis ini," sahut Mentari, ia juga justru bingung mau dibawa kemana hubungan ini yang baru saja dimulai.


"Oke, aku tunggu, jangan pernah menghindar ataupun mencari alasan, aku tidak bisa seperti ini," ancam Reyhan yang berlalu meninggalkan Mentari yang mematung.


Mentari menitikkan air matanya, ia tidak sanggup untuk kehilangan cinta pertamanya, walaupun keadaan yang harus ia seperti ini.


Ia menyusul Reyhan yang sudah jauh dari pandangannya, ia menghapus air matanya dan menetralkan dirinya agar tidak ada yang curiga. Ia tersenyum dan menyapa beberapa teman kampusnya walaupun seorang orang menganggapnya adalah benalu dari kehidupan Vina dan keluarganya.


.


.


.


Kelas pun selesai, semua mahasiswa bubar dan meninggalkannya. Mentari duduk seorang diri tanpa di temani oleh sahabatnya Vina, ia memandang lurus dengan tatapan yang kosong.


Chiko datang dan mengagetkan dirinya yang bengong seorang diri.

__ADS_1


"Siang-siang gini, ngapain bengong, gak ke kantin?" tanya Chiko yang duduk di samping Mentari.


Mentari tidak menjawab, ia hanya melihat kearah Chiko dan membalikkan pandangannya seperti tadi, rasanya hidupnya hampa tanpa teman dan seseorang yang menemani disaat seperti ini, ia butuh sosok seorang memberikan pundaknya untuk ia bersandar mengeluh kesah tentang hidupnya yang penuh dengan tidak kesempurnaannya.


"Jangan bengong, Tar. Nanti mati penasaran, mau?" ucap Chiko yang menakuti-nakuti temannya.


Mentari tersenyum, pria di sebelahnya itu selalu bikin ia sedikit merasakan lebih tenang dan selalu menghiburnya di kala seperti ini.


"Enak saja, kamu saja sana," protes Mentari yang tidak terima dengan perkataan temannya.


.


.


.


Dari kejauhan, Reyhan melihat kekasihnya bersama seorang pria, ia cemburu. Segera menghampiri dan berdehem, keduanya menoleh dengan raut wajah yang berbeda.


Reyhan duduk ditengah-tengah keduanya, ia tidak mau kekasihnya didekati oleh siapapun termasuk pria di sebelahnya.


"Ya Allah, itu tempat masih luuaass, ngapain duduk di sini sih," protes Chiko yang tak terima.


Chiko kaget, ia tidak tahu tentang hubungan Mentari dan Reyhan yang sudah resmi pacaran, hatinya hancur saat mendengar langsung dari mulut pria di sebelahnya.


"Jangan asal, gak mungkin Mentari suka sama lu," ucap Chiko yang tidak percaya.


"Tanya saja sama Mentari, ya kan sayang?" tanya Reyhan melirik kearah Mentari.


Mentari tidak menjawab, ia menundukkan wajahnya, ia harus berkata apa dan menjawab apa, bayangan kata-kata ibunya selalu terngiang-ngiang di telinganya.


"Tuh kan, Mentari saja diam, jangan kepedean jadi orang," jawab Chiko yang merasa senang karena wanita di sebelahnya tidak menjawab apa-apa.


"Tar..," panggil Reyhan, ia tidak paham dengan kelakuan kekasihnya yang tidak mengakuinya sebagai kekasihnya.


"Iya, Chik. Reyhan adalah pacarku, kita sudah jadian kemarin, tapi--," ucap Mentari yang menghentikan ucapannya membuat kedua pria tersebut menautkan kedua alisnya tanda penasaran.


"Tapi apa, Tar?" tanya Chiko, ia mendengarnya begitu syok dengan pengakuan wanita yang selalu ia dekati sepanjang hari.


"Tapi, sekarang tidak, kita gak ada hubungan lagi, Rey. Lebih baik kita seperti ini hanya sebatas teman," lirih Mentari yang tidak kuat untuk mengucapkan kalimat tersebut, ingin rasanya Mentari menjerit sekuat tenaga dan bilang kalau ia juga sangat mencintainya, dan lebih dari sekedar itu. Tapi, ia harus tahu diri dengan statusnya hanya sebagai anak pembantu, dan harus menghargai keputusan ibunya.

__ADS_1


Reyhan kaget, ia menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan ucapan kekasihnya yang ia resmikan kemarin, baru saja ia akan memulai kisah cintanya bersama seorang wanita yang ia cintai. Tapi apa? Mentari mematahkan semangatnya lagi.


"Kamu bohong kan, Tar. Kita kemarin baru jadian, jangan bercanda, gak lucu, sayang." ucap Reyhan yang menggenggam tangan Mentari, ia tidak ingin mendengar ucapan itu dari mulut sang kekasih.


"Itu benar, Rey. Kita seharusnya menjadi teman bukan sebagai kekasih, kita jauh bagaikan langit dan bumi," balas Mentari yang menahan air matanya agar tidak turun.


"Jangan bercanda, aku tidak suka," sahut Reyhan lagi.


"Kita seharusnya menjadi teman, aku tidak akan membencimu walaupun kita tidak ada hubungan apapun," ucap Mentari yang meyakinkan Reyhan. Ia beranjak dari duduknya dan meninggalkan Reyhan bersama Chiko, hatinya sakit dan sesak saat mengatakan itu semua, ia tidak sanggup harus melihat kehancuran pria yang ia cintai tersebut.


Hati dan badannya lemas seketika, Reyhan duduk dengan wajah kacaunya, ia ingin mengejar Mentari tapi di tahan oleh Chiko.


"Biarkan Mentari tenang dulu, dari tadi juga Mentari seperti orang yang punya beban," cegah Chiko pada Reyhan yang ingin mengejarnya.


.


.


.


Di jam pelajaran kedua, Mentari tidak masuk. Membuat Reyhan khawatir dan cemas. Kemana kekasih itu? Reyhan pun tidak konsen saat dosen menerangkan materi pada muridnya.


Sore harinya, Reyhan berkeliling kampus untuk mencari keberadaan kekasihnya. Tapi nihil, semua orang tidak melihatnya, ia harus bagaimana untuk bisa menemukannya. Ia terus menghubungi nomor teleponnya tetap saja tidak ada jawaban, membuat ia semakin khawatir.


Setelah satu jam lebih, Reyhan mencarinya tapi ia tidak menemukan dan bertanya pada Vina, Vina menggelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Reyhan begitu saja tanpa peduli dengan keadaan sahabatnya.


.


.


.


.


.


.


Kamu kemana, sayang? Jangan buat aku cemas begini...

__ADS_1


__ADS_2